Uncategorized

Muhammadiyah Gelar Seminar Internasional “Membangun Generasi Emas Indonesia 2045 : Kokohkan Spiritualitas Kuncinya

99
×

Muhammadiyah Gelar Seminar Internasional “Membangun Generasi Emas Indonesia 2045 : Kokohkan Spiritualitas Kuncinya

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Persoalan terbesar yang dihadapi generasi penerus bangsa Indonesia adalah kerapuhan spiritualitas. Sebab tuntutan besar untuk maju di urusan-urusan material harus diimbangi dengan kemantapan jiwa. Jangan kuat di urusan materi, namun lemah spiritualitasnya.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal pada Kamis (27/11) dalam Seminar Internasional “Membangun Generasi Emas Indonesia 2045” di Jakarta.

Fathurrahman memandang, jika generasi masa depan tidak memiliki keseimbangan antara aspek spiritualitas dan material, dikhawatirkan akan menjadi generasi dengan kepribadian yang terbelah.

Persoalan kedua yang perlu diselesaikan adalah adanya dualisme dalam pendidikan Indonesia. Dikotomi pendidikan agama dan umum. Dosen UMY ini berharap, urusan pendidikan di Indonesia berada di bawah satu kementerian saja.

“Saya pikir Indonesia perlu mengambil paradigma yang tauhidi – yang integralistik, bahwa ketika orang berbicara Tuhan dia berbicara manusia. Ketika orang berbicara surga dia juga sekaligus berbicara dunia. Bahwa akhirat bukan sesuatu yang sifatnya imajiner tapi akhirat adalah sesuatu yang bisa dibumikan secara nyata dalam kemaslahatan publik dan individual,” katanya.

Selain itu, dunia pendidikan Indonesia juga masih berkutat pada masalah ketimpangan paradigma. Dia memandang Indonesia saat ini menghadapi the lost of worldview – dunia pendidikan Indonesia mengalami keterputusan dalam melihat Tuhan, manusia, dan alam.

“Kita mengalami apa yang disebut proses sekularisasi yang luar biasa….. Kita mengalami dikotomi ini semuanya, sehingga paradigma berpikir – termasuk guru-guru kita itu tidak melahirkan manusia yang utuh,” imbuhnya.

Ketimpangan paradigma di dunia pendidikan, katanya, akan melahirkan pemimpin yang minim kesadaran atau bahkan tidak memiliki kesadaran adab – dalam menempatkan diri, Tuhan, dan alam. Sehingga tidak memiliki kasih sayang ke rakyat.

Dampak lain dari ketimpangan paradigma ini menurutnya adalah produk teknologi yang alih-alih memberikan kemaslahatan justru menjadi boomerang. Sebab teknologi mendestruksi kehidupan alam semesta yang seharusnya dikonservasi malah dirusak.

Melihat Generasi Emas tahun 2045, Fathurrahman berharap anak-anak Indonesia selain terampil dan produktif, juga memiliki kepedulian sosial. Kepedulian sosial ini menjadi penting di tengah situasi menguatnya individualisme dan materialisme yang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *