Semarang, panjimas – Membuka acara RAKORNAS II Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat (LDK) PP Muhammadiyah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyebut bahwa RAKORNAS ini penting sebagai upaya pengembangan dakwah komunitas yang inklusif yang hadir dalam semua segmen sosial masyarakat.
“Hari ini saya membuka acara RAKORNAS untuk kepentingan mengembangkan dakwah komunitas yang bersifat inklusif untuk semua segmen sosial masyarakat di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), kawasan pinggiran kota, pedesaan, dan lain sebagainya. Semangat kami adalah semangat menanamkan nilai agama yang mengokohkan spiritualitas, membangun akhlak, tetapi juga membangun solidaritas yang kokoh apapun latar belakangnya. Ini konsen kami yang kami sebut sebagai dakwah komunitas,” jelas Haedar dalam acara yang digelar Kamis malam, (29/1) di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS).
Haedar turut mengungkapkan bahwa dalam konteks keIndonesiaan, kita memerlukan perekat sosial. Dalam hal ini, Muhammadiyah, ucap Haedar, perlu hadir dan berperan sebagai kekuatan pembebas, kekuatan pemberdaya, kekuatan yang memajukan, dan kekuatan yang bisa merekatkan persatuan nasional.
“Kita memerlukan perekat sosial. Lebih-lebih menghadapi berbagai tantangan, persoalan, dan agenda bangsa yang tidak ringan dan kekuatan agama harus menjadi kekuatan pembebas, kekuatan pemberdaya, kekuatan yang memajukan, dan kekuatan yang bisa merekatkan persatuan nasional,” ucap Haedar.
“Tentu ini perlu di Integrasikan dengan semua pihak dan pemerintah dalam rangka memajukan Indonesia yang lebih bersatu, berdaulat, adil, dan makmur, dengan berbagai posisi yang kita miliki. Saya yakin spirit ini harus kita jaga, tumbuhkan dan kita bangun bersama,” tambahnya.
Selaras dengan itu, Tafsir, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, turut menceritakan pengalamannya ketika berdakwah menyusuri lorong-lorong sempit nan gelap. Contoh nyata gerakan dakwah dan pengalaman yang diceritakannya adalah saat berdakwah dan berinteraksi langsung dengan kaum-kaum waria dan para Pekerja Seks Komersial (PSK).
Artinya, berdakwah semacam itu, menurut Tafsir, perlu adanya konsep yang matang, terstruktur, dan terarah. Sehingga tujuan utama dari dakwah komunitas yaitu “merangkul semua kalangan” dapat tercapai dengan baik dan benar.
“Dakwah itu dilakukan mulai dari lorong gelap hingga ke lorong gemerlap. Pertanyaannya, mana yang akan menang? lorong gelap atau lorong gemerlap? ya itu tugas kita di Muhammadiyah untuk menjadi bagian dari dakwah, mengawal dan menyapa semua orang,” ujar Tafsir.
Terakhir, Tafsir berharap dakwah Muhammadiyah kedepan dapat terus berkembang sehingga semakin merangkul semua kalangan. Capaian-capaian seperti inilah yang nantinya akan diharapkan menghasilkan dampak baik yang nyata dan berkelanjutan.
“Kami apresiasi setinggi-tingginya untuk LDK PP Muhammadiyah. Melalui dakwah, apapun latar belakangnya, semuanya kita rangkul. Kebaikan-kebaikan ini perlu kita organisir dengan benar. Karena jika kebaikan itu tidak terorganisir, maka akan kalah dengan kebatilan yang terorganisir,” pungkasnya.
