Yogyakarta, panjimas – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saad Ibrahim, menegaskan bahwa tauhid merupakan puncak ajaran Islam sekaligus ruh kemajuan Persyarikatan dalam menggerakkan dakwah dan amal usaha.
Hal tersebut disampaikan dalam Materi I Pengajian Ramadan 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertajuk “Genealogis Pemikiran Akidah di Muhammadiyah: Tinjauan Teologi Islam Klasik” pada Jumat (20/2).
Saad menjelaskan bahwa syirik merupakan lawan dari tauhid dan menjadi dosa yang tidak diampuni oleh Allah SWT, kecuali dilakukan sebelum seseorang memeluk Islam.
Ia merujuk pada firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 48 dan 116 yang menegaskan bahwa Allah tidak mengampuni dosa syirik. Selain itu, ia juga mengutip Surah Al-Anbiya ayat 29 tentang balasan bagi siapa pun yang mengaku sebagai tuhan selain Allah.
“Barang siapa di antara mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Allah,’ maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam. Demikianlah Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang yang zalim,” jelasnya mengutip ayat tersebut.
Saad juga memaparkan secara ringkas historisitas munculnya praktik syirik dalam perjalanan peradaban manusia. Ia menjelaskan bahwa pada masa Nabi Adam hingga Nabi Nuh, ajaran tauhid masih kokoh. Namun dalam perkembangan berikutnya, manusia mulai membuat patung-patung yang awalnya dimaksudkan sebagai pengingat, tetapi kemudian berubah menjadi objek sesembahan.
“Di sinilah kita melihat bagaimana perjalanan sejarah syirik, yang merupakan lawan dari tauhid,” ujarnya.
Tauhid sebagai Fondasi Gerakan Muhammadiyah
Dalam lanjutan materinya, Saad mengajak seluruh warga Persyarikatan untuk meninggalkan segala bentuk syirik dan mengokohkan tauhid sebagai basis ajaran keislaman dan kemuhammadiyahan.
“Tauhid merupakan pokok dan kepala dalam ajaran agama. Dari pemahaman tauhid inilah seluruh bangunan pemikiran dan gerakan Muhammadiyah bertumpu,” tegasnya.
Menurutnya, ruh kemajuan Muhammadiyah dalam seluruh amal usahanya berlandaskan tauhid. Muhammadiyah sangat bergantung pada pemahamannya terhadap Islam, dan bagi Muhammadiyah, Islam adalah agama yang berkemajuan.
Pemahaman tersebut, lanjutnya, melahirkan gerakan dan amal usaha yang berkemajuan dengan menjadikan Islam sebagai basis dan fondasi utama.
Dengan demikian, Saad meyakini bahwa konsep kemajuan dalam Muhammadiyah bukanlah kemajuan yang lepas dari nilai dan landasan agama, melainkan kemajuan yang berakar kuat pada ajaran tauhid yang membentuk Akidah Islam Berkemajuan.
Berlandaskan tauhid yang kokoh serta menjauhi segala bentuk syirik, arah gerakan, pemikiran, dan pengembangan amal usaha Muhammadiyah diyakini akan mampu menjawab tantangan zaman ke depan












