MuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Bantu Kembangkan Pertanian, Peternakan dan Perikanan di NTT

34
×

Muhammadiyah Bantu Kembangkan Pertanian, Peternakan dan Perikanan di NTT

Sebarkan artikel ini

Malang, panjimas – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat melaksanakan serangkaian kegiatan pembangunan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan tersebut berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober, dengan fokus pada bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Koordinator P3M Bidang Pertanian, Peternakan, dan Perikanan, Prof. Indah Prihartini menjelaskan, awalnya program hanya difokuskan pada sektor pertanian dan peternakan.

Namun, setelah mendapat masukan dari pemerintah daerah, perikanan juga dimasukkan sebagai bagian dari pendampingan karena adanya sejumlah persoalan yang perlu segera diatasi.

Salah satu fokus program ini ada pada Peternakan Sapi Potong, khususnya sapi bali. Menurut Indah, produktivitas sapi di NTT masih rendah. Apalagi dengan ketersediaan pakan yang terbatas dan masalah kesehatan hewan yang belum tertangani dengan baik.

“UMM mengajak tenaga-tenaga ahli di bidang pakan dan kesehatan hewan. Selain itu, kami juga melakukan manajemen pembibitan, karena saat ini proses reproduksi masih dilakukan secara kawin alam. Kami ingin menyeleksi bibit sapi potong yang produktivitasnya tinggi, sehingga ke depan dapat terbentuk pusat pembibitan sapi potong,” ujarnya seperti dikutip dalam siaran pers yang diterima redaksi pada Rabu (22/10).

Kemudian pada bidang pertanian, NTT memiliki potensi tanaman hortikultura, padi, dan jagung, dengan jagung sebagai komoditas dominan. Terdapat pula sentra beras di dua kecamatan di TTS serta berbagai wilayah yang menjadi sentra jagung.

Tanaman hortikultura umumnya ditanam di sekitar pemukiman warga. Permasalahan utama yang dihadapi adalah menurunnya kualitas tanah. UMM berencana memperbaiki sistem budidaya sekaligus meningkatkan kesuburan lahan. Salah satunya dengan melakukan pertanian secara organik.

“Kami kemarin sempat mengunjungi daerah Bonleu. Di sana, ketersediaan air sepanjang tahun berlimpah, tetapi masyarakat hanya menanam padi sekali setahun, dari Juni hingga Desember,” katanya

“Setelah kami amati, masalahnya bukan pada air, melainkan pada kondisi tanah yang kehilangan bahan organik karena debit air tinggi. Kami akhirnya membuat demplot untuk uji coba, apakah memungkinkan dilakukan tanam padi minimal dua kali dalam setahun,” terangnya.

Selain itu, UMM bersama Dinas Pertanian setempat telah berkolaborasi mengenai penanganan hama melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) serta rencana penerapan inovasi teknologi pertanian yang dihasilkan UMM. Pihaknya juga menyoroti produktivitas padi yang masih berkisar 4–5 ton per hektar, angka yang dinilai masih rendah.

Indah juga menegaskan bahwa tujuan akhir program ini adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan produksi dan pendapatan petani. Jika produksi padi, jagung, dan hortikultura meningkat, tentu pendapatan petani juga meningkat.

Dengan daya beli yang lebih baik, mereka akan lebih mudah mengakses pangan bergizi. Harapannya, hal ini dapat mengurangi angka stunting. Hal yang sama berlaku di bidang peternakan, di mana peningkatan produktivitas ternak akan mendukung peningkatan pendapatan dan akses gizi masyarakat.

Adapun program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat UMM di NTT diharapkan menjadi model kolaborasi antara universitas, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam upaya meningkatkan produktivitas sekaligus menurunkan angka stunting di wilayah tersebut.

Sebagai dukungan dari pemerintah daerah, Sekretaris Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten TTS Yehuda Tunliu menyampaikan apresiasi atas perhatian UMM terhadap pengembangan pertanian di wilayahnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *