Jakarta, panjimas – Konsep Islam Berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah mendorong umat Islam menghadirkan ajaran agama secara kontekstual tanpa meninggalkan prinsip dasar akidah dan akhlak.
Hal itu mengemuka dalam Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (4/3/2026).
Hadir sebagai pembicara utama, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag. Dia menjelaskan bahwa Islam Berkemajuan menekankan pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an dan sunah, sekaligus terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan.
“Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah di hadapan ratusan peserta.
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Islam Berkemajuan juga mendorong integrasi antara spiritualitas dan kemajuan intelektual. Menurutnya, ajaran agama tidak boleh dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya.
Sikap Moderat
Lebih jauh, Dalilah menegaskan bahwa semangat Islam Berkemajuan juga mendorong umat Islam untuk membangun sikap moderat, menjunjung tinggi integritas moral, serta memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
“Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya.
Ia menilai bulan Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk meneguhkan nilai-nilai tersebut, tidak hanya dalam ibadah personal, tetapi juga dalam sikap dan tanggung jawab sosial sehari-hari.
“Ramadan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya.
Ruang Refleksi Spiritual
Sementara itu, Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si. menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan refleksi spiritual dengan penguatan nilai-nilai intelektual di lingkungan perguruan tinggi.
“Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berintegritas dan berorientasi pada kemajuan bersama.
“Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” ujarnya.
