Oleh R. Arif Mulyohadi, Praktisi Hukum dan Akademisi, Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan dan Anggota Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Orwil Jatim
Panjimas – Ramadan selalu punya cara khas mengubah wajah kehidupan. Jam tidur bergeser, aktivitas kantor dan sekolah menyesuaikan, masjid makin hidup, dan kebiasaan tadarus kembali terasa akrab.
Tetapi Ramadan hari ini juga datang bersama realitas baru: layar ponsel yang selalu menyala, notifikasi yang tak berhenti, dan arus informasi yang sering lebih cepat daripada kemampuan kita mencerna.
Di tengah situasi seperti itu, ajakan Back to Al-Qur’an seharusnya tidak berhenti sebagai slogan spiritual, melainkan dibaca sebagai agenda pendidikan publik cara cerdas memanfaatkan Ramadan untuk memperkuat literasi Al-Qur’an pada semua kalangan: anak-anak, remaja, mahasiswa, orang tua, bahkan lansia.
Kita sering bangga karena Ramadan membuat masjid ramai dan kegiatan keagamaan melimpah. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kebiasaan itu benar-benar meningkatkan kualitas bacaan, memperdalam pemahaman, dan memperhalus perilaku?
Banyak orang mampu mengikuti tadarus, tetapi masih terbata-bata ketika membaca sendiri. Banyak yang rajin menyimak tausiyah, tetapi belum tentu memahami pesan ayat yang dibaca.
Ada pula yang sudah lancar membaca, tetapi belum terbiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai untuk menata lisan, etika bermedia, dan hubungan sosial. Maka, tantangan kita bukan kekurangan kegiatan, melainkan bagaimana merancang kegiatan yang berdampak.
Lima Tingkat
Literasi Al-Qur’an perlu dipahami sebagai proses bertahap, bukan kemampuan tunggal. Dalam pengertian literasi modern, membaca bukan hanya soal mengeja, melainkan pintu menuju pemahaman, refleksi, dan tindakan.
Karena itu, literasi Qur’ani seharusnya mencakup setidaknya lima tingkat. Pertama, kemampuan membaca dengan benar: mengenal huruf, melafalkan makharij, dan menerapkan tajwid dasar.
Kedua, memperbaiki bacaan (tahsin), sehingga tilawah menjadi lebih tertib dan nyaman didengar.
Ketiga, menguatkan hafalan sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengejar jumlah, melainkan membangun kedekatan yang rutin.
Keempat, memahami makna dasar: minimal tahu terjemah, kosa kata kunci, dan konteks singkat.
Kelima, tadabbur dan implementasi: mengaitkan pesan ayat dengan sikap hidup, seperti kejujuran, disiplin, kepedulian, menahan amarah, dan menjaga lisan.
Di sinilah sering terjadi kekeliruan: literasi Al-Qur’an dipersempit menjadi “bisa membaca” saja.
Padahal, bacaan yang baik bukan tujuan akhir. Ia pintu yang membuka ruang pemahaman. Namun kita juga tidak perlu bersikap keras pada mereka yang baru belajar.
Quraish Shihab menegaskan membaca Al-Qur’an meski belum paham tetap bernilai sebagai langkah awal. Dari bacaan itu, seseorang bisa digerakkan untuk belajar lebih jauh.
Pesan ini penting agar pendidikan Al-Qur’an tidak mematahkan semangat pemula. Yang perlu dilakukan adalah menuntun proses itu secara bertahap, manusiawi, dan konsisten, agar bacaan tidak berhenti pada bunyi, melainkan naik menjadi pemaknaan dan pengamalan.
Mengapa Ramadan sangat efektif untuk agenda ini? Karena Ramadan menyediakan ekosistem belajar yang jarang ditemukan pada bulan lain.
Pertama, suasananya mendukung: ada dorongan sosial untuk memperbanyak tilawah dan menghadiri pengajian.
Kedua, motivasi intrinsik meningkat: banyak orang lebih mudah menerima pembiasaan baik karena dorongan spiritual lebih kuat.
Ketiga, komunitas menjadi kelas besar: keluarga, sekolah, masjid, TPQ, dan majelis taklim bergerak bersama.
Keempat, tujuan pembelajarannya jelas: memperbaiki hubungan dengan wahyu sekaligus memperbaiki akhlak.
Jika ekosistem ini dikelola dengan baik, Ramadan bisa menjadi kurikulum publik yang ringkas tetapi terasa hasilnya.
