MuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Memajukan Kesejahteraan Bangsa

49
×

Muhammadiyah Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Sebarkan artikel ini

Mohammad Nur Rianto Al Arif
(Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur)

Sejak berdiri pada 18 November 1912 di Kampung Kauman, Yogyakarta, Muhammadiyah telah menapaki perjalanan panjang lebih dari satu abad dalam kiprahnya membangun umat dan bangsa.

Dari sebuah gerakan dakwah pembaruan Islam yang sederhana, Muhammadiyah tumbuh menjadi kekuatan sosial keagamaan yang besar dan berpengaruh luas, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam modern.

Tema milad ke-113 Muhammadiyah, “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, menggema sebagai penegasan bahwa dakwah Islam berkemajuan bukan hanya menyangkut ranah akidah dan ibadah, tetapi juga perjuangan sosial-ekonomi untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan.

Di tengah kondisi bangsa yang masih berjuang melawan ketimpangan sosial, kemiskinan, dan tantangan globalisasi ekonomi, semangat ini terasa amat relevan.
Muhammadiyah tidak pernah memosisikan diri sekadar organisasi keagamaan yang mengurus ritual keislaman.

Sejak awal, ia telah bertekad menjadi gerakan pencerahan yaitu gerakan tajdid yang menebar manfaat bagi kehidupan umat dan bangsa. Sejarah mencatat, dari rahim Muhammadiyah lahir sekolah-sekolah modern, rumah sakit Islam, panti asuhan, lembaga sosial, hingga perguruan tinggi unggulan yang berperan besar membentuk sumber daya manusia Indonesia yang beriman, berilmu, dan berdaya saing.

Kini, di usia ke-113 tahun, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana Muhammadiyah melanjutkan peran historisnya dalam memajukan kesejahteraan bangsa di era digital, di tengah dinamika politik-ekonomi global, serta tantangan moral dan spiritual umat Islam Indonesia?

Gerakan Muhammadiyah lahir dari keprihatinan KH Ahmad Dahlan terhadap kondisi umat Islam di awal abad ke-20 yang tertinggal dalam pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Dalam pandangan beliau, Islam bukanlah agama yang membelenggu, melainkan agama yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan.

Dengan prinsip kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, KH Ahmad Dahlan membangun sistem pendidikan Islam modern yang menyeimbangkan ilmu agama dan ilmu umum — sesuatu yang sangat revolusioner pada masa itu. Sekolah Muhammadiyah menjadi pionir integrasi ilmu, menghapus dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum.

Lebih dari itu, KH Ahmad Dahlan menanamkan nilai amal shaleh sosial sebagai perwujudan iman.

Ajaran “Al-Ma’un” yang menginspirasi berdirinya lembaga-lembaga sosial Muhammadiyah merupakan fondasi ideologis bahwa kesejahteraan umat adalah bagian integral dari dakwah Islam. Surah Al-Ma’un mengajarkan bahwa iman sejati tidak hanya diukur dari ibadah, tetapi juga dari kepedulian terhadap yatim dan fakir miskin.

Dari sinilah semangat Islam Berkemajuan tumbuh. Islam yang tidak berhenti pada tataran doktrinal, tetapi hadir sebagai kekuatan pembebas, pemberdaya, dan memajukan. Dalam konteks ini, memajukan kesejahteraan bangsa adalah bentuk nyata dakwah amar ma’ruf nahi munkar dalam ranah sosial-ekonomi.

Pendidikan adalah kunci kesejahteraan. Muhammadiyah memahami bahwa bangsa yang maju berawal dari manusia yang cerdas dan berakhlak. Sejak berdiri, organisasi ini menjadikan pendidikan sebagai poros utama dakwahnya.

Kini, ribuan sekolah dan madrasah Muhammadiyah, ratusan perguruan tinggi, serta ratusan pesantren modern tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Dari TK hingga universitas, dari lembaga kejuruan hingga sekolah tinggi kedokteran, Muhammadiyah menjadi pelopor pendidikan berkualitas berbasis nilai-nilai Islam.

Pendidikan Muhammadiyah bukan hanya melahirkan sarjana, tetapi juga kader bangsa yang berjiwa sosial dan berorientasi kemaslahatan. Kurikulumnya dirancang untuk menanamkan nilai integritas, kerja keras, dan kepedulian sosial. Kondisi yang kini semakin langka di tengah arus materialisme global.

Namun, Muhammadiyah tidak berhenti pada pendidikan formal. Gerakan literasi, riset, dan inovasi terus dikembangkan. Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mendorong perguruan tinggi menjadi pusat riset kebijakan publik dan ekonomi kerakyatan.

Semua itu diarahkan untuk memperkuat daya saing bangsa sekaligus meneguhkan kontribusi Muhammadiyah dalam membangun kesejahteraan sosial.
Kesejahteraan bangsa tidak akan terwujud tanpa kesehatan masyarakat yang baik. Sejak awal, Muhammadiyah menyadari pentingnya aspek ini.

Melalui Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU), Muhammadiyah telah membangun ratusan rumah sakit dan klinik di seluruh Indonesia menjadikannya salah satu penyelenggara layanan kesehatan terbesar di tanah air.

Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta, yang berdiri sejak 1923, menjadi simbol pelayanan kesehatan Islami yang profesional. Di masa pandemi COVID-19, jaringan rumah sakit Muhammadiyah-Aisyiyah bahkan menjadi garda depan dalam penanganan pasien, distribusi oksigen, hingga vaksinasi nasional.

Nilai yang membedakan pelayanan kesehatan Muhammadiyah adalah spirit dakwah sosialnya. Rumah sakit bukan semata tempat bisnis, melainkan ladang amal dan pengabdian.

Dalam konteks ini, kesejahteraan tidak hanya dimaknai sebagai kondisi ekonomi, tetapi juga kesejahteraan holistik yang meliputi kesehatan fisik, mental, dan spiritual.

Melalui jaringan Aisyiyah, perempuan Muhammadiyah turut mengambil peran penting dalam layanan sosial dan kesehatan masyarakat. Dari gerakan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) hingga Posyandu, mereka berkontribusi besar mengurangi angka kematian ibu dan bayi, serta meningkatkan kesadaran gizi keluarga.

Salah satu tantangan besar bangsa Indonesia adalah kesenjangan ekonomi. Muhammadiyah membaca situasi ini dengan jeli. Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan ini semakin meneguhkan fokus pada bidang ekonomi umat sebagai jalan memajukan kesejahteraan.

Jika pada masa awal dakwah Muhammadiyah menekankan pendidikan dan sosial, kini bidang ekonomi menjadi arus baru dakwah kemanusiaan.

Melalui Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu), gerakan filantropi Islam dihidupkan dengan manajemen profesional. Lazismu tidak sekadar menyalurkan bantuan, tetapi mengubah paradigma dari karititas menuju pemberdayaan.
Selain itu, Muhammadiyah juga mendorong penguatan ekonomi syariah dan koperasi umat.

Melalui Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan dan Lembaga Pengembangan UMKM (LP-UMKM) Muhammadiyah telah mendorongpembentukan jaringan saudagar Muhammadiyah dan Serikat Usaha Muhammadiyah sebagai wadah pengusaha di Muhammadiyah. Selain itu, Muhammadiyah pun mengembangkan ekosistem bisnis berbasis nilai Islam dari unit usaha di pesantren, koperasi, hingga BMT (Baitul Maal wat Tamwil).

Dalam masyarakat yang kini dihadapkan pada krisis moral, polarisasi sosial, dan disrupsi digital, Muhammadiyah menjadi jangkar nilai dan akhlak.

Melalui Majelis Tabligh, lembaga dakwah komunitas, hingga kegiatan di masjid-masjid, Muhammadiyah meneguhkan Islam sebagai agama yang menggembirakan (Islam yang rahmatan lil alamin), bukan yang menakutkan.

Muhammadiyah memahami bahwa bangsa yang sejahtera bukan hanya bangsa yang kaya secara material, tetapi juga damai secara spiritual dan sosial. Karena itu, dakwah Muhammadiyah tidak eksklusif melainkan memayungi semua, tanpa sekat ideologi dan golongan.

Dalam wacana keislaman, Muhammadiyah dikenal dengan konsep Islam Berkemajuan. Konsep ini bukan slogan, tetapi paradigma epistemik yang melandasi seluruh gerakan Muhammadiyah.

Islam Berkemajuan menegaskan bahwa ajaran Islam kompatibel dengan modernitas, ilmu pengetahuan, dan kemajuan sosial. Islam bukan penghambat kemajuan, tetapi pendorong transformasi sosial.
Di usia 113 tahun, Muhammadiyah menghadapi tantangan baru.

Dunia sedang mengalami transformasi besar: ekonomi digital, perubahan iklim, dan ketimpangan sosial yang melebar. Pertanyaannya: bagaimana Muhammadiyah menjaga relevansi dakwahnya di era digital ini?

Pertama, transformasi digital organisasi menjadi keniscayaan. Muhammadiyah perlu memperkuat infrastruktur digital dalam pendidikan, dakwah, dan ekonomi.

Muhammadiyah perlu menghadirkan ekosistem digital yang memberdayakan umat.
Kedua, ekonomi hijau dan keberlanjutan sosial harus menjadi fokus baru. Kesejahteraan bangsa masa depan bergantung pada kemampuan mengelola sumber daya alam dengan adil dan lestari. Muhammadiyah dengan basis moral dan sosialnya dapat menjadi pelopor eco-dakwah, menggabungkan teologi lingkungan dengan gerakan sosial-ekonomi hijau.

Ketiga, penguatan kolaborasi nasional dan global. Muhammadiyah perlu terus bermitra dengan pemerintah, sektor swasta, dan lembaga internasional untuk memperluas dampak sosial. Di sinilah prinsip fastabiqul khairat bekerja dalam konteks modern: berlomba dalam kebaikan dengan semangat kolaboratif.
Muhammadiyah telah membuktikan diri sebagai gerakan Islam yang tidak berhenti pada retorika.

Muhammadiyah bekerja dalam diam, menebar manfaat dengan tindakan nyata. Dalam setiap sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan kampus Muhammadiyah, berdenyut spirit Al-Ma’un yang menggerakkan tangan-tangan ikhlas untuk memajukan kesejahteraan bangsa.

Memasuki abad kedua pergerakannya, Muhammadiyah ditantang untuk terus menjadi pelita pencerahan menjadi gerakan yang melampaui zaman. Dalam dunia yang berubah cepat, Muhammadiyah dituntut tidak hanya mempertahankan warisan, tetapi juga berinovasi untuk menghadirkan Islam yang solutif, memberdayakan, dan berkemajuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *