MuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah di Pulau Sumatera, Denyut Milad ke-113 dari Misi Kemanusiaan hingga Mewujudkan Kesejahteraan

38

Jakarta, panjimas — Di berbagai kota, dari ujung Lampung hingga pegunungan Solok, rangkaian kegiatan Milad ke-113 Muhammadiyah tidak muncul sebagai seremoni semata, tetapi terhubung dalam satu denyut: memajukan kesejahteraan bangsa.

Semuanya hadir dalam wujud yang konkret—layanan kesehatan, gerakan lingkungan, semarak karnaval budaya, filantropi, hingga peneguhan kembali aset wakaf sebagai modal kemajuan umat. Sumatera, dengan keragaman sosial dan religiusnya, menjadi cermin betapa jejak panjang Muhammadiyah tetap relevan dan hidup.

Di Kota Metro, Lampung, Milad ke-113 bermula dengan sentuhan kemanusiaan yang sangat dekat dengan ritme urban hari ini: perhatian kepada para pekerja transportasi daring. Dalam kolaborasi erat antara Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Metro dan LazisMu, program Peduli Ojol digelar di SMK Muhammadiyah 3 Metro.

Hari itu, sebanyak 113 pengemudi ojek online dari berbagai aplikasi berkumpul bukan untuk bekerja, tetapi menerima layanan kesehatan gratis. IDI menurunkan 12 dokter, termasuk spesialis penyakit dalam, memastikan para pengemudi yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas warga mendapatkan hak dasar berupa layanan kesehatan.

Ketua LazisMu Kota Metro, H. Bekti Satriadi, menegaskan bahwa perhatian ini merupakan bentuk nyata dari semangat sosial Muhammadiyah. Di sisi lain, Ketua IDI Kota Metro, dr. Apriyanto, menilai sinergi bersama LazisMu sebagai pengejawantahan Tri Dharma IDI: pengabdian kepada masyarakat. Ia juga menyinggung hubungan panjang Muhammadiyah dengan dunia kesehatan, dari klinik hingga jaringan rumah sakit yang menjadi rumah bagi banyak tenaga medis IDI.

Di tengah percakapan tentang profesionalisme, pelayanan, dan keberlanjutan, kegiatan ini berdiri sebagai perayaan Milad yang bersifat simbolis sekaligus menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat pekerja.

Masih di Metro, rona Milad berubah menjadi lebih meriah ketika ribuan warga tumpah ruah dalam Karnaval Akbar Milad ke-113 Muhammadiyah di Lapangan Rejomulyo pada Jumat pagi, 31 Oktober 2025. Sekitar 3.500 peserta—dari anak TK berseragam lucu hingga para lansia bersenyum cerah—mengubah lapangan menjadi galeri seni berjalan.

Replika Ka’bah mini, patung unta, kostum pejuang, hingga karya kreatif lainnya menjadi visualisasi hidup tentang bagaimana keluarga besar Muhammadiyah membangun kebanggaan kolektif yang inklusif.

Kehadiran para tokoh—PWM Lampung, PDM Kota Metro, Camat Metro Selatan, Dinas Sosial, PCM-PCA, pimpinan AUM, hingga para donatur—menyempurnakan suasana hangat ini. Ketua PCM Bantul Metro Selatan, Mushonif Socheh, membuka kegiatan dengan penekanan bahwa karnaval bukan sekadar pawai, melainkan bagian dari da‘wah bil hal.

Pemerintah setempat melalui Camat Kuswidaryanto dan Kepala Dinas Sosial AC Yuliwati memberikan apresiasi mendalam, menegaskan harmonisasi antara pemerintah dan Muhammadiyah dalam membangun Metro yang lebih sejahtera.

Ketua PWM Lampung, Prof. Sudarman, melepas peserta dengan yel-yel khas yang menggugah kegembiraan kolektif. Dari Metro Selatan, terpantul satu pesan: di usia 113 tahun, Muhammadiyah tetap hadir sebagai ruang kebersamaan dan optimisme publik.

Tidak jauh dari sana, di Muara Aman, semangat filantropi menjadi denyut utama. Kantor Layanan LAZISMU PCM Muara Aman menggelar program “Sedekah BerasMu”, menghadirkan gagasan bahwa Milad adalah momentum berbagi. Sebanyak 113 karung beras terkumpul—selaras dengan angka Milad—dari para donatur dan warga persyarikatan.

