Jakarta, panjimas – Dr. Amirsyah Tambunan selaku Sekjen MUI menyampaikan secara mendasar persiapan dalam rangka menyambut Ramadhan yang penuh hikmah.
Ia mengawali pengertian tarhib yakni penyambutan, berasal dari kata bahasa Arab rahiba-yarhabu-tarhiban yang berarti menyambut dengan hati lapang, terbuka, dan gembira.
“Dalam konteks Ramadan, tarhib berarti menyambut datangnya bulan suci dengan persiapan fisik dan mental dan keilmuan yang matang agar dapat beribadah secara maksimal,” ujar buya Amirsyah Tambunan.
Di tengah tantangan hidup yang semakin kompetitif memerlukan sikap fisik dan mental yang tenang, lapang dada dan luas pandangan sebingga kehadiran Ramadhan harus disambut dengan penuh suka cita.
Ungkapan “Marhaban”, yaitu menyambut, menerima, melapangkan, dan meluaskan sikap dengan rasa syukur, kebahagiaan, dan sukacita umat Islam dalam menyambut bulan penuh berkah.
Untuk itu menurut buya, bukan sekadar ucapan, tarhib mencakup persiapan mental dan spiritual untuk bertaubat, meningkatkan pengetahuan agama) serta fisik (kesehatan).
Maka Kenapa disetiap awal menyambut Ramadan di masyarakat senantiasa diadakan kegiatan seperti : pengajian, pawai, doa bersama, meningkatkan ibadah sebelum Ramadan, dan bersih-bersih masjid.
Tujuannya adalah untuk mempersiapkan jiwa dan raga agar siap memasuki bulan suci Ramadan dengan hati yang bersih.
Hal inilah yang disampaikan Sekjen MUI buya Amirsyah Tambunan dalam acara Tarhib Ramadhan yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar PDM Jakarta Barat di Masjid Al Isra’ pada hari Sabtu, (14/2/26).
Untuk ia mengajak semua komponen bangsa harus mengambil kesempatan Ramadhan menjadi Ramadhah terbaik sepanjang hidup kita. Ini merupakan penguatan aspek hubungan kepada Allah (hablum min Allah).
Sedangkan hubungan kepada sesama manusia (hablum minannas) diperlukan penguatan aspek sosial dalam bentuk peningkatan kesalehan sosial dalam berbagai dimensi kehidupan seperti berbagai sesma melalui zakat, infaq dan sodaqoh serta wakaf (Ziswaf).
Bulan ramadhan merupakan momen penting bukan saja berbagi antara sama, tapi juga untuk penguatan potensi Ziswaf untukmu menguatkan potensi keuangan sosial Islam (sosial fainance).
“Namun masih rendahnya lirerasi sosial finansial termasuk ekonomi syariah seperti kita lihat dalam data bahwa inklusi ekonomi syariah adalah pemahaman (literasi) dan penggunaan (inklusi) layanan keuangan berbasis prinsip Islam untuk mendukung ekonomi yang adil,” tandasnya
Data OJK 2025 menunjukkan literasi keuangan syariah mencapai 43,42%, namun inklusi masih rendah di 13%, menandakan kesenjangan antara pemahaman dan penggunaan nyata.
“Kesenjangan ini menunjukkan bahwa rendahnya pemahaman umat terhadap ziswaf,” pungkasnya
Hadir pada kesempatan acara Tarhib Ramadan itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Barat adalah Dr. Ir. H. Narmodo dan jajarannya












