MuhammadiyahNasionalNews

Abdul Mu’ti Paparkan Tiga Pilar Muhammadiyah Fondasi Gerakan Berkemajuan

30

Tuban, panjimas – Hadir meresmikan Amal Usaha Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tuban pada Ahad (11/1), Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, kembali menegaskan isi Anggaran Dasar Muhammadiyah terkhususnya Pasal 4 tentang tiga ciri gerakan Muhammadiyah, yakni gerakan islam, gerakan dakwah amal ma’ruf nahi munkar, dan gerakan tajdid (pembaharuan).

Pertama, sebagai gerakan Islam, Muhammadiyah selalu berasaskan ajaran Islam. Dimana seluruh kegiatan Muhammadiyah senantiasa berpedoman pada tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunah dengan tujuan membentuk generasi Islam yang sebenar-benarnya.

“Itulah makna ringkas dari Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam. Sehingga karena itu, ketika Muhammadiyah melaksanakan berbagai macam kegiatan, asasnya adalah Al-Qur’an dan As-Sunah,” ujar Mu’ti.

Adapun yang ke dua, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amal ma’ruf nahi munkar.

“Amal ma’ruf nahi munkar itu gerakan ilmu menurut saya. Ma’ruf itu akar katanya nya Arafah. Arafah itu artinya mengetahui sesuatu dengan benar,” ungkapnya

Maka sejak awal berdiri di tahun 1912, Muhammadiyah telah memulai dakwah amal ma’ruf nahi munkar nya melalui bidang pendidikan dan kesehatan. Dengan mendirikan Klinik PKO dan sekolahan. Kini setelah satu abad berlalu, amal usaha tersebut telah berkembang menjadi ratusan rumah sakit dan sekolah Muhammadiyah yang menyebar ke penjuru Indonesia. Sehingga sebagai gerakan dakwah amal ma’ruf nahi munkar, Muhammadiyah telah berdampak luas bagi kemaslahatan umat.

“Menjadikan islam sebagai gerakan rahmatan lil alamin, memberi manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat,” kata Mu’ti.

Adapun yang ketiga yakni Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid atau pembaharuan. Pembaharuan terbagi ke dalam tiga hal yakni pembaharuan pemikiran, pembaharuan dalam beragama, maupun pembaharuan dalam bergerak.

“Karena itu, maka kalau dulu Kyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan sekolah itu kurikulumnya seperti itu, itu harakahnya. Model pendidikan Muhammadiyah sekarang tidak harus sama dengan zaman Kyai Haji Ahmad Dahlan. Tetapi semangat nya itu yang harus sama.” jelas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut.

Mu’ti mencontohkan telah banyak pembaharuan pemikiran dan pembaharuan beragama yang lahir dari pemikiran cendekiawan Muhammadiyah seperti fikih kebencanaan, fikih air, dan fikih kelautan. Bahkan, pemikiran tersebut telah mendapatkan apresiasi dan pengakuan di tingkat internasional.

“Fikih bencana itu kita terjemahkan ke bahasa Inggris, kita sampaikan kepada kedutaan Australia. “This is very progressive vision of disaster” kata dia begini. Ini pandangan yang sangat maju tentang bencana,” ujar Mu’ti.

Sementara pembaharuan dalam gerakan, terwujud dengan hadirnya MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) yang menjadi garda terdepan Muhammadiyah dalam menangani kebencanaan. Mu’ti mengatakan meski umur MDMC tergolong muda, sepak terjangnya telah diakui dan bersertifikat resmi WHO.

Mu’ti berpesan bahwasanya capaian-capaian tersebut bukanlah akhir, tetapi awal semangat persyarikatan untuk berdakwah secara terbuka, luas, dan luwes. Tetap terus menjadi persyarikatan yang senantiasa mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunah dalam gerakan-gerakan sosialnya.

“Supaya bisa diterima oleh berbagai kalangan, supaya kemanfaatan kita di dalam bergerak ini dirasakan semakin banyak masyarakat,” pungkasnya

Exit mobile version