MuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah dan Jalan Baru Menuju Masjid Unggulan, Dari QRIS hingga Program Sosial

66

Jakarta, panjimas – Masjid tidak bisa lagi hanya mengandalkan kotak infak di sudut ruangan. Cara jamaah memberi telah berubah, begitu pula gaya hidup masyarakat—terutama generasi muda yang kini serba digital. Jika masjid tidak beradaptasi, perlahan ia bisa kehilangan kedekatan dengan umatnya.

Pesan itulah yang ditekankan Kusnadi Ikhwani dalam materi Akselerasi Masjid Unggulan Jawa Timur dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar di Aula KH Mas Mansyur, Lantai 7 GKB 2 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Sabtu (14/2/2026).

Kegiatan bertema “Kolaborasi Strategis untuk yang Berdampak” ini dihadiri perwakilan LPCRM dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur bersama jajaran pimpinan LPCRM tingkat wilayah sebagai bagian dari upaya konsolidasi penguatan cabang, ranting, dan pembinaan masjid di lingkungan Muhammadiyah.

Kusnadi Ikhwani menegaskan bahwa masjid harus bergerak lebih cepat, lebih tertata, dan lebih modern agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, masjid unggulan bukan sekadar bangunan megah, tetapi ruang ibadah yang hidup, berdampak, dan hadir dalam kehidupan jamaah.

“Kalau tidak ada digitalisasi, anak muda tidak akan merasa dekat dengan masjid. Dan kalau anak muda tidak dekat, masjid kehilangan energi masa depan,” tegasnya.

Salah satu langkah penting yang ia dorong adalah digitalisasi penghimpunan dana melalui sistem QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Dengan metode ini, jamaah dapat berinfak melalui berbagai aplikasi dompet digital maupun layanan perbankan tanpa harus membawa uang tunai.

Kusnadi menilai, masih banyak masjid yang memandang infak sebagai urusan “seikhlasnya” semata. Padahal, di era transaksi digital, keikhlasan perlu didukung fasilitas yang memadai. Kebiasaan masyarakat yang kini terbiasa memindai kode QR untuk berbagai transaksi sehari-hari membuat masjid perlu menyediakan jalur yang sama agar potensi infak tidak hilang.

“Kalau masjid tidak menyediakan jalur digital, potensi infak akan hilang. Ujungnya, perolehan infak rendah,” ujarnya.

Namun, ia menekankan bahwa digitalisasi bukan tujuan akhir. Teknologi hanyalah alat agar masjid tetap menjadi pusat gerakan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana dana umat dikelola secara amanah dan dikembalikan dalam bentuk manfaat nyata.

“Uang infak harus kembali ke jamaah. Harus terlihat dampaknya. Agar masjid makmur,” katanya.

Dalam pandangannya, kepercayaan jamaah tidak lahir dari retorika, tetapi dari program-program yang nyata, rapi, dan berkelanjutan. Jamaah akan terus memberi ketika mereka merasakan manfaat langsung dari keberadaan masjid.

Sebagai contoh, Kusnadi menyebut model fundraising yang akan dilakukan Masjid Al Falah Sragen. Dalam program tersebut, anak-anak yatim diajak naik mobil mewah dan berbelanja kebutuhan mereka di pusat perbelanjaan, seluruhnya dibiayai oleh masjid. Bagi sebagian orang, konsep ini mungkin terdengar tidak lazim. Namun bagi Kusnadi, pendekatan itu justru menunjukkan wajah baru masjid yang lebih humanis.

Anak-anak yatim, menurutnya, tidak hanya menerima amplop bantuan, tetapi juga pengalaman berharga yang membangun rasa bahagia dan harga diri. Program seperti ini dinilai mampu mengirim pesan sosial bahwa masjid hadir untuk memanusiakan manusia.

“Masjid yang membiayai. Ini model fundraising masjid,” ujarnya.

Lebih jauh, Kusnadi menegaskan bahwa ukuran masjid unggulan tidak ditentukan oleh besar bangunan atau ramainya jamaah semata. Masjid unggulan adalah masjid yang memiliki manajemen kuat, program jelas, serta regenerasi yang berjalan baik. Masjid yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan ruh spiritualnya.

Ia berharap masjid-masjid di Jawa Timur mampu menjadi pionir perubahan—menghidupkan jamaah, merangkul anak muda, dan menjadi pusat layanan sosial yang profesional.

“Masjid harus siap berubah,” katanya.

Baginya, masjid yang enggan beradaptasi akan perlahan kehilangan peran. Sebaliknya, masjid yang berani berubah dapat menjadi pusat kebangkitan umat—berawal dari sajadah, dari jamaah, dan dari program-program yang nyata. Dan Jawa Timur, menurut Kusnadi, harus menjadi contoh arah baru itu

Exit mobile version