MuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Disaster Management Center : Bantuan Kebencanaan Harus Berbasis Hak Penyintas

85
×

Muhammadiyah Disaster Management Center : Bantuan Kebencanaan Harus Berbasis Hak Penyintas

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, panjimas – Ketika terjadi bencana, seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat umum tergerak untuk membantu. Sehingga tak jarang semua barang yang dianggap layak pakai didonasikan untuk penyintas bencana.

Alih-alih memberikan donasi pakaian layak pakai, justru kesempatan berdonasi digunakan untuk bersih-bersih lemari. Oleh karena itu, bantuan yang dikirim ke lokasi bencana baiknya berbasis pada hak dan kebutuhan penyintas.

Hal itu disampaikan Dewan Pakar Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Rahmawati Husein.

Dalam siniar yang disiarkan Muhammadiyah Channel pada (2/12) itu, Rahmawati Husein menjelaskan, semangat berperan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia ini harus dikelola sebab memiliki dampak ke para penyintas.

Dia mengajak para donatur, atau siapapun yang memiliki perhatian terhadap isu kebencanaan untuk tetap menggunakan perspektif gender, supaya donasi bantuan yang disalurkan bisa dimanfaatkan oleh semua penyintas, termasuk perempuan.

Menceritakan pengalamannya ketika menjadi relawan Muhammadiyah untuk bencana Tsunami Aceh, Rahmawati menemukan, karena diabaikannya perspektif gender bantuan yang disalurkan hanya untuk laki-laki saja. Sementara itu, kebutuhan perempuan terabaikan.

“Belajar kebencanaan itu kita memperbaiki terus menerus, apa saja yang dibutuhkan termasuk kebutuhan perempuan. Tidak hanya pembalut, pakaian dalam, bahkan kerudung itu jadi masalah,” katanya.

Menolong para penyintas, katanya, selain dengan strategi juga harus berbasis hak – hak yang terdampak. “Jangan berbasis kita membersihkan lemari, karena ada pakaian pantas pakai dibersihkan gitu ya,” imbuhnya.

Setelah kenyang pengalaman menggalang donasi pakaian pantas pakai, namun kenyataan berkata lain – pakaian yang diterima banyak yang rusak, Muhammadiyah kemudian tidak lagi melakukan penggalangan pakaian layak pakai.

“Karena rata-rata orang memberikan pakaian pantas pakai itu tidak pantas dipakai lagi. Ada yang resletingnya rusak, kancingnya tidak ada, sudah lusuh, sobek. Mereka tidak ngecek yang penting membersihkan lemari,” ungkap Amma.

Pakaian pantas pakai menurutnya lebih baik diuangkan untuk membeli kebutuhan pokok yang mendesak sesuai dengan kebutuhan penyintas. Rahmawati Husein juga menggarisbawahi, bahwa kebutuhan pokok itu bukan mie instan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *