MuhammadiyahNasionalNews

Peringati Milad Muhammadiyah, Komunitas Jaki Mu DIY Tuntaskan Jalan 113 Km bersama Komunitas Penyintas Stroke

35
×

Peringati Milad Muhammadiyah, Komunitas Jaki Mu DIY Tuntaskan Jalan 113 Km bersama Komunitas Penyintas Stroke

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, panjimas – Usia Muhammadiyah sudah genap 113 tahun. Banyak cara dilakukan warga Muhammadiyah untuk memperingati Milad tersebut. Salah satu yang unik, adalah aksi jalan kaki sejauh 113 km yang dilakukan komunitas Jalan Kaki Muhammadiyah (Jaki Mu) DIY, bersama Komunitas Penyintas Stroke.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Komunitas, Lembaga Pengembangan Olahraga, MPKS, LAZISMU PWM DIY, LBSO PWA DIY, Pandu Hisbul Wathan Wreda DIY.

Diketahui, pada Milad sebelumnya, komunitas jalan kaki ini pernah menyelesaikan total perjalanan 112 km selama sembilan etape. Tahun ini, giliran mereka melangkah dengan total 113 km.

Ketua PWM DIY, Ikhwan Ahada yang juga ikut dalam aksi jalan kaki ini, berharap Komunitas Jaki Mu ini bisa terus berkembang, menyebar dan menjadi budaya baru bagi warga Persyarikatan untuk gemar berjalan kaki supaya terjaga kesehatannya.

Puncak etapet sendiri, dimulai dari Kampus UMY menuju Masjid Jogokariyan dan berakhir di Masjid Islamic Center UAD Yogyakarta tepat pada tanggal 18 November 2025.

Jalan kaki dimulai, bertepatan pada Hari Pahlawan pada 10 November 2025 lalu. Kemudian, mereka menuntaskannya tepat saat hari Milad jatuh pada 18 November 2025.

Aksi jalan kaki ini menarik perhatian banyak pihak. Bagaimana tidak, sejauh 113 km itu, penyintas stroke dan HW Wreda yang usianya paling senior 85 tahun masih bisa finis.

Adalah AR Iskandar, salah satu Strokers sejak beberapa tahun lalu yang menjadi inisiator gerakan aksi jalan kaki ini. Tujuannya, bukan hanya simbolis, untuk menebar pesan bahwa kesehatan itu hal yang penting.

Dirinya menginisiasi harapan bagi para penyintas stroke untuk tetap semangat mendapatkan kesehatan kembali dengan salah satunya adalah berjalan kaki. Selama sembilan etape, ia terus ikut berjalan, meski kadang harus dibantu dengan mobil yang siap mengiringi. Didampingi sang istri, Latifah Iskandar yang juga salah satu Pimpinan Pusat ’Aisyiyah, serta kedua putranya.

Dari HW Wreda ada pula Mbah Burhan. Usianya sudah 78 tahun. Selama sembilan etape, ia mengikuti setiap harinya rata-rata menempuh jarak 13-14 km.

Selain Mbah Burhan, ada pula Mbah Atmaji. Usianya lebih tua, yakni 85 tahun. Ia yang dahulu anggota Kwarpus HW itu, masih semangat mengikuti sampai 4 etape.

Tak tanggung-tanggung, mbah Atmaji menyelesaikan etape terberat, etape tujuh dari SD Muhammadiyah Al Falah Girisubo – Kampung Wotawati – sampai finis di Pantai Sadeng Gunung Kidul. Sebuah jalur yang kondisi alamnya menuruni lembah dan menanjak tinggi menuju pantai Sadeng.

Melihat hal ini, Ketua Lembaga Pengembangan Olahraga PWM DIY Bapak Edi Prajaka juga menyampaikan harapannya. “Semoga, aksi ini menjadi komunitas resmi Jaki Mu, dan nantinya di tahun 2027 bisa menjadi gerakan nasional dalam rangka ikut meramaikan gelaran Muktamar Muhammadiyah di Medan,” jelasnya.

Sementara itu, Staff PP Muhammadiyah sekaligus Panitia penyelenggara Jaki Mu, Ananto Isworo menyebut ini adalah bagian dari gerakan dakwah. Dikatakannya, tema aksi jalan kaki 113 km ini adalah menapak jejak juang, merawat ukhuwah, menebar dakwah.

“Aksi jalan kaki 113 KM ini menjadi bagian dari pendekatan dakwah Muhammadiyah berbasis komunitas,” tegasnya.

Jakimu, lanjutnya. “Juga mempunyai tagline, melangkah bersama dakwah Muhammadiyah,” imbuh Ananto.

Oleh karenanya, setiap etape dirancang untuk melewati jalur yang ada amal usaha Muhammadiyah dengan melibatkan PCM/PCA setempat sekaligus mendengar kisah jejang juang Muhammadiyah di sana. Selain itu, aksi juga melibatkan AUM pendidikan maupun kesehatan, serta PCM/PCA, baik untuk start nya maupun untuk finish per etapenya.

Buktinya, salah seorang peserta mengisahkan betapa terharunya ketika sampai di finish SD Muhammadiyah Tegallayang Pandak Barat. Selama perjalanan, ia harus diguyur hujan sehingga menggunakan mantel plastik tipis.

Akan tetapi, sesampainya di lokasi finis, rasa lelah dan berat itu hilang setelah mendengar penjelasan bahwa SD Muhammadiyah Tegallayang sudah berusia 100 tahun. Ia takjub saat mendengar bahwa PCM Pandak adalah PCM pertama di dunia yang SK pendiriannya ditandatangani langsung oleh KH Ahmad Dahlan.

Seorang peserta itu semakin kagum ketika shalat Jumat di Masjid dekat SD Muhammadiyah Tegallayang. Pasalnya, masjid itu adalah masjid yang dulu digunakan sebagai pusat komando pasukan Askar Perang Sabil (APS) Bantul yang dibentuk oleh para ulama Muhammadiyah untuk membantu TNI mempertahankan kemerdekaan.

Komunitas jalan kaki Muhammadiyah ini harus menjadi gerakan nasional. Ini adalah pesan Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latif saat menyambut Peserta Si Rojaki (Aksi Heroik Jalan Kaki) 113 KM di kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jalan Cik Ditiro pada etape pertama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *