Jember, panjimas — Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. Emil Elestianto Dardak, M.Sc., menegaskan bahwa Muhammadiyah telah lebih dahulu hadir dan berkiprah di bidang pendidikan bahkan sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam Kajian Ramadan 1447 H/2026 di Universitas Muhammadiyah Jember. Di hadapan pimpinan wilayah, organisasi otonom, dan civitas akademika, Emil mengajak hadirin menengok kembali jejak panjang kontribusi persyarikatan.
“Kontribusinya Muhammadiyah di bidang pendidikan sudah dimulai bahkan sebelum negara ada,” ujarnya.
Menurut Emil, fakta historis tersebut menegaskan bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi dakwah, melainkan gerakan sosial yang ikut membangun fondasi intelektual bangsa.
Ia menyoroti perkembangan amal usaha Muhammadiyah (AUM) di Jawa Timur yang dinilainya sangat signifikan. Ratusan sekolah dasar dan menengah, madrasah, hingga sedikitnya delapan perguruan tinggi berdiri dan aktif mencetak generasi muda. Emil bahkan mengaku hampir seluruh kampus Muhammadiyah di Jawa Timur pernah ia kunjungi.
Fakta itu, lanjutnya, memperlihatkan bahwa Muhammadiyah merupakan kekuatan sosial yang nyata dalam pembentukan fondasi bangsa.
“Tugas mencerdaskan kehidupan bangsa tidak mungkin ditanggung 100 persen oleh pemerintah. Muhammadiyah sudah mengambil peran strategis itu sejak lama,” tegasnya.
Emil menilai keunggulan Muhammadiyah tidak hanya bertumpu pada banyaknya lembaga pendidikan, tetapi juga pada konsolidasi gerakan yang ditopang struktur organisasi yang solid. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, menurutnya, menjadi simpul penting dalam menjaga arah dan visi besar perserikatan.
Peran Aisyiyah
Ia juga mengapresiasi peran Aisyiyah yang terus mengembangkan kapasitas kelembagaan, termasuk melalui Aisyiyah Technical Center (ATC). Profesionalisme dalam pengelolaan Amal Usaha, kata Emil, menjadi kunci agar gerakan tetap relevan menghadapi tantangan zaman.
Tak hanya menyinggung sektor pendidikan, Emil mengaitkan peran Muhammadiyah dengan tantangan era disrupsi teknologi dan artificial intelligence (AI). Menurutnya, lembaga pendidikan Muhammadiyah memiliki fondasi nilai yang kuat untuk melahirkan generasi yang tangguh.
“Kita membutuhkan generasi yang cerdas, nasionalis, dan berakhlak baik. Kecerdasan tanpa moral bisa menyesatkan,” ujarnya.
Ia menegaskan, sejak awal berdiri Muhammadiyah menunjukkan nasionalisme yang tinggi melalui kontribusinya dalam mencerdaskan bangsa sekaligus memperkuat komitmen kebangsaan.
Momentum Kajian Ramadan ini, lanjut Emil, menjadi pengingat pentingnya memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan Muhammadiyah. Dengan sejarah panjang dan jaringan pendidikan yang luas, Muhammadiyah dinilai tetap menjadi mitra strategis negara dalam membangun sumber daya manusia.
“Insyaallah, dari lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah inilah lahir generasi yang mampu menjawab tantangan zaman dan memimpin perubahan,” ujarnya













