KemenagNasionalNews

Melihat Perbandingan Indeks Keberagamaan Siswa Pendidikan Agama

62
×

Melihat Perbandingan Indeks Keberagamaan Siswa Pendidikan Agama

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas — Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama merilis hasil survei indeks keberagamaan siswa yang beragama Islam pada madrasah dan siswa yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha pada sekolah. Temuan survei menunjukkan indeks keberagamaan siswa pada rentang tinggi dan sangat tinggi.

Survei Indeks Keberagamaan Siswa MA dilaksanakan dengan responden 1.218 siswa MA, yang tersebar di 34 provinsi dan mencakup MA negeri maupun swasta. Pengambilan sampel dilakukan melalui metode cluster random sampling dengan wawancara tatap muka, serta memiliki margin of error sebesar 2,8 persen.

Sedangkan Indeks Keberagamaan Siswa Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha disusun melalui metode pengisian kuesioner dengan melibatkan 1.276 responden siswa (SMA/SMP/SD sederajat) yang seluruhnya merupakan peserta didik pendidikan keagamaan Kristen (387), Katolik (375), Hindu (147), dan Buddha (367) di Indonesia, dengan margin of error sebesar 5 persen untuk masing-masing indeks agama.

IKS disusun berdasarkan lima dimensi keberagamaan yang merujuk pada teori Glock dan Stark (1965), yaitu ideologis, ritual, experiential (pengalaman), intelektual, dan consequential (konsekuensi/perilaku), yang diterapkan baik pada siswa MA maupun siswa dari latar belakang agama lainnya.

Hasil Indeks Keberagamaan

Secara nasional, Indeks Keberagamaan Siswa Madrasah Aliyah memperoleh skor 90,02 dan masuk kategori Sangat Tinggi. Dimensi ideologis mencatat nilai tertinggi sebesar 94,15, disusul dimensi pengalaman (91,91), perilaku (90,12), intelektual (87,09), dan ritualistik sebagai dimensi terendah dengan skor 86,57.

Adapun Indeks Keberagamaan Siswa siswa Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha secara umum berada pada kategori Tinggi hingga Sangat Tinggi. Pertama, siswa Kristen memperoleh skor nasional 87,89, dengan dimensi ideologis 91,03, ritualistik 78,95, pengalaman spiritual 89,87, intelektual 88,70, dan perilaku 88,67.

Kedua, siswa Katolik memperoleh skor nasional 90,23, dengan dimensi ideologis 92,70, ritualistik 83,99, pengalaman spiritual 92,03, intelektual 89,06, dan perilaku 91,81. Ketiga, siswa Hindu memperoleh skor nasional 84,04, dengan dimensi ideologis 87,57, ritualistik 75,22, pengalaman spiritual 87,59, intelektual 79,56, dan perilaku 88,07. Keempat, siswa Buddha memperoleh skor nasional 79,83, dengan dimensi ideologis 84,25, ritualistik 70,14, pengalaman spiritual 78,80, intelektual 78,11, dan perilaku 84,44.

Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan BMBPSDM, Rohmat Mulyana Sapdi, mengungkapkan bahwa IKS merupakan bentuk keseriusan Kemenag dalam mengukur sejauh mana nilai-nilai keagamaan dipahami dan dipraktikkan oleh peserta didik di Indonesia.

“IKS jadi tolok ukur kita, untuk melihat seberapa berhasil Kemenag sudah melakukan upaya-upaya pendidikan, khususnya dalam pendidikan agama,” ungkap Kapus Rohmat–sapaan akrabnya, Kamis (8/1/2025), di Jakarta.

Menurut Kapus Rohmat, pengukuran indeks ini menjadi bahan penting bagi Kemenag untuk melakukan evaluasi kebijakan pendidikan, khususnya di bidang pendidikan agama dan keagamaan. “Indeksasi itu bukan semata-mata menemukan angka, tapi sekaligus melakukan assessment kebijakan yang sudah kita lakukan terhadap pendidikan agama dan keagamaan di sekolah atau madrasah,” jelasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *