Jakarta, panjimas – Sebelum memberikan ceramah, kegiatan malam usai salat Isya’ tersebut diawali dengan pembacaan Deklarasi Pelajar Cinta Masjid dan Quran.
Mengawali ceramahnya, Abdul Mu’ti langsung mengapresiasi terselenggaranya kegiatan LPCRPM ini, termasuk apresiasi pada Masjid Al-Jihad. “Al-Jihad adalah contoh masjid yang makmur dan memakmurkan,” ucapnya.
Pada CRM Award sebelumnya, Mendikdasmen juga hadir dalam forum yang sama ketika diselenggarakan di Palembang tahun lalu. Oleh karena itu, Mas Menteri juga mengingatkan agar kerja sama dengan LPCRPM untuk pengembangan layanan pendidikan di daerah 3T segera terealisasi. “Layanan pendidikan ini penting guna memastikan kelahiran generasi yang maju,” pesannya.
Terkait Masjid, Abdul Mu’ti menyayangkan banyaknya masjid-masjid tua, baik bangunannya maupun jamaahnya. “Ini harus diubah,” tegasnya.
Misalnya, merubah masjid menjadi ramah difabel dengan tempat wudhu duduk, menyediakan kacamata baca, kursi dan sandaran untuk jamaah senior, wifi, kafe, dan sebagainya.
Mengapa itu semua perlu dilakukan? Tanya Mas Menteri. Berdasarkan hasil penelitian, ketaatan beribadah generasi Z dan Alpha tidak mengalami penurunan. Mereka menganggap agama penting, walaupun hanya 60% dari generasi muda ini yang percaya agama. Namun, agama mereka sangat individual dan jauh dari sosial.
Abdul Mu’ti menyebut fenomena ini sebagai degenerasi diniyah, atau keterputusan keagamaan. Generasi ini memiliki mental yang rapuh akibat terpapar internet atau era digital.
Dalam November ini, Abdul Mu’ti menyebutkan ada 6 kasus siswa bunuh diri karena tidak dekat dengan agama. Generasi yang mudah cemas akibat terlalu banyak terpapar perundungan media sosial. “Ini menjadi masalah serius,” paparnya.
Jika fenomena ini dibiarkan, bisa seperti yang terjadi di Eropa, di mana masyarakat barat hari ini kehilangan Tuhan. Gereja-gereja mulai kosong dan dijadikan tempat wisata, bahkan sebagian mulai dijual dan beralih fungsi menjadi masjid.
Kalau di Indonesia, Mendikdasmen melanjutkan, fenomena ini sesuai apa yang telah ditulis oleh Kuntowij goodoyo dalam buku “Muslim Tanpa Masjid.” “Mereka pandai membaca dan menulis Quran, tetapi tidak lagi ke masjid, tidak lagi belajar kepada ustaz dan kiai, malah belajar dari internet,” terangnya.
“Sebagian belajar agama cukup dari guru di sekolah atau guru privat. Secara agama menjadi muslim yang taat, tetapi tercerabut dari akar-akar sosialnya,” imbuh Mas Menteri.
Generasi yang taat ini, lanjut Abdul Mu’ti, mudah tertular paham lain yang berbeda dengan orang tuanya.













