Jakarta, panjimas – Kampus Muhammadiyah tertua, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) merayakan Milad ke-70 pada (15/12).
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menyebutnya sebagai sweet 70.
Sweet 70 tentu berbeda dengan sweet 17, di mana sweet 17 adalah masa pubertas menuju dewasa, sementara sweet 70 itu masa di mana sebuah entitas semakin kuat meraih kejayaan, semakin kuat untuk mencapai hal yang lebih tinggi.
“Oleh karena itu saya setuju sekali dengan tema yang diambil dalam Milad ke-70 ini, menggerakkan peradaban, mencerahkan bangsa, sinergi, kolaborasi, dan kontribusi,” ungkap Abdul Mu’ti.
Sebagai informasi, sejarah UMJ dimulai ketika PP Muhammadiyah mendirikan Fakultas Hukum dan Falsafah di Padang Panjang pada tanggal, 18 November 1955.
Selanjutnya pada tahun 1956 dipindahkan ke Jakarta, dengan nama baru yakni Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang diresmikan pada tanggal 18 November 1975.
Mendikdasmen ini menyebut, tema yang diambil untuk Milad ke-70 UMJ sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) tertua relevan dengan konteks pengembangan arah pendidikan di Muhammadiyah yang memberikan bermanfaat bagi bangsa dan negara Indonesia.
“Kami ingin melihat bagaimana kehadiran kampus itu memiliki dampak yang lebih kuat dan memiliki pengaruh yang lebih besar dalam menentukan arah perjalanan bangsa dan negara,” imbuhnya.
Terlebih usaha membangun peradaban kuncinya adalah pendidikan.
Hal itu sesuai dengan perintah pertama yang disebutkan Al Qur’an dalam Surat Al Alaq ayat 1 sampai 5. Ayat-ayat tersebut, sambungnya, berkaitan erat dengan keilmuan dan kegiatan pendidikan.
Maka ayat 1 sampai 5 Surat Al Alaq merupakan landasan teologis bagi Muhammadiyah dalam usaha membangun peradaban maju.
Berkaca dari tahapan turunnya Al Qur’an, Mu’ti menjelaskan, itu panduan dan strategi membangun peradaban, serta menjadikan ilmu dan pendidikan sebagai perangkat utama.
“Ayat-ayat yang berkaitan dengan ritual itu turun belakangan, tapi yang berkaitan dengan ilmu justru menjadi prioritas dan diwahyukan pada masa awal. Dalam pandangan saya ini merupakan sekali lagi, landasan normatif teologis bahwa peradaban itu dibangun di atas kekuatan ilmu dan di atas kekuatan iman,” katanya.
Maka dengan demikian, PTMA termasuk UMJ di dalamnya memiliki tanggung jawab besar agar berkontribusi dalam membangun peradaban.
Peradaban dibangun menurutnya di atas empat nilai dasar yaitu nilai ketuhanan atau keimanan, keilmuan, seni, dan keempat adalah moralitas atau akhlak.
