BeritaInternasionalNasionalNews

Board of Peace Hanya Bertujuan Lemahkan Palestina dan Dunia Islam, Indonesia Harus Segera Keluar

197

 

Jakarta, panjimas – Board of Peace (BoP) bikinan Donald Trump diyakini bertujuan untuk lemahkan Palestina dan kukuhkan dominasi Israel atas Palestina, serta lemahkan Dunia Islam. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa Dewan tsb melibatkan Israel sementara Palestina tidak. Sungguh aneh dan bertentangan dengan nalar jernih bahwa lembaga yg didalihkan untuk membantu rekonstruksi Palestina (Gaza) justeru tidak memasukkan unsur Palestina, pihak yang akan dibantu.

Hal itu disampaikan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan mantan Ketua Umum MUI, Din Syamsuddin. Untuk itu menurut dirinya sesungguhnya Board of Peace adalah kamuflase apalagi sekarang sudah berubah menjadi Board of War (Dewan Peperangan).

“Tragisnya, dengan Board of Peace ternyata israel semakin merajalela menghancurkan Palestina (dengan serangan setiap hari termasuk terhadap Masjid ak-Aqasha pada Bulan Suci Ramadhan), dan dengan dukungan Amerika Serikat menyerang Negara Islam Iran, ketika rakyatnya menunaikan ibadah puasa,” ujar Din, (6/3/26)

Pada sisi lain, serangan terhadap Iran berdimensi mengadu domba antara Iran dan negara-negara Arab, yaitu dengan mendorong peledakan pangkalan militer Amerika Serikat dan instalasi strategis di negara-negara Arab.

Penangkapan Agen Mosad di Arab Saudi dan Qatar yang beraksi provokatif menunjukkan bahwa Israel dan Amerika Serikat telah merancang skenario memporakporandakan Dunia Islam. Penarikan/pelibatan negara-negara Islam lain, seperti Indonesia dan Turkiye merupakan bagian dari tipu daya PM Israel dan Presiden Amerika Serikat yang memang menyandang Islamophobia.

“Di sinilah letak jebakan licik Amerika Serikat & Israel dan kebodohan pihak lain yg akhirnya bungkam terhadap agresi dan invasi Israel terhadap Palestina. Mereka bungkam kala Board of Peace berubah menjadi Board of War. Upaya Indonesia untuk menjadi mediator adalah mimpi,” ungkap Din yang juga Ketua Poros Dunia Wasatiyyat Islam.

Selain pengaruh politik (political leverage) Indonesia yg rendah, kepemimpinannya tidak menampilkan kenegarawanan, juga Indonesianterlanjur terjebak dan tersandera pada kepentingan sepihak. Ditambah lagi memilih pergi ke Iran (negara yg diserang) maka akan mudah dipersepsikan sebagai menyuarakan kepentingan Amerika Serikat dan Israel.

Presiden Prabowo Subianto harus segera berpikir jernih, dan tidak bermain-main dengan amanat konstitusi menghapus segala bentuk penjajahan di muka bumi, serta melaksanakan politik luar negeri bebas aktif. Presiden Prabowo Subianto, berbeda dengan para pendahulunya khususnya Sukarno dan Suharto, dapat dianggap bertindak nyeleneh dan inkonstitusional.

Maka tidak ada pilihan lain bagi Presiden Prabowo Subianto kecuali segera keluar dari Board of Peace dan kembali ke Khittah Kenegaraan Indonesia sejati. Pertemuan-pertemuannya dengan para tokoh dari organisasi-organisasi masyarakat tidak menyelesaikan masalah, karena pertemuan-pertemuan itu bersifat monolog, tidak dialogis.

Mungkin sejenak bisa menjadi panacea, tapi untuk jangka panjang potensial membawa malapetaka. Akibat situasi global Indonesia tidak akan sanggup memikulnya. Jangan remehkan pendapat dari para pakar jernih dan loyal kritis. Para pembantu terdekat Presiden agar tidak cenderung berdalih dengan argumen artifisial dan tidak persuasif, tapi mengedepankan logika dan rasionalitas.

“Saatnya bagi Presiden Prabowo Subianto untuk mengamalkan slogannya kala Pilpres dulu: Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi. Masih ada waktu sebelum terlambat, dan nasi terlanjur menjadi bubur,” pungkasnya.

 

Exit mobile version