New York – Dalam sebuah momen yang mencetak sejarah bagi politik Amerika Serikat, Zohran Kwame Mamdani, seorang anggota legislatif negara bagian berusia 34 tahun dari Queens, malam Selasa (04/11) waktu setempat secara resmi terpilih sebagai Wali Kota New York City yang ke-111.
Kemenangan ini tidak hanya menjadikannya Muslim pertama yang memimpin kota terbesar di AS, tetapi juga politisi termuda dalam lebih dari satu abad yang menduduki kursi eksekutif tersebut.
Sebagai calon dari Partai Demokrat dan seorang demokrat sosialis, Mamdani berhasil mengalahkan dua rival berat: mantan Gubernur New York Andrew Cuomo yang maju sebagai calon independen, serta Curtis Sliwa dari Partai Republik.
Dilaporkan oleh sejumlah media terkemuka AS seperti The New York Times, CNN, NBC News, dan The Guardian, Mamdani meraih 50,3 persen dari total 88 persen suara yang telah dihitung hingga tengah malam waktu New York. Cuomo, yang sempat unggul dalam perebutan tiket nominasi Demokrat pada Juni lalu, terpukul telak dengan 41,6 persen suara, sementara Sliwa tertinggal jauh di posisi ketiga dengan hanya 7,2 persen.
Kemenangan ini menjadi bagian dari gelombang sukses Partai Demokrat di tingkat nasional, termasuk pemilihan gubernur di New Jersey dan Virginia yang juga dimenangi oleh kandidat partai tersebut.
Perjalanan Mamdani menuju kemenangan ini penuh liku dan dramatis. Lahir di Uganda dari keluarga imigran, ia tumbuh di New York dan memulai karir politik sebagai anggota Majelis Negara Bagian sejak 2020. Kampanyenya difokuskan pada isu-isu krusial bagi warga kelas pekerja, seperti pembekuan sewa apartemen berstabil harga, transportasi umum gratis, dan perawatan anak universal yang dibiayai melalui pajak bagi orang kaya.
Strategi pemasarannya yang inovatif – termasuk video media sosial yang viral dan interaksi langsung yang penuh karisma – berhasil memobilisasi ribuan sukarelawan, terutama pemilih muda di bawah 45 tahun, yang mendukungnya dengan selisih hingga 43 poin menurut jajak pendapat keluar NBC News.
Partisipasi pemilih mencapai rekor tertinggi sejak 1969, dengan lebih dari dua juta suara yang dicatat, didorong oleh pemungutan suara awal yang melonjak 65 persen dibandingkan pemilu 2021.
Sejumlah media konservatif di New York, seperti New York Post, secara terbuka menyerangnya atas identitasnya sebagai imigran Muslim, menuduhnya kurang berpengalaman dan terlalu radikal dalam retorika terkait Israel serta sosialisme. Trump sendiri menyerang Mamdani melalui Truth Social, menyebutnya “tidak mampu” dan mendesak pemilih untuk memilih Cuomo.
Dalam pidato kemenangannya di Brooklyn Paramount Theater, Mamdani berteriak penuh semangat: “Kalian telah berani meraih sesuatu yang lebih besar. Kita telah menumbangkan dinasti politik lama!” Ia berjanji untuk membangun kota yang “bekerja untuk semua orang,” dengan menekankan inklusivitas dan keadilan ekonomi
Reaksi positif datang dari berbagai belahan dunia, termasuk dari Indonesia. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad, menyambut kemenangan ini dengan penuh kegembiraan, melihatnya sebagai peluang emas untuk memperbaiki citra umat Islam di Barat.
“Sungguh menggembirakan. Saya ucapkan selamat bertugas, semoga sukses karena jika sukses membawa kemajuan akan merubah citra Muslim, dan kepercayaan rakyat di seluruh AS untuk tidak ragu memilih Muslim sebagai pimpinan di berbagai level,” ujar Dadang dalam pernyataannya kepada redaksi Muhammadiyah.or.id pada Rabu (05/11).
Lebih lanjut, Dadang menanggapi pertanyaan tentang makna di balik kemenangan ini – apakah ini pertanda kebangkitan atau peningkatan kepercayaan publik terhadap Islam? Menurutnya, kemenangan Mamdani mencerminkan sifat fungsional masyarakat Barat yang lebih menitikberatkan pada kemampuan individu daripada latar belakang agama.
“Kelihatannya Barat bersifat fungsional, individu tersebut bisa meyakinkan pemilih untuk memilih dirinya tanpa melihat latar belakang agamanya, sekaligus memanfaatkan sentimen negatif masyarakat terhadap Presiden Trump dalam hal ini juga Partai Republik,” jelas Dadang.
Pandangannya ini menegaskan bahwa sukses Mamdani lebih didorong oleh platform kebijakannya yang resonan dengan pemilih muda dan imigran baru, serta kelelahan publik terhadap politik establishment yang didukung Trump, ketimbang sekadar simbolisme agama.
Dengan Mamdani yang akan dilantik Januari 2026, mata dunia tertuju pada bagaimana ia akan menavigasi tantangan kota metropolitan seperti krisis perumahan, keamanan, dan ketidaksetaraan.
Bagi Muhammadiyah dan umat Muslim global, kemenangan ini menjadi inspirasi: bukti bahwa di tengah prasangka, visi inklusif dan kerja keras bisa membuka pintu kepemimpinan di panggung terbesar. Seperti kata Mamdani dalam kampanyenya, “Ini bukan tentang siapa kita, tapi apa yang bisa kita capai bersama
