MuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Minta Pemerintah Jangan Dengarkan Sisi Pengusaha Saja, Deforestasi Picu Banjir Sumatera

72

Jakarta, panjimas — Ketua Bidang Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, mengatakan banjir dan longsor yang melanda Pulau Sumatera disebabkan oleh hutan gundul (deforestasi) dan perkebunan kelapa sawit.

Buya Anwar mengatakan pemerintah harus mendengarkan saran dari ahli lingkungan hidup, ahli tata ruang, dan ahli lainnya jika ingin membuat perkebunan sawit dan meminimalisir risiko banjir. Sebab, banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat karena pemerintah mengabaikan saran mereka.

“Pemerintah jangan hanya mendengar suara dan kepentingan dari pihak pengusaha saja tapi juga harus mendengarkan saran dari para ahli lingkungan hidup,” kata Buya Anwar Abbas dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 10 Desember 2025.

Buys Anwar menjelaskan bagaimana hutan lebat berfungsi sebagai penahan terjadinya banjir apabila terjadi hujan deras. Hutan akan menyerap dan menahan air hujan dan mengurangi aliran air permukaan, sehingga dapat mengurangi jumlah air yang mengalir ke sungai yang akan menyebabkan banjir.

“Hutan yang lebat akan dapat mengurangi erosi tanah dan longsor sehingga bila terjadi hujan deras, air yang mengalir ke sungai tidak terlalu banyak lumpurnya,” ujar Anwar.

Menurut Anwar, hutan lebat dapat menahan air hujan melalui beberapa cara. Pertama, intersepsi atau saat air hujan yang turun ditahan oleh daun dan cabang dari pohon. Kedua adalah infiltrasi, yakni air hujan akan diserap oleh pohon ke dalam tanah. Ketiga melalui proses perkolasi, yakni hutan akan dapat mengatur proses aliran air ke dalam tanah, sehingga hutan lebat akan mengatur pergerakan air yang ada secara efektif sehingga bisa mengurangi resiko banjir.

“Berbeda halnya jika hutan tersebut telah ditebang dan menjadi gundul karena tidak ada lagi pohon yang akan berfungsi menyerap dan menahan air,” ujar Anwar. “Sehingga air hujan yang deras akan langsung mengalir ke sungai sehingga menyebabkan banjir.”

Hutan gundul yang mengeras akan kehilangan kemampuannya menyerap dan menahan air hujan. Akibatnya, air tidak lagi meresap ke dalam tanah sehingga langsung mengalir ke sungai dan banjir. Di samping itu, kata Anwar, hutan yang gundul juga bisa menyebabkan terjadinya erosi tanah.

Sementara kebun kelapa sawit tidak banyak menyerap air hujan karena struktur anatomi yang berbeda dengan pohon lainnya. Anwar mengatakan ukuran jaringan xilem (pengangkut air) pohon sawit lebih kecil dibandingkan yang ada pada pohon lain. Di samping itu, kata Anwar, permukaan batang pohon sawit memiliki lapisan lilin sehingga kemampuannya menyerap air hujan relatif rendah dibandingkan dengan pohon lain.

Anwar mengatakan pohon sawit hanya menyerap sekitar 20-30 liter air per hari. Sementara pohon lainnya bisa menyerap sekitar 100-200 liter air per hari. “Jadi mengganti hutan yang lebat dengan perkebunan sawit jelas beresiko bagi terjadinya banjir,” ujar Anwar.

Apalagi tanah di perkebunan sawit struktur lebih padat dan kurang poros sehingga air lambat meresap. Akibatnya, air menggenang sehingga mendorong terjadinya banjir. Hutan gundul akibat pembukaan lahan perkebunan sawit disorot karena diduga menjadi penyebab banjir dan longsor di Sumatera

Exit mobile version