Agar Ramadan benar-benar menjadi platform pendidikan, lembaga formal perlu berperan sebagai pengarah sistem, sementara lembaga informal menjadi penguat kebiasaan.
Di sekolah dan madrasah, kegiatan tadarus sebelum pelajaran atau pesantren Ramadan sering dilakukan. Namun agar tidak berubah menjadi rutinitas kosong, kegiatan itu perlu diberi target minimal dan pendampingan yang jelas.
Misalnya, dalam 30 hari Ramadan, siswa ditargetkan mampu membaca lebih lancar, menguasai kaidah tajwid dasar tertentu, dan memahami beberapa pesan ayat yang relevan dengan kehidupan mereka.
Program bisa disederhanakan: setiap pagi atau sebelum pelajaran, baca beberapa ayat bersama. Setelah itu, guru menyampaikan satu pesan nilai yang singkat dan aplikatif, lalu siswa diminta menyebut satu tindakan kecil yang akan dilakukan hari itu.
Pola tilawah–makna–aksi seperti ini terasa sederhana, tetapi ia menghubungkan Al-Qur’an dengan perilaku nyata.
Peran guru sangat menentukan. Literasi bacaan sulit meningkat jika guru pendamping tidak punya peta kemampuan murid. Karena itu, asesmen ringan di awal Ramadan penting dilakukan: siapa yang masih terbata-bata, siapa yang sudah lancar tetapi tajwidnya perlu dibenahi, siapa yang bisa menjadi pendamping teman sebaya.
Dari peta ini, sekolah bisa membuat kelas bertingkat atau kelompok kecil. Model pendampingan sebaya juga efektif, terutama pada tingkat SMP/MA atau mahasiswa, karena mereka sering lebih nyaman belajar bersama teman.
Kuncinya bukan membuat program rumit, melainkan memastikan pendampingan berjalan rutin dan koreksi bacaan dilakukan dengan adab.
Di perguruan tinggi, pendekatan dapat diperluas. Kampus bisa menjadikan Ramadan sebagai ruang literasi Qur’ani yang dialogis: halaqah tafsir tematik, diskusi etika profesi, kajian keadilan sosial, literasi digital berbasis nilai, atau refleksi tentang tanggung jawab ilmu.
Tujuannya bukan menggantikan disiplin ilmu, melainkan menambahkan orientasi moral dan kemanusiaan pada ilmu.
Buya Syafii Maarif berkali-kali mengingatkan pentingnya literasi yang mencerdaskan dan menyejukkan. Al-Qur’an semestinya menjadi sumber hikmah yang memerdekakan, bukan alat untuk menghakimi.
Sikap ini sangat relevan di kampus: literasi Qur’ani yang matang akan melahirkan nalar yang jernih, akhlak yang santun, dan keberanian moral dalam kehidupan publik.
Namun lembaga formal tidak akan cukup jika tidak disambung oleh lembaga informal keluarga, masjid, TPQ, dan pesantren.
Keluarga
Keluarga adalah sekolah pertama sekaligus ruang paling efektif membentuk kebiasaan. Banyak orang tua ingin anak dekat dengan Al-Qur’an, tetapi bingung memulai.
Padahal, langkah paling efektif sering kali paling sederhana: tetapkan jadwal yang realistis, misalnya tadarus 10–15 menit setelah Magrib.
Bagi anak yang masih belajar, cukup satu atau dua halaman, lalu orang tua memberi satu pertanyaan reflektif: Ayat ini mengajarkan kita menjadi orang seperti apa? Jika orang tua tidak mampu menjelaskan panjang, cukup tunjukkan terjemah sederhana dan satu pesan moral.
Anak-anak sering tidak membutuhkan ceramah panjang; mereka membutuhkan teladan, suasana, dan konsistensi.
Masjid dan TPQ dapat memperluas akses literasi Al-Qur’an, termasuk untuk remaja, orang dewasa, dan lansia. Banyak jamaah dewasa sebenarnya ingin memperbaiki bacaan, tetapi malu karena merasa sudah terlambat.
Di sinilah masjid dapat mengambil peran yang meneduhkan: membuat kelas tahsin bertingkat (pemula–menengah–lanjut), mengatur jadwal yang ramah pekerja, dan memastikan suasana belajar tidak menghakimi.
Model kelas yang singkat namun rutin biasanya lebih efektif: 45–60 menit, fokus pada satu kaidah, lalu latihan bacaan dan koreksi. Untuk kelas tadabbur, masjid dapat memilih ayat-ayat tematik yang dekat dengan keseharian, seperti menjaga lisan, menepati janji, etika bertetangga, dan kepedulian pada yang lemah.
Pesantren memiliki keunggulan dalam menjaga kedalaman pembelajaran talaqqi, adab, hafalan, dan kehidupan kolektif.
Di era digital, pesantren juga berpotensi menjadi pusat pendidikan etika: bagaimana menggunakan teknologi untuk kebaikan, bagaimana memilah informasi, dan bagaimana menjaga adab belajar.
Literasi Qur’ani hari ini perlu disandingkan dengan literasi digital yang bertanggung jawab. Gawai dan aplikasi bisa membantu belajar tajwid dan mengakses tafsir, tetapi ia juga mudah menjadi sumber distraksi. Maka, etika penggunaan teknologi harus menjadi bagian dari pendidikan Ramadan: kapan gawai dipakai untuk belajar, kapan harus disimpan agar fokus dan kekhusyukan terjaga.
Tantangan
Tentu ada tantangan yang perlu diakui dengan jujur. Pertama, distraksi digital. Banyak orang merasa membaca Al-Qur’an “terganggu” oleh notifikasi, pesan grup, atau kebiasaan berpindah aplikasi.
Ini bukan sekadar masalah moral, tetapi masalah kebiasaan. Karena itu, strategi yang dibutuhkan juga praktis: mengaktifkan mode senyap saat tilawah, memilih waktu yang stabil, dan menyiapkan ruang kecil yang nyaman.
Kedua, formalisme kegiatan. Ramadan sering penuh acara, tetapi minim evaluasi. Kita perlu ukuran yang lebih bermakna: bukan hanya berapa kali khatam, tetapi apakah bacaan membaik, pemahaman meningkat, dan perilaku berubah.
Ketiga, ketimpangan akses pembimbing. Tidak semua wilayah memiliki guru tahsin yang memadai.
Solusinya adalah melatih kader lokal, memperkuat kolaborasi antar lembaga, serta memanfaatkan pembelajaran daring untuk penguatan, tanpa mengorbankan talaqqi dan koreksi bacaan yang akurat.
Karena itu, rancangan yang sederhana tetapi terukur sangat dibutuhkan. Setidaknya ada lima langkah yang dapat diterapkan lintas lembaga. Pertama, lakukan pemetaan kemampuan awal: siapa yang perlu belajar dari dasar, siapa yang perlu tahsin, siapa yang siap masuk penguatan makna.
Kedua, tetapkan target realistis 30 hari: misalnya bacaan lebih lancar, menguasai beberapa kaidah tajwid dasar, menghafal sejumlah ayat tematik, dan menerapkan tiga sampai lima kebiasaan akhlak.
Ketiga, gunakan model tilawah–makna–aksi yang mudah: baca beberapa menit, pahami satu pesan, lalu buat satu tindakan kecil harian.
Keempat, bangun kolaborasi formal–informal: sekolah memberi panduan ringkas yang bisa dipakai keluarga dan masjid, sementara masjid menyediakan ruang latihan bagi warga sekitar.
Kelima, dorong literasi digital Qur’ani: manfaatkan teknologi untuk belajar, tetapi tetapkan adab dan batas agar tidak berubah menjadi distraksi.
Kita perlu menyadari bahwa masyarakat tidak kekurangan semangat Ramadan. Yang sering kurang adalah desain pendidikan yang membuat semangat itu berbuah.
Jika Ramadan dikelola sebagai ruang belajar bersama, literasi Al-Qur’an tidak akan berhenti pada bunyi bacaan, tetapi melahirkan cara berpikir yang lebih jernih, cara merasa yang lebih lembut, dan cara bertindak yang lebih bertanggung jawab.
Dalam masyarakat yang mudah terbelah oleh hoaks, kebencian, dan polarisasi, literasi Qur’ani yang matang adalah kebutuhan publik: bacaan yang benar, pemahaman yang lapang, dan akhlak yang menyejukkan.
Ramadan adalah momentum, tetapi Al-Qur’an adalah arah. Pendidikan di sekolah, masjid, pesantren, dan rumah adalah jembatan agar momentum itu tidak berlalu tanpa bekas.
Bila kita mampu memanfaatkan 30 hari ini sebagai kurikulum publik yang sederhana, maka selepas Idulfitri, kedekatan dengan Al-Qur’an tidak akan ikut meredup. Ia justru menjadi kebiasaan baru yang terus menyala, menguatkan pribadi, keluarga, dan masyarakat













