MuhammadiyahNasionalNews

Transformasi Muhammadiyah: Dari Pilar Ekonomi Pengusaha Perorangan, Menjadi Kelembagaan

48
×

Transformasi Muhammadiyah: Dari Pilar Ekonomi Pengusaha Perorangan, Menjadi Kelembagaan

Sebarkan artikel ini

akarta, panjimas – Pilar penyokong gerakan dakwah Muhammadiyah berubah, dari awalnya disanggah oleh pengusaha perorangan, kini semangat entrepreneur Muhammadiyah dilembagakan sehingga lebih kokoh.

 

Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Jumat (30/1) dalam acara Milad ke-10 dan Kick Off Pembangunan Gedung Kantor PT. MPN di Kota Yogyakarta.

 

Kemandirian Muhammadiyah sejak awal, ungkap Haedar, karena pilar-pilar gerakannya ditopang oleh para pengusaha – yang dalam hal ini didominasi oleh orang-orang muslim pengusaha batik.

 

Maka perkembangan Muhammadiyah di beberapa tempat juga memiliki irisan dengan para pengusaha batik yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) yang dibentuk pada tanggal 18 September 1948 di Yogyakarta.

 

Meskipun pada era Orde Baru para pengusaha muslim ini banyak berguguran karena kerasnya persaingan pasar, di mana saat itu sudah mulai masuk ekonomi-ekonomi raksasa global ke Indonesia.

 

Pola gerakan ekonomi Muhammadiyah ini berbeda dengan gerakan pendidikan, sosial, dan kesehatan yang sejak awal sudah melembaga dan di kemudian waktu menjadi semakin solid dalam wadah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

 

Masuk tahun 1980 sampai 2000-an, AUM dilembagakan semakin kuat, dikelola secara profesional – hingga AUM ini menginstitusi sesuai bidang masing-masing, tetapi sebatas pada upaya untuk menghidupi usaha itu sendiri.

 

“Baru pada tahun 2000-an ke atas amal-amal usaha ini bisa bertumbuh, berkembang, dan bahkan juga membuat unit-unit usaha atau orang menyebut sebagai unit bisnis,” katanya.

 

Haedar menjelaskan, dalam sebuah AUM terdapat dua dimensi yaitu dimenasi amal yang bersifat religiusitas – sakral, sebab berkaitan erat dengan nilai-nilai teologis. Sementara dimensi kedua adalah usaha yang bersifat profan atau keduniawian.

 

“Yang satu sakral yang satu profan, Muhammadiyah secara organik memadukan dua dimensi itu menjadi satu kesatuan. Bahwa yang sakral itu dia harus berintegrasi, bermetamorfosis, bermanifestasi pada yang profan,” katanya.

 

Di sisi yang lain, urusan-urusan profan di Muhammadiyah tidak boleh berlepas dari nilai teologis atau sakral. Usaha-usaha yang dilakukan menurut Haedar berpijak pada tiga nilai yakni iman, ilmu, dan amal atau trilogi Muhammadiyah.

 

Oleh karena itu, sejak tahun 2015 PP Muhammadiyah membangun gerakan prioritas untuk mengembangkan usaha ekonomi Muhammadiyah yang pondasinya tetap pada karakter amal.

 

Walaupun banyak tantangan, gerakan pelembagaan ekonomi dan bisnis Muhammadiyah menurutnya akan mampu leading. Terlebih Muhammadiyah saat ini didukung sumber daya manusia dan sumber dana yang sehat.

 

“Dan semuanya tidak lain untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat, kesejahteraan umat, kesejahteraan bangsa,” kata Haedar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *