Cilacap, panjimas — Gagasan bahwa kemajuan bangsa bermula dari ranting menjadi pesan utama dalam materi yang disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Jaya Putra.
Budi menyampaikan hal tersebut dalam peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah Tingkat Kecamatan Jeruklegi di Cilacap pada Ahad (23/11). Ia menegaskan bahwa perubahan besar selalu berakar dari unit sosial terkecil yang hidup dan bergerak, bukan dari struktur besar yang megah.
Menurut Budi, ranting adalah fondasi yang menyiapkan karakter warga, membangun solidaritas sosial, dan melahirkan kader yang kelak memimpin masyarakat. Sebuah bangsa tidak tiba-tiba besar. Ia tumbuh dari keluarga, RT/RW, desa, hingga organisasi tingkat ranting. Jika akar kuat, pohonnya akan tegak.
Prinsip ini Budi kaitkan dengan QS. Ar-Ra’d ayat 11 tentang perubahan yang dimulai dari diri dan komunitas kecil. Dalam konteks Muhammadiyah, ranting menjadi ruang pembinaan, dakwah, dan pemberdayaan yang menentukan vitalitas gerakan di tingkat nasional.
Budi menambahkan bahwa kerja ranting memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. QS. Al-Mā’idah ayat 2 memerintahkan umat untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan, sementara hadis “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” menjadi pedoman agar ranting memberi kontribusi nyata bagi lingkungannya.
Ranting yang hidup, katanya, adalah ranting yang membina, mengajar, menolong, dan mencerahkan masyarakat.
Budi juga menawarkan langkah-langkah praktis agar ranting tetap maju: menghidupkan budaya pengajian dan pendidikan, menggerakkan kegiatan sosial seperti santunan dan bakti lingkungan, memperkuat kaderisasi pemuda, membangun kolaborasi dengan masjid, sekolah, UMKM, dan pemerintah, serta memanfaatkan teknologi sebagai alat dakwah dan komunikasi.
Konsistensi dalam hal-hal sederhana tetapi berkelanjutan, menurutnya, akan melahirkan kekuatan besar bagi persyarikatan.
Kegiatan Milad ke-113 Muhammadiyah Tingkat Kecamatan Jeruklegi di Cilacap ini dihadiri warga persyarikatan dari berbagai ranting. Budi menutup dengan penegasan bahwa kemajuan Indonesia sangat bergantung pada hidupnya ranting Muhammadiyah.
Jika ranting menggerakkan dakwah, kecamatan hidup; jika kecamatan hidup, kabupaten maju; jika kabupaten maju, provinsi tumbuh—dan Indonesia akan menjadi negeri berkemajuan.
