MuhammadiyahNasionalNews

Cara Dakwah Muhammadiyah dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Implementasi Budaya

64

Makassar, panjimas – Budaya bagi Muhammadiyah tidak serta merta ditolak, tapi dipilah dan dipilih yang sesuai atau tidak bertentangan dengan ajaran Agama Islam.

Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto pada Senin (10/11) dalam Baitul Arqam (BA) Dosen dan Karyawan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Pandangan Muhammadiyah tentang budaya ini memiliki perbedaan dengan Salafi-Wahabi. Agung menjelaskan, Salafi mayoritas menolak budaya Barat maupun budaya lokal, tapi lebih mengacu pada budaya Arab.

“Padahal perintah membaca atau belajar itu bisa dari mana saja. Semua dipelajari, termasuk dari Barat. Akan tetapi harus dengan bismi rabbikal lazi khalak,” katanya.

Sementara dalam melihat budaya lokal, Muhammadiyah membaginya menjadi tiga yaitu budaya lokal yang bersumber dari Islam, budaya lokal yang bersesuaian dengan Islam, dan budaya lokal yang sama sekali tidak sesuai dengan Islam.

Jenis budaya yang ketiga ini dilakukan perbaikan – tidak kemudian langsung dakwah dilakukan secara konfrontatif. Sebab dakwah bagi Muhammadiyah harus mendahulukan rahmat, cinta, dan kasih.

“Salafi menolak budaya lokal, tapi lebih menerima budaya Barat seperti yang digambarkan hadis – dalam seluruh aspek kehidupan, tanpa ada inovasi,” ungkapnya.

Muhammadiyah juga memiliki kerangka yang berbeda dengan Salafi dalam penerapan konsep amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf oleh Muhammadiyah diterapkan secara individu dan kelembagaan.

“Tidak benar orang mengatakan amar ma’ruf itu lebih mudah dilakukan daripada nahi munkar. Memangkas membangun kampus Unismuh Makassar ini mudah, ibu-ibu ‘Aisyiyah mendirikan TK itu mudah?,” tutur Agung.

Sedangkan untuk dakwah nahi munkar, Muhammadiyah melakukannya dengan sistem. Seperti melakukan judicial review (JR) dan beberapa cara lain, termasuk menggandeng aparatur keamanan negara untuk memberantas kemaksiatan.

Exit mobile version