Sleman, panjimas – Pendidikan Muhammadiyah memiliki ciri atau karakter mencerahkan kesadaran yang menghidupkan, mencerdaskan, dan membebaskan baik dari kebodohan maupun kemiskinan.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib pada Rabu (21/1) dalam pembukaan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah di Sleman.
Pendidikan Muhammadiyah, imbuhnya, tidak berada di atas menara gading – melainkan harus membumi. Termasuk membumikan ajaran dan nilai-nilai Islam, dengan semangat welas asih kepada seluruh makhluk di bumi.
Dalam bahasa Makassar, Irwan menjelaskan etos welas memiliki kesamaan substansi dengan Pace, sebuah filosofi hidup Makassar yaitu rasa empati yang dalam, solidaritas, pedih, atau perasaan iba terhadap penderitaan sesama.
Tokoh kelahiran Pare-Pare ini menjelaskan, kata Pace biasanya tidak berdiri sendiri. Sering disandingkan dengan kata Siri (malu; martabat atau harga diri)yang jika digunakan dalam kalimat itu utuh menjadi Siri na Pacce.
“Sebagai fasilitator yang terlibat langsung, kepada teman-teman semua supaya etos welas asih itu dihadirkan dalam diri kita,” tuturnya.
Salah satu tantangan terberat bagi fasilitator sekarang, menurut Irwan adalah perilaku hidup boros yang dimiliki keluarga petani, nelayan, termasuk buruh migran – yang selama ini menjadi kelompok dampingan MPM Muhammadiyah.
Irwan mencontohkan salah satu budaya boros ada di keluarga buruh perantauan, termasuk budaya yang hidup di Makassar dan Bugis. Maka bagi keluarga seperti ini perlu diberikan literasi keuangan.
“Pola tindakannya yang lama ini butuh pendekatan, butuh cara untuk mengkomunikasikan sehingga dia bisa merubah pola pikirnya, bira merubah pola sikapnya, sehingga dia betul-betul bisa berdaya,” katanya.
Selain dengan semangat filosofis welas asih dan siri na pacce, kader pendamping pemberdayaan masyarakat juga harus membekali diri dengan berbagai metode pendekatan untuk diterapkan ke berbagai kelompok masyarakat bermacam-macam.
Pemberdayaan bagi Muhammadiyah, sambungnya, tidak sekadar memberikan bantuan lalu pergi – melainkan sebagai proses panjang. Pemberdayaan menurutnya dimaknai dengan hidup berdampingan untuk memberdayakan.
“Ini juga butuh militansi yang kuat,…. prinsip itu juga harus kita pegangi. Sehingga memang semangat di hati kita harus tetap ada,” tuturnya.













