Jakarta, panjimas – MUI menerima kunjungan Menteri Wakaf Suriah, Syaikh Muhammad Abu Khoiri Syukri beserta rombongan para ulama Syam di Kantor MUI Proklamasi Jakarta Pusat, Jakarta pada Kamis (30/10/2025).
Pertemuan ini membahas penguatan ukhuwah kalangan ulama dan penguatan wakaf antara kedua negara, Indonesia dan Suriah.
“Indonesia membutuhkan penguatan ukhuwah antara ulama dan umaro’ kedua negara. Tradisi keilmuan Syam adalah rujukan Islam dunia, dan hubungan ulama di Indonesia dengan Syam telah terjalin sejak lama,” kata Amirsyah Tambuan Sekjend MUI di Jakarta kepada media.
Buya Amirsyah juga mengatakan bahwa MUI adalah sebagai pusat tenda besar umat Islam bersama ulama yang emiliki tugas melayani umat (khodimul ummah) melalui program pendidikan ulama di seluruh Indonesia.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Prof.Dr.Sudarnoto Abdul Hakim, MA mengatakan keprihatinan yang terjadi di Suriah. Alhamdulillah dengan kerjasama ulama dan umaro’ di Suriah akan membawa maslahat bagi negara. MUI terus menerus melakukan pembelaan terhadap saudara kita di Gaza Pelestina sebagai bentuk tanggung jawab ulama melindungi umat (himayatul ummah).
Menteri Wakaf Suriah menyampaikan rasa terima kasih atas penyambutan hangat dari MUI dan masyarakat Indonesia. Ia mengapresiasi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar yang berhasil menjaga kedamaian, keberagaman, dan persatuan umat, ulama dan umaro’.
Syaikh Abu Khoiri menjelaskan, Suriah kini memasuki fase pembangunan kembali pasca situasi konflik yang panjang. Pemerintah dan ulama Suriah, lanjutnya, tengah membuka ruang kerjasama dengan berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk mengembangkan pendidikan Islam, riset keilmuan, dan penguatan ekonomi syariah di kalangan umat.
“Indonesia dikenal dengan akhlak. Suriah dikenal dengan kedalaman ilmu. Jika akhlak dan ilmu bertemu, maka dunia Islam akan mendapat manfaat besar, misalnya melalui persatuan ulama bersama umat, ujarnya.
Syaikh Abu Khairi menjelaskan pentingnya tolong menolong (ta’awun) antar negara Muslim dalam pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan, khususnya antara Indonesia dan Suriah. Menurutnya, energi besar kedua negara untuk bersinergi di bidang pendidikan agama, bahasa Arab, dan pengkaderan ulama akan membawa dampak luas, tidak hanya bagi kedua negara tetapi juga bagi dunia Islam secara global.
“Kita harus terus berkomunikasi, menjalin kerjasama dalam kebaikan antara ulama dan kedua negara sebagai sesama negara muslim, untuk menciptakan negara yang aman dan tentram, serta adil dan makmur, ” jelasnya.
Dalam pertemuan tersebut, salah satu Ulama, Muhammad Rajab Dieb juga menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan tazkiyatun nafs (pembinaan akhlak) sebagai fondasi pembentukan ulama sejati. Menurut mereka, keluasan ilmu tidak akan memberi manfaat tanpa kemurnian jiwa dan keteladanan moral.
“Ulama bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga pembawa cahaya dan teladan. Dengan begitu, ketika kita menyampaikan kebaikan agama akan mudah didengarkan”, tegas Muhammad Rajab Dieb.
“Setelah mendengar paparan para ulama Suriah, MUI menyampaikan peluang kerjasama strategis yang dapat dilakukan antara Indonesia dan Suriah seperti penguatan bahasa, ekonomi dan penguatan ukhwah,” pungkasnya.













