MuhammadiyahNasionalNews

‘Aisyiyah Resmikan SPPG Kasihan Bantul, Perkuat Gerakan Makan Bergizi Gratis

57
×

‘Aisyiyah Resmikan SPPG Kasihan Bantul, Perkuat Gerakan Makan Bergizi Gratis

Sebarkan artikel ini

Bantul, panjimas — Gerakan nasional penyediaan makan bergizi gratis yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto sejak awal 2025 semakin mendapat dukungan luas dari berbagai elemen masyarakat.

Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi yang paling awal terlibat, ditandai dengan pembentukan Koordinator Nasional Makan Bergizi Muhammadiyah (Kornas MBM) dan pendirian lebih dari 150 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

Pada Kamis (13/11), ‘Aisyiyah meresmikan SPPG Aisyiyah Kasihan, Bantul, yang berdiri di bawah kerja sama ‘Aisyiyah, Kornas Makan Bergizi Muhammadiyah, serta Yayasan Hati Ikhlas Indonesia.

SPPG ‘Aisyiyah di Kasihan memiliki kapasitas layanan 1.009 porsi makan bergizi gratis per hari, dan sejak mulai operasional pada Senin, 10 November 2025, telah melayani sekolah-sekolah dari jenjang PAUD, TK, SD, MTs, SMK hingga SLB di wilayah Kecamatan Kasihan. Beberapa bulan ke depan porsi makannya akan terus bertambah.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah ormas pertama yang menandatangani MoU dengan Badan Gizi Nasional (BGN), bertepatan dengan penyelenggaraan Tanwir Muhammadiyah di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Ia menyampaikan apresiasi besar kepada Arsjad Rasjid dan Yayasan Hati Ikhlas Indonesia atas kelapangan hati dalam mendukung pendirian SPPG.

“Semua ini lahir dari energi ikhlas ibunda almarhumah. Mudah-mudahan Allah menganugerahi beliau Jannatun Na‘im,” tutur Haedar.

Haedar menekankan bahwa keterlibatan Muhammadiyah dalam program makan bergizi tidak hanya soal dapur dan distribusi, tetapi menyangkut masa depan generasi bangsa.

Ia mengutip data bahwa kualitas gizi yang rendah berdampak pada kondisi fisik, psikologis, hingga perkembangan intelektual anak Indonesia. “Temuan menunjukkan indeks IQ anak Indonesia masih di angka 78,59. Ini menunjukkan ekosistem sosial kita. Maka kesehatan dan gizi adalah pilar penting agar tidak lahir generasi yang lemah.”

Terkait dinamika di lapangan, Haedar menyampaikan bahwa Muhammadiyah tidak ingin terjebak dalam polemik kebijakan. “Kalau kita punya cara lebih baik, kita beri masukan. Muhammadiyah tidak mengoreksi dengan retorika, tetapi dengan perbuatan. Dengan berbuat, kita punya posisi moral.”

Ia juga menekankan bahwa program ini penting bagi pemberdayaan UMKM, dakwah pemberian alternatif (ad-dakwah al-muwājahah), serta implementasi teologi Al-Ma’un. “Tidak ada yang instan—yang instan hanya mi instan. Muhammadiyah biasa jatuh bangun. Itulah mentalitas yang dibutuhkan bangsa ini.”

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Hati Ikhlas Indonesia Arsjad Rasjid menyampaikan rasa syukur dan kehormatannya dapat mendukung pembangunan SPPG ini. Ia menuturkan bahwa yayasan tersebut didirikan bersama almarhumah ibundanya, yang selalu menekankan pentingnya membantu dengan hati yang ikhlas.

“Pemikirannya adalah, kalau kita ingin memberikan sesuatu harus dengan hati yang ikhlas. Maka kami membuat Yayasan Hati Ikhlas Indonesia. Setiap kali saya mengingat ibunda saya, inilah bagian dari itu,” ujar Arsjad.

Arsjad juga menceritakan kunjungannya ke sebuah sekolah di daerah Minggir, Sleman, tempat SPPG Muhammadiyah lainnya telah lebih dulu berdiri. Ia melihat langsung kebahagiaan para siswa saat menikmati makan siang bergizi.

“Mukanya cerah, makan dengan lahap, dan mengatakan ‘enak, Pak’. Itulah yang kita inginkan: kebahagiaan dan kesehatan anak-anak. Kalau tidak sehat, bagaimana mereka bisa belajar?”

Selain berdampak pada anak, Arsjad menegaskan bahwa program ini ikut menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari pemasok ayam, beras, hingga UMKM kuliner.

Penanggungjawab SPPG ‘Aisyiyah Kasihan, Yuli Isnaeni, menyampaikan bahwa hadirnya SPPG ini merupakan hasil ta’awun, gotong royong, dan keikhlasan banyak pihak.

Ia menyampaikan terima kasih kepada: Arsjad Rasjid selaku pembina Yayasan Hati Ikhlas Indonesia, Kornas Makan Bergizi Muhammadiyah, Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, UNISA Yogyakarta, Tim pembangunan dan relawan.

SPPG Aisyiyah Kasihan telah mulai melayani 1.009 siswa, dan bila memasuki fase penuh akan melayani hingga 2.500 siswa.

“Semoga ini menjadi langkah awal membangun budaya makan sehat di sekolah, sekaligus menginspirasi wilayah ‘Aisyiyah lainnya.” Ia menegaskan harapannya agar SPPG Kasihan menjadi pusat inovasi dan kolaborasi layanan gizi berbasis komunitas.

Setelah sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti. Acara dilanjutkan dengan foto bersama, kemudian prosesi pengguntingan pita yang menandai beroperasinya SPPG ‘Aisyiyah 1 Kasihan.

Para tamu undangan kemudian meninjau seluruh fasilitas, mulai dari ruang penerimaan barang, gudang basah-kering, ruang persiapan, dapur produksi dengan enam kompor high pressure, hingga area pencucian yang dipisahkan untuk bahan daging dan sayur. Standar higienitas, IPAL, grease trap, serta alur satu pintu diperkenalkan sebagai bagian dari sistem kendali mutu pangan.

Dengan diguntingnya pita secara simbolis, SPPG Aisyiyah Kasihan resmi beroperasi sebagai bagian dari komitmen Muhammadiyah–‘Aisyiyah dalam membangun generasi sehat, kuat, dan cerdas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *