Jakarta, panjimas – Sekjen MUI, Dr Amirsyah Tambunan menyampaikan betapa pentingnnya merajut silaturrahmi guna membangun peradaban Islam yang gemilang.
Pernyataan itu disampaikan Buya Amirsyah Tambunan dalam acara Silaturahmi Idulfitri 1447 H PP Muhammadiyah yang berlangsung di Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Tangerang Selatan, pada hari Selasa (31/3/26).
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, di antaranya Wakil Menteri Fahri Hamzah, anggota DPD RI Irman Gusman, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah sekaligus Mendikdasmen Abdul Mu’ti, Rektor UMJ Ma’mun Murod, serta jajaran pengurus Muhammadiyah dari berbagai tingkatan.
Sekjen MUI itu memaparkan dengan sistematis pentingnya memahami dan mengamalkan pradaban Islam yakni keseluruhan hasil daya cipta, rasa, dan karsa umat Islam yang berlandaskan nilai-nilai ajaran Islam. Telah berkembang dari masa Nabi Muhammad SAW hingga saat ini.
“Peradaban Islam timbul tenggelam hingga mencapai puncak kejayaan. Para ahli sejarah mengkategorikan prabadan klasik (khususnya Abbasiyah), abat pertengan hingga modern ditandai kemajuan bidang ilmu pengetahuan, ekonomi, dan sosial, kedokteran oleh Ibnu Sina yang telah berkembang di dunia Islam,” ujarnya.
Para ahli sejarah memberikan kategori perkembangan peradaban Islam; pertama, era Klasik (650–1250 M) di tandai masa keemasan Islam, termasuk sejak masa Nabi Muhammad, Khulafaur Rasyidin hingga Bani Umayyah, dan Abbasiyah, yang ditandai dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan, sastra, dan teknologi.
“Berdirinya Pusat Peradaban: Baghdad pada masa Harun al-Rasyid (785-809 M) menjadi pusat ilmu pengetahuan, budaya, dan rumah sakit, serta Bait al-Hikmah didirikan oleh al-Ma’mun untuk penerjemahan buku-buku Yunani; kedua, era pertengahan (1250–1800 M) dengan kemunduran pasca jatuhnya Baghdad,” tegasnya.
Namun kemudian menurutnya muncul kembali masa kejayaan melalui tiga Kerajaan Besar: Ottoman (Turki), Safawi (Persia), dan Mughal (India) hingga perkembang di Indonesia masuk pada abad ke-7 melalui kerajaan-kerajaan seperti Samudra Pasai, Aceh, Demak, Mataram Islam, dan Makassar, serta ditandai dengan peninggalan masjid bersejarah seperti Masjid Agung Demak dan Masjid Menara Kudus.
“Ketiga, era modern dikenal dengan sebutan gerakan pembaruan Islam atau tajdid antara lain; pertama, Jamaluddin al-Afghani (1838–1897) sebagai pelopor Pan-Islamisme, ia menyerukan persatuan umat Islam sedunia untuk melawan kolonialisme Barat seperi yang terjadi saat ini,” tandasnya.
Afghani menekankan bahwa Islam adalah agama rasional; kedua,
Muhammad Abduh (1849–1905) salah seorang murid Al-Afghani yang di kenal sebagai reformasi pendidikan di Mesir, khususnya di Universitas Al-Azhar. Ia mendorong penggunaan akal (ijtihad) dalam menafsirkan ajaran Islam agar sesuai dengan perkembangan zaman; ketiga;
Rasyid Rida (1865–1935) salah seorang murid Muhammad Abduh yang menyebarkan pemikiran modernisasi melalui majalah Al-Manar.
Buya Amirsyah juga menekankan pentingnya kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan menjadikan sains dan teknologi modern sebagai bukti majunya pradaban.
Merajud Ukhuwah: Menuai Peradaban.
Para tokoh pembaharu mempunyai karakter suka bersilaturrahmi guna merajut ukhuwah. Hasil dari merajut ukhuwah menuai pradaban dengan mengembangkan pemikiran yang srategis seperti mendorong modernisme Islam melalui pembaruan pemahaman Islam seperti perbaikan (islah) yakni gerakan yang fokus pada perbaikan prilaku tokoh umat dan bangsa yang relevan dengan perkembangan zaman dan konteks modern.
Namun tetap berpegang pada nilai fundamental ushul fiqh : المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح
Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.
Ia menekankan pentingnya kembali pada nilai-nilai keagamaan sambil menerima sains dan teknologi modern. Sebagai modernist terus mendorong rasionalisasi ajaran Islam, membuka pintu ijtihad, dan mengadopsi ilmu pengetahuan modern dan
neo-Modernisme Islam yakni pengembangan lebih lanjut dari modernisme, yang menekankan pada sintesis antara pemikiran tradisional dan metodologi modern dengan tujuan mewujudkan kemaslahatan umum (maslahah ummah).
Menekankan pada karakteristik persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan manusia (ukhuwah insaniah), persaudaran kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) guna mewukudkan keadilan sosial.
“Oleh karena itu menuai peradaban Islam; pertama, meningkatkan pemahaman ajaran agama yang berkemajuan; kedua, perkembangan peradaban fisik dan keilmuan yang luas guna memajukan ilmu pengetanuan dan teknologi melalui para ulama, ilmuan yang mendirikan kelembagan Islam,” kata Buya Amirsyah lagi.
Jasa para ulama seperti Jamalidin al Afgani,
Rasyid Ridha, Muhammad Abduh yang menyebarkan pemikiran modernisasi melalui majalah Al-Manar. Ia menekankan pentingnya kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan menjadikan sains dan teknologi modern sebagai bukti majunya pradaban. Di Indonesia di sambut dengan kegigihan para tokoh pembaharu seperti KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan Muhammad Hasyim Asy’ari pendiri NU sebagai pahlawan Nasional dan tokoh lain.
Salah satu hasilnya para ulama sepakat mendirikan lembaga mempersatukan umat agar terhindar dari ananiyah, hizbiyah melalui wadah Mejelis Ulama Indonesia (MUI) pada 26 Juli 1975 di Jakarta oleh sepuluh perwakilan dari organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam tingkat nasional yakni, Nahdlatul Ulama (NU),
Muhammadiyah
Syarikat Islam,
Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah),
Al-Washliyah,
Mathla’ul Anwar,
GUPPI (Gabungan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam),
PTDI (Pergerakan Tarbiyah Diniyah Indonesia),
Dewan Masjid Indonesia (DMI),
Al-Ittihadiyah.
“Pendirian MUI ini sepaket dalam musyawarah para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim untuk memperkuat Ukhuwah Islamiyah dan persatuan bangsa sebagai pijakan memperkuat pradaban bangsa berdasarkan ukhuwah untuk mempersatukan umat untuk merdeka dan berdaulat sebagai kekuatan pradaban umat,” pungkasnya
