Perang saudara di Sudan boleh dikatakan perang antara dua Jenderal yaitu Abdel Fattah al-Burhan, pemimpin Angkatan Bersenjata Sudan (SAF), dan Mohammed Hamdan Dagalo, yang lebih dikenal sebagai Hemedti, kepala dari kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
Kedua Jenderal itu dulunya bekerjasama, melakukan kudeta menjatuhkan Presiden Omar al Bashir yang sudah memerintah hampir tiga dekade. Tapi sekarang antara kelompok mereka berdua terjadi pertempuran demi meraih supremasi.
Akibat dari pertempuran tersebut sejak April 2023 hingga sekarang sekurangnya sudah 150 ribu orang tewas, lebih dari 522 ribu anak meninggal karena kekurangan gizi, 14 juta orang mengungsi baik di dalam maupun ke luar negeri dan 24 juta orang menderita kelaparan.
Jadi peristiwa perang di Sudan ini benar-benar telah menjadi tragedi kemanusian terbesar dalam abad ke 21. Bila konflik ini tidak bisa di atasi maka tidak mustahil Sudan akan terbelah untuk kedua kalinya sebagaimana sebelumnya tahun 2011 dimana Sudan Selatan yang kaya dengan minyak telah memisahkan diri dan mendirikan negara baru.
Pihak militer yang dipimpin Jenderal Abdel Fatah al Burhan telah menuduh Uni Emirat Arab (UAE) berada di belakang RSF yang dipimpin jenderal dagalo walaupun hal itu telah dibantah oleh UEA. Pertanyaannya apakah indonesia akan berdiam diri dalam menghadapi masalah yang terjadi di Sudan ini ?
Tentu tidak karena dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea keempat telah ditegaskan bahwa tujuan bangsa dan negara kita dalam hal yang terkait dengan politik luar negeri adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Untuk itu kita harus ikut serta dalam menciptakan ketertiban dunia dimana prinsip utama kita dalam menjalankan politik luar negeri tersebut adalah bebas aktif, tidak memihak kepada salah satu blok yang bertikai dan di samping itu kita juga harus aktif berpartisipasi dalam meredakan konflik yang terjadi agar tercipta perdamaian diantara pihak yang bertikai.
Untuk itu kita berharap agar pemerintah indonesia dapat memainkan peran bagi membantu menghentikan konflik yang ada di Sudan agar korban-korban yang tidak kita inginkan jangan lagi berjatuhan karena sudah terlalu banyak jiwa yang melayang dan juga korban sakit dan luka-luka serta para pengungsi yang jumlahnya jutaan yang hidupnya jelas-jelas sangat menyedihkan dan mengenaskan.
Anwar Abbas
Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan
Ketua PP Muhammadiyah






