BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Puasa dan Etika Energi, Seruan Aisyiyah Sambut Ramadan Lebih Ramah Lingkungan

33
×

Puasa dan Etika Energi, Seruan Aisyiyah Sambut Ramadan Lebih Ramah Lingkungan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Menjelang datangnya Ramadan, Aisyiyah melalui Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat mengajak masyarakat menjadikan ibadah puasa sebagai momentum membangun kesadaran ekologis.

Seruan itu disampaikan dalam kegiatan Ngaji Lingkungan bertema Puasa sebagai Etika Pengendalian Konsumsi Energi yang digelar secara daring pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Kegiatan tersebut menegaskan bahwa Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan spiritual, tetapi juga ruang refleksi untuk mengendalikan konsumsi dan menggunakan energi secara lebih bijak dalam kehidupan sehari-hari.

Ramadan dan Gerakan Green ‘Aisyiyah
Ketua LLHPB PP ‘Aisyiyah, Rahmawati Husein, menekankan bahwa Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kesalehan sosial sekaligus kesalehan ekologis. Menurutnya, pengendalian diri yang diajarkan melalui puasa seharusnya tercermin pula dalam cara manusia memperlakukan lingkungan.
Ia mengingatkan bahwa selama Ramadan timbulan sampah rumah tangga cenderung meningkat, bahkan diperkirakan dapat bertambah hingga sekitar 20 persen.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya gerakan Green ‘Aisyiyah, yang mengajak masyarakat melakukan langkah sederhana namun berdampak.

Seperti membatasi penyediaan takjil secara berlebihan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa wadah sendiri saat membeli makanan berbuka, menghemat air wudu dan listrik, serta memilih moda transportasi ramah lingkungan untuk aktivitas jarak dekat.
Gerakan ini dipandang sebagai bagian dari praktik ibadah yang selaras dengan ajaran Islam untuk menjauhi sikap berlebihan dalam konsumsi.
Puasa sebagai Jihad Akbar
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PP ‘Aisyiyah, Masyitoh Chusnan, menegaskan bahwa puasa memiliki makna lebih luas sebagai jihad akbar, yakni perjuangan melawan dorongan keserakahan manusia.
Menurutnya, pengendalian diri selama Ramadan bukan hanya terkait makanan dan minuman, tetapi juga menyangkut cara manusia mengelola sumber daya alam dan energi. Ia menekankan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Lingkungan, kata dia, akan memberi manfaat jika manusia memperlakukannya dengan baik.
Puasa dan Etika Penggunaan Energi
Perspektif serupa disampaikan Ketua Bidang Pemberdayaan Masyarakat Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Mohammad Nurcholis. Ia menyoroti hubungan erat antara gaya hidup modern, konsumsi energi, dan tantangan perubahan iklim.
Menurutnya, energi tidak semata listrik, tetapi juga mencakup proses produksi, distribusi, hingga mobilitas harian manusia. Karena itu, puasa dapat menjadi pendidikan moral untuk menggunakan energi secara efisien serta menghindari perilaku konsumtif. Ia juga menyinggung pentingnya keadilan energi, mengingat masih banyak kelompok masyarakat yang akses energinya terbatas.
Ramadan sebagai Momentum Transformasi Gaya Hidup
Sebagai penutup, moderator kegiatan sekaligus Anggota Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP ‘Aisyiyah, Prof. Yeni Widowaty, menekankan bahwa Ramadan menghadirkan ruang untuk menata ulang pola hidup secara lebih bertanggung jawab terhadap bumi.
Menurutnya, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten—seperti mengurangi sampah dan menghemat energi—dapat berkembang menjadi budaya ramah lingkungan di keluarga maupun komunitas.
Kegiatan Ngaji Lingkungan ini diikuti jajaran pimpinan LLHPB ‘Aisyiyah dari tingkat pusat hingga daerah di seluruh Indonesia, dengan total 89 peserta yang bergabung secara daring. Melalui forum ini, Ramadan diharapkan tidak hanya memperkuat spiritualitas individu, tetapi juga menjadi pintu masuk perubahan sosial menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *