MuhammadiyahNasionalNews

Untuk Menggerakkan Dakwah dan Amal Usaha MuhammadiyahTak Perlu Meminjam Ideologi Lain

58
×

Untuk Menggerakkan Dakwah dan Amal Usaha MuhammadiyahTak Perlu Meminjam Ideologi Lain

Sebarkan artikel ini

Kebumen, panjimas – Mengelola dakwah dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) harus menggunakan landasan nilai-nilai Islam Berkemajuan.

Nilai tersebut menjadi panduan berpikir, world view, dan panduan menggerakkan AUM.
Pesan mendasar itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada (8/12) dalam Pengukuhan Direksi RS PKU Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah Gombong, Kebumen.

Nilai Islam Berkemajuan, imbuhnya, menjadi alam pikiran dan ideologi tidak hanya bagi warga Muhammadiyah tapi juga seluruh bidang geraknya. Maka tak perlu berbelok dan meminjam ideologi luar Muhammadiyah untuk mengurus dakwah dan Amal Usaha.

“Kaya sekali Muhammadiyah itu merumuskan pikiran-pikiran dari pandangan keislamannya untuk menjadi ideologi,” katanya.

Setidaknya-tidaknya terdapat empat landasan normatif hasil rumusan pikiran Muhammadiyah yang dapat digunakan, yakni Khittah, Matan Keyakinan Cita-cita Hidup, Kepribadian Muhammadiyah, Risalah Islam Berkemajuan, dan seterusnya.

Menjelaskan tentang sepuluh Kepribadian Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, Kepribadian Muhammadiyah tidak sebatas normatif, tapi implementatif. Dari situ dapat disimpulkan bahwa jadi jati diri Muhammadiyah itu moderat.

“Watak wasathiyyah (moderat/tengahan) ini apakah menjadi frame kita? Kita menemukannya alam pikiran yang lain,” tanya Haedar Nashir.

Termasuk menerjemahkan amar ma’ruf nahi munkar, katanya, jangan menggunakan bingkai atau pandangan orang lain. Sebab amar ma’ruf yang disebutkan dalam Kepribadian Muhammadiyah juga disertai keteladanan terbaik.

“Amar ma’ruf nahi munkar itu ada ideologinya sebenarnya dan alam pikiran tertentu. Yang Muhammadiyah tidak seutuhnya itu, ada tafsirnya, ada pemahaman yang kesimpulannya Muhammadiyah lebih moderat,” ungkap Haedar.

Kepribadian Muhammadiyah ini diharapkan menjadi karakter. Sebab asal usul lahirnya Kepribadian ini erat kaitannya dengan bubarnya Partai Masyumi, dan ketika itu para pengurus Masyumi kembali ke Muhammadiyah.

Sekembalinya ke Muhammadiyah, para eks Masyumi itu mengurus Muhammadiyah dengan cara-cara politik seperti yang mereka terapkan ketika menjadi pengurus Partai Masyumi.

Disebabkan cara-cara yang digunakan untuk mengurus Muhammadiyah sama dengan mengelola partai politik, ungkap Haedar, menyebabkan AUM dan gerak dakwah Muhammadiyah terbengkalai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *