Yogyakarta, panjimas — Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dipandang tidak semata sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai media dakwah strategis. Melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—PTMA memiliki peran penting dalam membangun peradaban Islam berkemajuan di tingkat nasional maupun global.
Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah pada era kontemporer tidak lagi terbatas pada mimbar dan forum keagamaan. Dakwah juga diwujudkan melalui reputasi akademik, riset ilmiah, pengabdian masyarakat, serta tata kelola perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing.
Hal tersebut disampaikan Sayuti dalam kegiatan Baitul Arqam Pejabat Struktural Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Selasa (3/2).
“Membangun reputasi ilmiah kampus hari ini telah menjadi bagian dari dakwah. Riset, pengabdian, dan kinerja akademik merupakan wujud dakwah rahmatan lil ‘alamin di era modern,” ujarnya.
Menurut Sayuti, posisi UMY sangat strategis karena berada pada titik temu antara pengembangan ilmu pengetahuan, internalisasi nilai-nilai keislaman, dan tanggung jawab kebangsaan. Oleh karena itu, capaian akademik universitas tidak boleh dilepaskan dari misi ideologis Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad tidak bertumpu pada kekayaan material, melainkan pada nilai ideologis yang menjadi energi penggerak organisasi. Konsistensi Muhammadiyah dalam membangun ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, hingga melakukan ekspansi global menjadi bukti daya tahan nilai tersebut.
Dalam konteks perguruan tinggi, Sayuti menilai PTMA tidak boleh terjebak pada zona nyaman capaian administratif atau pengakuan nasional semata. Civitas academica didorong menjadikan standar global sebagai rujukan, terutama dalam pengembangan riset, publikasi ilmiah, dan inovasi.
“Tantangan utama PTMA ke depan adalah membangun reputasi riset kelas dunia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan medan perjuangan yang paling relevan saat ini,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sayuti menekankan bahwa seluruh aktivitas akademik—mulai dari mengajar, meneliti, hingga mengelola institusi—harus dipahami sebagai amanah dakwah. Pejabat struktural dan dosen dituntut tidak hanya profesional secara administratif, tetapi juga memiliki kesadaran ideologis dalam menjalankan peran kelembagaannya.
“Ini bukan institusi biasa. Kampus membawa nama Muhammadiyah dan Islam di ruang publik global. Karena itu, bekerja di PTMA tidak cukup hanya sekadar menggugurkan kewajiban,” pungkasnya.












