KemenagNasionalNews

Tutup Festival Majelis Taklim, Wamenag: Di Indonesia, Eskpresi Keberagamaan Jadi Jembatan Kebersamaan

37
×

Tutup Festival Majelis Taklim, Wamenag: Di Indonesia, Eskpresi Keberagamaan Jadi Jembatan Kebersamaan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas —  Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i mengajak umat untuk bersyukur atas nikmat keberagaman dan kerukunan Indonesia. Pesan ini disampaikan Wamenag saat menutup Festival Majelis Taklim 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (26/11/25).

Menurutnya, Indonesia memiliki keragaman budaya, suku, etnis, dan agama yang unik serta mampu tumbuh menjadi kekuatan persatuan melalui ekspresi keberagamaan yang khas. Ia mencontohkan tradisi halal bihalal, peringatan maulid, hingga tadarus Al-Qur’an yang menjadi ruang alami masyarakat untuk bertemu dan mempererat ikatan sosial.

“Di banyak negara tradisi seperti ini tidak ditemukan. Di Indonesia, ekspresi keagamaan justru menjadi jembatan kebersamaan,” ujar Wamenag.

Majelis Taklim, kata Wamenag, selama ini juga berperan penting sebagai ruang memperkuat harmoni umat, merawat kebersamaan, dan menjadi wadah pembelajaran agama yang tumbuh dari akar budaya masyarakat Indonesia. Majelis taklim berkontribusi besar dalam memelihara kohesi sosial. Selain menjadi ruang belajar agama, majelis taklim juga menghidupkan semangat gotong-royong serta menjadi tempat masyarakat saling menyapa dan memperkuat hubungan antarsesama.

“Ini adalah kekuatan yang tidak bisa dikapitalisasi. Majelis taklim ada karena kebutuhan masyarakat, dan diterima di hati jemaahnya,” ungkapnya.

Wamenag kemudian membagikan pengalaman personalnya. Ia tumbuh dalam keluarga yang aktif membina majelis taklim; ibunya mengajar kasidah, barzanji, dan tilawah. Dari pengalaman itu, ia melihat betapa besarnya peran ibu-ibu Majelis Taklim dalam menjaga ketahanan keluarga dan ruang sosial. “Pendukung saya di dunia politik juga banyak berasal dari majelis taklim. Mereka saudara kandung saya,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa majelis taklim bukan hanya ruang religi, tetapi juga tempat aktualisasi diri. Banyak jemaah yang membawa hasil kerajinan, berdiskusi tentang keseharian, hingga saling memberi dukungan emosional. Menurut Wamenag, fungsi-fungsi sosial ini sangat penting dan menunjukkan bahwa majelis taklim adalah pilar yang menguatkan umat, terutama perempuan.

Wamenag juga mengapresiasi Pokja Majelis Taklim yang terus melakukan penguatan kelembagaan, termasuk penyusunan Direktori dan Ensiklopedia Majelis Taklim Nasional sebagai upaya memetakan potensi dan kebutuhan pembinaan. Ia berharap tradisi festival seperti ini menjadi agenda berkelanjutan dalam merawat literasi keagamaan masyarakat. “Kita berdoa kualitas pembinaan majelis taklim semakin baik dan semakin berdampak bagi masyarakat dan bangsa,” ujarnya.

Ia berharap momentum festival ini memperkuat keteduhan, persatuan, dan kualitas layanan keagamaan di seluruh wilayah. “Silakan kembali ke daerah masing-masing dengan membawa semangat persaudaraan dan kebersamaan,” pesan Wamenag.

Plt. Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, panitia, dan mitra yang memastikan Festival Majelis Taklim 2025 berjalan lancar dan penuh semangat kolaborasi. Ia menyebut bahwa majelis taklim adalah ruang strategis pembinaan keagamaan berbasis masyarakat yang memiliki dampak luas pada ketahanan keluarga dan sosial.

Zayadi mengingatkan bahwa dua tahun lalu, di tempat yang sama, Pokja Majelis Taklim dibentuk sebagai wadah koordinasi pembinaan. Ia menyebut Pokja berkembang menjadi rumah besar yang merangkul berbagai unsur masyarakat, dan hari ini dapat menggelar festival dengan kualitas yang membanggakan. “Ini ruang yang mempertemukan berbagai gagasan, pengalaman, dan inovasi dari majelis taklim seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ia menegaskan komitmen Ditjen Bimas Islam untuk terus mendampingi, memfasilitasi, dan menyediakan ruang penguatan kapasitas bagi majelis taklim. Menurutnya, penyusunan Direktori dan Ensiklopedia Majelis Taklim Nasional yang diinisiasi Pokja merupakan langkah penting untuk menghadirkan data dan ekosistem pembinaan yang lebih terukur. “Kebijakan pembinaan harus ditopang data yang valid. Kita ingin memastikan semua majelis taklim mendapat layanan yang optimal,” jelasnya.

Zayadi berharap Festival Majelis Taklim dapat menjadi tradisi baik yang mendorong kreativitas jemaah, memperkuat solidaritas, serta menghadirkan narasi-narasi sejuk tentang keberagamaan di ruang publik. “Semoga tahun depan kualitas pelaksanaannya semakin baik dan semakin meneguhkan majelis taklim sebagai pusat pembinaan umat,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *