MuhammadiyahNasionalNews

Dakwah Muhammadiyah Tekankan Keseimbangan Metode Bayani, Burhani, dan Irfani

24
×

Dakwah Muhammadiyah Tekankan Keseimbangan Metode Bayani, Burhani, dan Irfani

Sebarkan artikel ini

Medan, panjimas – Metode pendekatan yang digunakan Majelis Tarjih Muhammadiyah, yakni bayani, burhani, dan irfani diharapkan digunakan secara seimbang, tidak boleh timpang menggunakan ketiganya dalam pendekatan teks.

Harapan itu disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas pada Ahad (28/12) dalam Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah yang diselenggarakan Keluarga Besar Muhammadiyah Kota Medan.

Khususnya kepada agen dakwah Muhammadiyah, Anwar Abbas meminta supaya bisa menyeimbangkan ketiga pendekatan tersebut. Sebab dia melihat, saat ini di Muhammadiyah lebih dominan penguasaan pendekatan burhani (konteks).

Dominannya pendekatan burhani ini, imbuhnya, menjadi Muhammadiyah itu visioner. Salah satunya adalah sejarah pelurusan arah kiblat masjid yang dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan. Saat itu masjid di Jogja hanya menghadap barat, tidak semuanya menghadap kiblat.

“Tradisi dan kebiasaan waktu itu adalah orang kalau salat menghadap ke barat. Sehingga kalau seandainya praktik salat kita itu kita lihat lewat perspektif ilmu, itu bisa-bisa salatnya buka ke Mekkah, tapi ke Afrika Selatan dan ke Moskow,” ungkapnya.

Dari sejarah pelurusan arah kiblat oleh Kiai Dahlan, dapat ditarik pelajaran bahwa dalam beragama juga dibutuhkan ilmu. Sebab di masa dulu, mungkin sebagian sampai di masa sekarang banyak orang beragama tidak menggunakan ilmu.

Penggunaan ilmu dalam beragama ini menjadi ciri khas Muhammadiyah dibandingkan yang lain. Bermuhammadiyah menurutnya tidak boleh dengan taklid buta. Maka forum-forum diskusi di Muhammadiyah mudah ditemukan dan itu wajar.

Anwar Abbas juga mengingatkan empat jati diri Muhammadiyah yang harus dirawat, serta diingat oleh kader, pimpinan, dan warga Muhammadiyah dalam menjalankan organisasi yang usianya lebih dari satu abad ini.

Jati diri Muhammadiyah yang pertama adalah sebagai gerakan Islam, yang menjalankan perintah dan ajaran serta memandang agama Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Kedua adalah jati diri sebagai gerakan dakwah amar maruf nahi munkar, yaitu aktif mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran dalam kehidupan bermasyarakat. Muhammadiyah mencegah kemungkaran dengan cara-cara yang maruf.

Jati diri ketiga Muhammadiyah adalah sebagai gerakan tajdid atau pembaruan. Serta jati diri keempat Muhammadiyah adalah gerakan pembangunan amal usaha – kesemua jati diri ini saling berkait berkelindan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *