BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Ingin Jadikan Ramadhan Momentum Perkuat Solidaritas Sosial Umat

51

Jakarta, panjimas – Menjelang bulan suci Ramadhan, Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan komitmennya menjadikan Ramadhan sebagai momentum transformasi diri sekaligus penguatan ketangguhan dan kesejahteraan umat.

Hal tersebut disampaikan Ketua Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah, Ahmad Imam Mujadid Rais, dalam agenda ZISKA Talks Tarhib Ramadhan bertema “Tangguh dan Sejahtera: Dari Respon ke Pemulihan Bencana Sumatra” pada Kamis (12/2).

Mujadid Rais menjelaskan bahwa pesan utama Ramadhan yang bermuara pada nilai ketakwaan harus dimaknai secara luas. Ketakwaan tidak hanya berdimensi spiritual dan individual, tetapi juga berdampak pada etos kerja, integritas, serta tanggung jawab sosial.

“Pesan takwa itu mengajarkan kita untuk tetap berbuat baik dalam keadaan apa pun, baik ada pengawas maupun tidak. Bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah, dan terus memperbaiki diri. Namun Ramadhan tidak berhenti pada dimensi individu, melainkan harus menjadi momentum konsolidasi kekuatan sosial umat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa program Ramadhan seperti pembagian takjil dan kado Ramadhan perlu dirancang tidak sekadar seremonial, tetapi juga memberdayakan. Pelibatan pelaku UMKM, khususnya ibu-ibu yang mengalami penurunan pesanan, dinilai dapat menggerakkan ekonomi lokal.

“Program takjil dan kado Ramadhan harus menjadi bagian dari pemberdayaan umat. Kita bisa melibatkan UMKM agar roda ekonomi berputar. Ini wujud nyata bahwa zakat, infak, dan sedekah memberi dampak berkelanjutan,” katanya.

Zakat sebagai Instrumen Keadilan Sosial

Mujadid Rais menegaskan bahwa zakat merupakan instrumen strategis dalam mewujudkan keadilan sosial. Ia mengingatkan kembali keputusan penting Muktamar Muhammadiyah tahun 1965 di Bandung yang menekankan zakat sebagai instrumen pengentasan kemiskinan.

“Zakat tidak boleh dipahami sebatas penyaluran bantuan. Zakat harus mampu mengubah mustahik menjadi muzakki. Bahkan sejumlah riset menunjukkan zakat berkontribusi pada peningkatan Human Development Index dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan. Artinya, zakat adalah pilar penting pembangunan bangsa,” tegasnya.

Selain penguatan kesejahteraan, Lazismu juga memberi perhatian serius pada agenda ketangguhan bencana melalui program Indonesia Siaga. Ia menegaskan bahwa respons bencana tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi harus berlanjut pada rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Komitmen Muhammadiyah adalah hadir paling awal saat bencana dan menjadi yang terakhir meninggalkan lokasi. Kita tidak hanya membuka layanan darurat, tetapi juga memastikan ada program rehab dan rekonstruksi yang berkelanjutan,” jelasnya.

Sebagai contoh, ia menyinggung penanganan gempa Cianjur, di mana pembangunan fasilitas kesehatan Muhammadiyah tetap dilakukan bertahun-tahun setelah bencana sebagai bentuk komitmen jangka panjang.

Menurutnya, ketangguhan bangsa Indonesia memiliki fondasi kuat pada nilai spiritual dan modal sosial seperti gotong royong. Namun, ketangguhan tersebut juga harus diperkuat dengan sistem mitigasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Nilai gotong royong adalah modal sosial yang luar biasa. Tetapi kita juga perlu membangun sistem mitigasi yang terencana, edukasi kebencanaan, serta teknologi pendukung seperti early warning system. Ketangguhan lahir dari perpaduan iman, solidaritas sosial, dan kesiapsiagaan berbasis ilmu,” ujarnya.

Empat Agenda Prioritas Lazismu

Dalam konteks strategis ke depan, Mujadid Rais memaparkan empat agenda prioritas penguatan Lazismu.

Pertama, penguatan ekosistem zakat nasional melalui integrasi antar-lembaga, inovasi sosial, serta konsolidasi penghimpunan dan pendayagunaan dana agar berdampak luas dan berkelanjutan.

“Zakat harus menjadi gerakan kolektif yang terhubung dan saling menguatkan. Dana yang dihimpun tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga produktif dan memberdayakan,” tegasnya.

Kedua, digitalisasi tata kelola dan pelaporan. Menurutnya, profesionalisme dan transparansi adalah fondasi lembaga filantropi modern.

“Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Tata kelola harus profesional, transparan, dan akuntabel. Dengan sistem digital, pelaporan bisa diakses lebih luas, cepat, dan akurat,” jelasnya.

Ia menambahkan, transparansi akan memperkuat kepercayaan publik dan mendorong partisipasi generasi muda dalam gerakan zakat.

Ketiga, pengembangan model disaster resilience berbasis masjid dan komunitas Muhammadiyah. Masjid, menurutnya, harus menjadi pusat penguatan sosial, ekonomi, sekaligus kebencanaan.

nasiona

“Kita ingin membangun model ketangguhan berbasis komunitas, sehingga masyarakat tidak hanya siap merespons bencana, tetapi juga memiliki kapasitas mitigasi dan pemulihan yang terencana,” ujarnya.

Keempat, pengarusutamaan zakat dalam arsitektur kebijakan kesejahteraan nasional.

“Kita perlu mendorong agar zakat semakin diakui sebagai bagian dari kebijakan kesejahteraan nasional. Zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi instrumen ekonomi yang memperkuat sistem perlindungan sosial dan pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya

Exit mobile version