Tegal, panjimas– Suasana Pondok Pesantren Muhammadiyah Zaenab Masykur, Adiwerna, tampak berbeda pada Minggu (8/3). Ratusan santri generasi Z berkumpul dalam kegiatan Gerakan Santri Menulis (GSM) 2026 yang diselenggarakan oleh Suara Merdeka Network. Bertepatan dengan 18 Ramadan 1447 H, acara ini menjadi istimewa dengan kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti.
Dalam pembukaannya, pria yang akrab disapa Abe ini menegaskan bahwa santri masa kini wajib menguasai literasi media untuk memproduksi konten yang edukatif, inspiratif, dan tetap berkarakter di tengah arus informasi digital yang kencang.
Menteri Abdul Mu’ti mencairkan suasana dengan berdialog langsung bersama para santri. Ia memantik diskusi melalui tema kegiatan: “Ngaji Kata Membuka Dunia.” Salah satu santri bernama Alma menjawab dengan lugas bahwa membaca adalah jendela wawasan.
Menanggapi hal tersebut, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa “Ngaji Kata” berarti memahami makna terdalam dari setiap informasi. Ia merujuk pada perintah Iqra (bacalah) sebagai pondasi menuntut ilmu. “Semakin banyak membaca, semakin banyak ilmu. Dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu,” pesannya.
Untuk memotivasi peserta, Abdul Mu’ti berbagi kisah masa kecilnya di kampung halaman yang saat itu belum teraliri listrik. Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangatnya untuk terus membaca dan belajar. Kegigihan itulah yang membawanya berkeliling ke lima benua dan berbicara di forum internasional seperti UNESCO.
Menariknya, meski sering tampil di panggung dunia, ia tetap bangga menggunakan bahasa Indonesia dan mencintai bahasa daerah. “Ora ngapak, ora kepenak,” celetuknya yang disambut tawa riuh para santri. Baginya, bahasa daerah adalah identitas budaya yang tak boleh luntur.
Menutup tausiyah literasinya, Abdul Mu’ti memberikan peringatan keras terhadap fenomena scroll culture—kebiasaan menghabiskan waktu hanya untuk menggulir layar media sosial tanpa membaca secara mendalam.
“Jadilah pembaca yang kritis. Lakukan tabayun. Jika menemukan informasi yang meragukan atau berpotensi hoaks, periksa kebenarannya sebelum dipercayai atau disebarkan,” pungkasnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan jurnalis-jurnalis muda dari kalangan pesantren yang mampu mewarnai dunia digital dengan narasi-narasi kebaikan yang berbobot.
