BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Di SD Muhammadiyah Mnelabesa Tli’u NTT, Toleransi Bukan Jargon tapi Praktik Hidup  

99
×

Di SD Muhammadiyah Mnelabesa Tli’u NTT, Toleransi Bukan Jargon tapi Praktik Hidup  

Sebarkan artikel ini

Timor, panjimas – Pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah sifatnya inklusif. Toleransi di sekolah Muhammadiyah tidak sebatas jargon tapi praktik hidup.

Salah satu gambaran nyata dari itu adalah SD Muhammadiyah Mnelambesa di Desa Tli’u, Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sekolah yang telah berdiri sejak tahun 2016 ini dapat dijadikan contoh kerukunan di tengah perbedaan.

Ketika berkunjung ke sana pada Selasa (10/2), reporter Muhammadiyah.or.id berkesempatan mewawancarai Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Mnelambesa, Abdul Muntolib Natonis.

Sosok yang akrab disapa Pak Abdul Natonis menyampaikan kegembiraannya ketika mendapat perhatian dan kunjungan dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, termasuk Universitas Muhammadiyah (UM) Kupang.

Pak Abdul menjelaskan, di Desa Tli’u terdapat dua sekolah dasar yaitu SD Muhammadiyah Mnelabes dan SD Negeri Lao (SD Inpres). Keduanya menjadi obor penjaga nyala cita-cita dan masa depan anak-anak di pedalaman NTT ini.

Saat ini SD Muhammadiyah Mnelabesa mendidik 50 murid dengan berbagai latar belakang agama, yaitu Islam, Kristen, dan Katolik. Jumlah siswa yang muslim 20, kristen 20, dan katolik 10 siswa.

Mata Pelajaran Agama Kristen di SD Muhammadiyah

Terkait dengan mata pelajaran keagamaan, di SD Muhammadiyah Mnelabesa tidak hanya Al Islam Kemuhammadiyah (AIK), tapi juga ada mata pelajaran Agama Kristen yang diampu oleh Defritus Nuban.

“Sementara untuk Katolik kita sedang mencari. Kemarin kita sudah ketemu Romo, dan sudah dapat. Namun saat ini dia belum datang lagi,” kata Defritus Nuban.

Defritus Nuban menceritakan, dirinya mengajar di SD Muhammadiyah Mnelabesa sejak tahun 2017. Meski hanya lulusan Paket C SMA, namun tenaga ikhlas Pak Defritus dibutuhkan untuk daerah 3T ini.

Sosok yang dikenal hangat ini sedang merajut impian, Defritus Nuban saat ini sedang mencari peluang untuk lanjut pendidikan Strata 1 di Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) UM Kupang.

Lelaki berusia 41 tahun ini juga berharap fasilitas pendidikan di SD Muhammadiyah Mnelabesa semakin membaik. Di mana masih ada dua ruang dari enam kelas yang belum ada meja dan kursi untuk belajar mengajar.

“Kelas satu dan dua di sekolah kita ini belum memiliki kursi dan meja. Anak-anak belajar di lantai dengan gembira, pak,” katanya.

SD Muhammadiyah Mnelabesa Desa Tli’u ini berada di kawasan yang terisolir. Akses menuju ke sana melewati jalanan yang rusak dan jembatan putus, dan kalaupun ada itu sangat tidak layak. Desa Tli’u ini berjarak kurang lebih 166 km dari pusat Kota Kupang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *