Opini

Muhammadiyah Hadirkan Masjid yang Berdaya dan Partisipatif

28
×

Muhammadiyah Hadirkan Masjid yang Berdaya dan Partisipatif

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, panjimas – Meski letaknya jauh dari lokasi strategis kota Yogyakarta, tak menghambat kiprah Masjid Jogokariyan dikenal masyarakat luas hingga kancah nasional. Namanya terkenal bukan karena kemegahan arsitektur bangunannya. Melainkan karena sistem manajemen masjidnya yang berbeda, berorientasikan penuh kepada kemaslahatan umat.

Masjid yang dikelola oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Karangkajen ini selalu menerapkan prinsip transparansi dan pengalokasian dana sepenuhnya untuk kebutuhan serta kepentingan jemaah. Alhasil, tidak ada kas masjid yang mengendap sia-sia karena semuanya berputar dari umat, oleh masjid, untuk umat.

Maka tak heran, kini Masjid Jogokariyan berhasil didapuk menjadi salah satu pilot project bagi masjid persyarikatan Muhammadiyah seluruh Indonesia.

“Karena pengelolaannya yang luar biasa, akhirnya masjid di Jogokariyan ini menjadi masjid teladan. Masjid yang menjadi rujukan dan bahkan dikenal masyarakat luas secara mungkin nasional lah, saya sebutkan seperti itu,” ujar Muhammad Izzul Muslimin kala bincang Ruang Publik TvMu Sabtu (28/12) Malam.

Izzul menegaskan bahwa Masjid Jogokariyan adalah bukti nyata jika masjid bukan hanya sekadar ruang ibadah dan dakwah, tetapi juga pusat dari kegiatan masyarakat. Terbukti dari kehadiran Masjid Jogokariyan secara perlahan telah menggerakkan roda kekuatan sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Berangkat dari kesuksesan Masjid Jogokariyan inilah, pada Muktamar 2022, Muhammadiyah bertekad untuk mulai mengembangkan dan memberdayakan masjid-masjid persyarikatan di seluruh Indonesia. Salah satu langkah strategisnya dengan pembagian peran antara Majelis Tabligh dan Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Masjid (LPCRM).

“Yang pertama, Majelis Tabligh untuk penguatan mubalighnya. Kemudian yang kedua adalah pengembangan cabang dan ranting atau LPCRM ya, yang lebih fokus pada bagaimana pengelolaan masjid dalam arti me-manage masjid. Karena masjid ini kan, perlu dikelola dengan baik supaya ekosistemnya berjalan dengan baik,” ungkap Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Adapun program yang telah berjalan adalah pelatihan manajerial bagi para pengurus masjid Muhammadiyah, yang terselenggara di Sragen beberapa waktu lalu. Izzul optimis dengan langkah-langkah tersebut, kelak akan mendorong pengembangan masjid persyarikatan. Layaknya Masjid Jogokariyan.

“Kita memang berharap Muhammadiyah ini berkembang juga, melekat bersamaan dengan masjid-masjid yang sudah dimiliki oleh cabang, ranting, daerah ya,” katanya.

Meski demikian, Izzul tetap memberikan kebebasan yang luas bagi pimpinan cabang maupun ranting Muhammadiyah dalam mengembangkan masjidnya. Tanpa harus menjadi replika Masjid Jogokariyan. Asalkan setiap masjid mampu memberikan kebermanfaatan dan menghadirkan ruang partisipatif bagi jemaah.

“Masing-masing (masjid) tentu punya ciri khas masing-masing, (pengelolaannya) disesuaikan dengan keadaan masjid masing-masing. Tetapi intinya adalah bagaimana masjid itu bisa dikelola untuk kemaslahatan masyarakat secara luas,” tutupnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *