Yogyakarta, panjimas – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib, membuka kegiatan Training of Trainer (ToT) Kader PINTAR (Pionir Transisi Energi Indonesia Raya) di Balai PeMDes Kalasan, Yogyakarta, pada Selasa (11/11).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, sebuah inisiatif strategis untuk memperkuat peran sekolah dan pesantren Muhammadiyah dalam memperluas gerakan pendidikan hijau serta mendukung upaya nasional menuju Net Zero Emission tahun 2060 atau lebih cepat.
Irwan Akib menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi langkah nyata Muhammadiyah dalam memperkuat peran amal usaha pendidikan dan pesantren sebagai pionir dalam bidang transisi energi dan pelestarian lingkungan hidup.
“Krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan masa kini. Dalam konteks ini, transisi energi bukanlah pilihan, tetapi keharusan moral dan ekologis bagi kita semua,” ujar Irwan.
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah menempatkan diri sebagai mitra strategis bangsa dalam mengawal transisi energi berkeadilan. Melalui jaringan pendidikan, pesantren, dan rumah sakit, Muhammadiyah mengintegrasikan pendidikan lingkungan, aksi ekologis, dan nilai-nilai Islam berkemajuan sebagai bagian dari dakwahnya.
“Jika lebih dari 10.000 satuan pendidikan Muhammadiyah secara serentak mengembangkan praktik hemat energi dan pemanfaatan energi terbarukan, maka dampaknya akan sangat besar bagi upaya nasional mengurangi emisi dan membangun kesadaran ekologis lintas generasi,” tambahnya.
Melalui kegiatan ToT Kader PINTAR ini, Muhammadiyah ingin melahirkan pelatih dan penggerak energi bersih yang memahami efisiensi energi, penghitungan jejak karbon, serta penerapan sistem energi terbarukan di sekolah dan pesantren. Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini juga menanamkan etos dakwah lingkungan, yaitu panggilan iman untuk menjaga bumi sebagai amanah Allah SWT.
Irwan mengutip firman Allah dalam QS. Al-A’raf ayat 56:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
Menurutnya, menjaga bumi adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab sebagai khalifah fil-ardh — pemimpin yang memakmurkan dan melestarikan alam.
“Guru sebagai garda terdepan tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam menjaga lingkungan. Mereka diharapkan menjadi pionir perubahan menuju energi bersih, berkeadilan, dan berkelanjutan,” jelas Irwan.
Di akhir Irwan mengajak seluruh peserta ToT untuk menjadikan kegiatan ini sebagai momentum kebangkitan kader ekologis Muhammadiyah.
“Sebagaimana tema Milad Muhammadiyah ke-113, Memajukan Kesejahteraan Bangsa, marilah kita tidak mengutuk kegelapan, tetapi menyalakan cahaya. Menjadi cahaya bagi sekolah, pesantren, dan masyarakat di sekitar kita — cahaya yang memberi arah, harapan, dan keberlanjutan bagi bumi pertiwi,” tutupnya
