BeritaMuhammadiyahNasionalNews

AUM sebagai Puncak Tauhid: Cinta kepada Allah yang Membebaskan dan Menyejahterakan

122

Yogyakarta, panjimas – Puncak kecintaan kepada Allah SWT adalah menyedekahkan harta yang paling dihargainya untuk orang lain – sesuai dengan jalan Tuhan. Bagi Muhammadiyah kecintaan itu diwujudkan dalam bentuk Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

 

Hal itu disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy pada Ahad (22/2) dalam Pengajian Ramadan 1447 H di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

 

Mengutip Surat al Insan ayat 8, Muhadjir menyebut, puncak tauhid seorang muslim adalah yang memiliki kerelaan untuk memberikan harta yang dicintainya untuk orang lain, terlebih orang miskin, anak yatim, dan seterusnya.

 

“Muhammadiyah saya lihat kemauan untuk melakukan itu sangat tinggi. Kita sering mengorbankan sesuatu dari diri kita yang sebetulnya itu bukan karena kita tidak butuh. Kita sebetulnya butuh, masih memerlukan, tapi kita memang memberikan apa yang kita masih kita cintai,” kata Muhadjir.

 

Meskipun terdapat perintah untuk menyedekahkan harta yang dicintai, namun dalam Islam juga menekankan perbuatan yang tengahan. Maka, seseorang yang bersedekah tidak boleh secara serta merta sehingga menjerumuskan dirinya ke dalam kesulitan dan kemudaratan.

 

“Orang yang berwakaf besar-besaran sampai dia miskin itu sebetulnya tidak sesuai dengan ajaran Al Qur’an. Yang paling tengah-tengah saja. Jangan terlalu pelit, tapi juga jangan terlalu boros,” katanya.

 

Sikap tengahan, menurut Muhadjir adalah pegangan bagi warga Muhammadiyah dalam beramal kebajikan. Sehingga adanya AUM tidak kemudian menyebabkan kesengsaraan, sebaliknya harus menghadirkan kesejahteraan.

 

Menjaga Kesambungan: Transformasi dan Tantangan Teologi Al Ma’un

Ayat 8 dalam Al Insan juga memiliki keselarasan dengan semangat teologi Al Ma’un yang menjadi pedoman Muhammadiyah dalam membangun Amal Usaha, baik di bidang kesehatan, pendidikan, sosial, termasuk yang teranyar adalah bidang ekonomi.

 

Menatap masa depan dengan segala kompleksitasnya, Muhadjir mendorong supaya dilakukan transformasi teologi Al Ma’un yang selama ini menjadi landasan atau pijakan gerak Muhammadiyah dalam memberikan pertolongan umum.

 

Muhadjir memberikan contoh, pemaknaan terhadap yatim yang awalnya terlalu tekstual. Di tangan Kiai Ahmad Dahlan, yatim dimaknai bukan semata secara biologis, tapi juga sosial – sehingga seorang anak meski berbapak dan ibu, namun peran mereka tidak ada, maka anak itu adalah yatim.

 

Pandangan futuristik untuk memaknai ayat-ayat atau pesan dalam Al Qur’an seperti yang dilakukan Kiai Dahlan perlu dijaga di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, sekaligus menjaga api semangat pembaruan.

 

Terlebih teologi Al Ma’un saat ini mendapat tantangan dari berbagai sisi, lebih-lebih dari pandangan agnostik yang sedang trend di kalangan anak muda. Mereka sudah merasa jenuh dengan urusan ‘ghaib’ dan tidak percaya pada kegaiban.

 

Tantangan lain juga diberikan dari pandangan antithesis. Pandangan ini meski percaya pada Tuhan, tapi tidak menyukai eksistensi Tuhan. Pandangan ini mengajukan argumen, supaya Tuhan ditiadakan, sebab dianggap sebagai pemicu kekacauan karena melahirkan agama-agama.

Exit mobile version