Ketua layanan, Ustaz Sulaiman, menegaskan bahwa program ini berfungsi sebagai jembatan kebaikan agar manfaat benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan. Beras-beras ini kemudian disalurkan ke ranting-ranting Muhammadiyah di wilayah tersebut, menghadirkan wujud sederhana namun kuat tentang bagaimana filantropi Muhammadiyah terus tumbuh dari bawah.

Masih di Kabupaten Lebong, semangat sosial itu hadir pula dalam kegiatan donor darah yang digelar MPKU PDM Lebong di Masjid Al Jihad Muhammadiyah. Bekerja sama dengan PMI serta Telkomsel, kegiatan ini menghadirkan warga dengan antusiasme tinggi.

Wakil Bupati Lebong, Bambang ASB, yang membuka acara, menegaskan bahwa sinergi pemerintah dan Muhammadiyah merupakan aset penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ketua PDM Lebong, H. Zulkifli Kamek, menyampaikan bahwa donor darah merupakan bagian dari rangkaian Milad yang berpuncak pada Tabligh Akbar bersama Ketua PP Muhammadiyah, Dahlan Rais. Di Lebong, kepedulian sosial hadir sebagai konsistensi gerakan.

Di Metro Selatan, persiapan Milad bahkan melibatkan lintas iman. PRM dan Takmir Masjid Muttaqin Rejomulyo menggelar rapat persiapan untuk Karnaval, Bakti Sosial, hingga Kajian Dhuha. Majelis Pustaka dan Informasi Kota Metro melaporkan bahwa kegiatan akan melibatkan Kesatuan Gereja Metro Selatan, memperlihatkan bahwa harmoni sosial merupakan bagian integral dari wajah Muhammadiyah hari ini.

Ketua Panitia, Harbi Gemeli Putra, menegaskan bahwa Milad harus menjadi sarana mempererat persatuan lintas umat. Momentum ini menjadi langka sekaligus penting: di sebuah kota kecil, persaudaraan lintas agama dirayakan dalam semangat Milad melalui kegiatan konkret bersama masyarakat.

Denyut terbesar dari Sumatera dalam Milad kali ini muncul dari ranah dakwah lingkungan. Di Bengkulu, Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah menggelar Green Awareness Movement, meliputi pelatihan kader lingkungan selama tiga hari serta penanaman 1.000 pohon, termasuk mangrove dan tanaman produktif di lahan milik Muhammadiyah.

Ketua MLH PP Muhammadiyah, Azrul Tanjung, memproyeksikan lingkungan sebagai ladang ekonomi hijau. Dari energi terbarukan hingga pengolahan limbah menjadi produk bernilai, ia mengajak warga Muhammadiyah membaca ulang potensi lingkungan sebagai peluang ekonomi berkelanjutan.

Dukungan dari Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas, Ketua PWM Bengkulu Fazrul Hamidi, hingga Rektor UMB memperlihatkan bahwa gerakan hijau Muhammadiyah berada dalam jalur strategis dakwah jangka panjang.

Di bagian barat Sumatera, Kabupaten Solok menghadirkan bab lain dari perjalanan Milad: penguatan aset wakaf. Pada Ahad, 16 November 2025, sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Cupak Islamic Boarding School (CIBS): penyerahan sertifikat tanah wakaf seluas tiga hektare dari Ikatan Keluarga Cupak kepada Muhammadiyah.

Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf PP Muhammadiyah, Dr. Amirsyah Tambunan, menyampaikan pesan tegas bahwa wakaf adalah amanah ilahi yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Tanah ini direncanakan menjadi pusat pendidikan Muhammadiyah di Cupak—buah dari dukungan perantau, tokoh adat, dan warga setempat. Dari Solok, gema wakaf ini menjadi penanda bahwa Milad juga merupakan momentum memperkuat fondasi masa depan persyarikatan.

Dari layanan kesehatan hingga dakwah lingkungan, dari sedekah beras hingga pembangunan pusat pendidikan, dari karnaval budaya hingga kolaborasi lintas iman—Milad ke-113 Muhammadiyah di Sumatera menghadirkan potret gerakan yang hidup di tengah masyarakat. Ini bukan ritual tahunan, bukan pula seremoni belaka, melainkan rangkaian tindakan yang menjawab kebutuhan zaman.

Sumatera, dengan segala riuh dan tenangnya, kembali menunjukkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan yang tidak berhenti berbuat, tidak berhenti memajukan, tidak berhenti mencerahkan. Di usia ke-113, langkah itu tetap panjang dan kuat—melangkah bersama umat, bekerja untuk bangsa.

Exit mobile version