Pada tahun 1950 Bung Hatta berkunjung ke Tanah Karo Sumatera Utara. Di depan masyarakat daerah tersebut Bung Hatta mengatakan kalau di zaman penjajahan nasib kita boleh diumpamakan seperti ayam yang mati kelaparan di dalam lumbung padi atau seperti bebek atau itik yang mati kehausan di dalam kolam air.
Tapi kini kita sudah merdeka. Oleh karena itu, tentu saja di negeri ini tidak boleh lagi ada orang yang fakir dan miskin atau tidak terpenuhi kebutuhan pokoknya karena kita kata Bung Hatta sudah mempunyai kekuasaan untuk mengatur negara kita supaya kekayaan dari negara kita ini sebagian besar tinggal di negara kita sendiri.
Oleh sebab itu karena kita tidak mau selamanya menjadi rakyat yang hidupnya melarat maka kita ingin yang akan menikmati kemakmuran itu tidak hanya dua tiga atau segelintir orang saja tetapi harus bisa dinikmati oleh seluruh rakyatnya kata bung Hatta.
Apakah itu hari ini sudah tercapai ? Ternyata belum, karena masih banyak anak-anak bangsa di negeri ini yang hidup dalam kemiskinan. Ini terlihat dari data yang diterbitkan oleh BPS pada bulan Maret tahun 2025 dimana jumlah orang miskin di negeri ini masih ada sekitar 23,85 juta jiwa, atau 8,47% dari total populasi.
Keadaan ini tentu saja sangat kita sesalkan. Oleh karena itu kata Bung Hatta kita harus membangun, menyusun, memperbaiki ekonomi kita menyempurnakan sumber alam untuk menyempurnakan dasar kemakmuran rakyat.
Untuk itu saya bersama Bung karno kata Bung Hatta ingin supaya hubungan antara rakyat dan pemerintah dapat saling berdekatan karena menurut Hatta negara akan kuat kalau pemerintahnya dipercayai oleh rakyat dan rakyat akan makmur kalau pemerintahnya mencintai rakyatnya.
Jadi adanya pertalian batin yang kuat antara rakyat dan pemimpinnya kata Bung Hatta jelas menjadi sesuatu yang sangat penting. Kini setelah 80 tahun kita merdeka dan setelah lebih 75 tahun kata-kata itu terucap dan diucapkan oleh Bung Hatta tampaknya masalah-masalah masih banyak menghiasi kehidupan masyarakat dan bangsa kita.
Dan kata-kata serta pesan-pesan dan pandangan-pandangandaru Bung Hatta tersebut tampak masih sangat relevan untuk kita angkat dan camkan baik-baik bagi kita jadikan dasar dan sumber motivasi dalam memberantas kemiskinan dan bagi mensejahterakan seluruh rakyat di negeri ini tanpa kecuali.
Untuk itu supaya kita bisa membangun tali batin yang baik antara rakyat dengan para pemimpinnya seperti dikatakan Bung Hatta maka kehadiran pemerintah yang dicintai oleh rakyatnya jelas sangat diperlukan karena cita-cita rakyat untuk bisa hidup makmur, sejahtera dan bahagia hanya akan dapat terwujud kalau kita punya pemerintah yang betul-betul mencintai rakyatnya. Apakah itu sudah kita miliki saat ini ?
Mari kita cari jawabannya di Morowali dan di bencana banjir bandang yang baru saja melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang merupakan bagian dari negeri ini.
Anwar Abbas
Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan
Ketua PP Muhammadiyah









