BeritaCitizenNasionalNewsOpini

Jurnalisme Islam dan Panggilan Menjadi Muazin Peradaban

6
×

Jurnalisme Islam dan Panggilan Menjadi Muazin Peradaban

Sebarkan artikel ini

 

Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir | Cendekiawan Muslim

 

DI TENGAH derasnya arus algoritma, viralitas, dan persaingan klik, jurnalisme perlahan kehilangan ruhnya. Berita tidak lagi dipandang sebagai amanah untuk menyampaikan kebenaran, melainkan komoditas yang diperjualbelikan demi trafik, popularitas, dan kepentingan pemilik modal. Dalam situasi seperti itu, gagasan tentang “jurnalisme Islam sebagai muazin peradaban” menjadi relevan sekaligus menggugah.

Muazin bukan sekadar orang yang mengumandangkan azan.

 

Dalam makna yang lebih dalam, muazin adalah penyeru kepada kebenaran. Ia memanggil manusia menuju keselamatan, persatuan, dan penghambaan kepada Allah. Ketika konsep ini dibawa ke dunia jurnalistik, maka seorang jurnalis Muslim sejatinya bukan hanya pencari berita, melainkan penjaga nurani publik.

 

Spirit itu tergambar dari kisah Nabi Ibrahim AS dalam Surah Al-Hajj ayat 27: “Wa adzdzin fin-nasi bil hajj” — serulah manusia untuk berhaji. Ibrahim menyeru dari lembah tandus, tanpa jaminan manusia akan mendengar panggilannya. Namun keyakinannya bukan pada kekuatan dirinya, melainkan pada pertolongan Allah. Dari titik inilah lahir pelajaran besar bagi media Islam: jangan takut memulai dari kecil, jangan minder dengan keterbatasan, selama yang diperjuangkan adalah kebenaran.

Sayangnya, media hari ini justru sering terjebak mendewakan algoritma.

 

Ukuran keberhasilan direduksi menjadi angka penonton, trending topic, dan viralitas. Fenomena “orang gigit anjing lebih laku daripada anjing gigit orang” menjadi simbol bagaimana sensasi lebih diprioritaskan dibanding substansi. Padahal media semestinya menjadi “media azan”: menyeru masyarakat kepada kesadaran, keadilan, dan keberanian moral.

 

Ketika berita berubah menjadi komoditas, maka yang hilang pertama kali adalah nurani. Jurnalisme tidak lagi menjadi alat mencerdaskan umat, tetapi instrumen menggiring opini, memperuncing konflik, bahkan memperdagangkan keburukan sesama manusia. Dalam kondisi ini, kritik terhadap media bukan sekadar soal profesionalisme, tetapi juga soal spiritualitas. Karena itu, integritas jurnalis tidak cukup dibangun hanya dengan keterampilan menulis atau kemampuan investigasi.

 

Ada dimensi ruhani yang tidak boleh diabaikan. Seorang jurnalis yang jauh dari disiplin ibadah, kehilangan kepekaan batin, dan terbiasa lalai terhadap salat berjamaah, dikhawatirkan kehilangan kejernihan nurani dalam melihat realitas. Pesan ini memang terdengar keras, tetapi mengandung peringatan penting: kualitas tulisan sering kali lahir dari kualitas jiwa penulisnya.

 

Dari sini, ada empat prinsip penting yang layak menjadi fondasi jurnalisme Islam.

 

Pertama, menjadikan kebenaran sebagai kiblat editorial. Media tidak boleh tunduk pada tekanan modal, kepentingan politik, atau fanatisme kelompok. Ketika media hanya menjadi corong kepentingan, umat kehilangan penimbang yang adil. Jurnalisme Islam harus berdiri sebagai penjernih, bukan pemecah belah.

 

Kedua, menjadikan keadilan sebagai ruh framing berita. Fakta tidak boleh dipelintir demi menyerang lawan atau membangun kebencian. Perbedaan pandangan tidak boleh berubah menjadi permusuhan yang dipelihara melalui media. Dalam Islam, bahkan konflik pun diarahkan menuju ishlah dan musyawarah, bukan saling menghancurkan karakter.

 

Ketiga, menjaga kesucian bahasa. Bahasa jurnalistik bukan sekadar alat informasi, tetapi alat pembentuk kesadaran publik. Kalimat dapat menyelamatkan martabat manusia, tetapi juga bisa membunuh kehormatannya. Di era digital, ketika fitnah dan penghakiman massa begitu mudah menyebar, media dituntut lebih berhati-hati dalam memilih kata dan sudut pandang.

 

Keempat, kesiapan berkorban secara profesional. Ada berita benar yang tidak menguntungkan. Ada sikap adil yang tidak populer. Ada keberpihakan pada kebenaran yang membuat akses dan keuntungan hilang. Namun justru di situlah makna pengorbanan seorang jurnalis diuji. Ego, ketakutan, kerakusan, dan ambisi harus “disembelih” demi menjaga amanah profesi.

 

Pada akhirnya, jurnalisme Islam bukan sekadar identitas media berlabel syariah atau dipenuhi simbol keagamaan. Esensinya terletak pada keberanian menyeru kepada kebenaran seperti azan yang memanggil manusia menuju keselamatan. Media yang membawa semangat itu mungkin tidak selalu viral, tetapi akan tetap dicari karena menghadirkan kejujuran dan ketulusan.

 

Di tengah dunia yang bising oleh propaganda dan sensasi, umat membutuhkan lebih banyak muazin peradaban — jurnalis yang tidak sekadar menulis untuk dibaca, tetapi menulis untuk menyelamatkan kesadaran manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *