Oleh: Anang Fahmi (Dosen UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto)
Al-Quran Surah Ar-Rahman ayat 33 : “Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, tembuslah. Tetapi kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (energi).” Ayat ini turun 1400 tahun lalu, jauh sebelum manusia menemukan hukum termodinamika, namun sudah menegaskan kebenaran fundamental: peradaban bergantung pada energi.
Kini, perang Iran-Israel-AS membuktikan kebenaran ayat ini dengan cara yang mengerikan. Selat Hormuz—jalur 20% energi dunia—terancam tertutup. Dan Indonesia, negara dengan BBM termurah kedua di ASEAN (Rp 12.300/liter), akan menghadapi tsunami ekonomi yang menghancurkan: kenaikan harga BBM hingga Rp 32.000+ seperti Thailand, atau bahkan Rp 43.600 seperti Singapura. Total biaya penghematan energi darurat: Rp 113 triliun.
Dalam bahasa fisika, ini adalah ujian termodinamika terbesar dalam sejarah modern Indonesia.
*Hukum Kekekalan Energi: Zero-Sum Game Global*
Hukum pertama termodinamika tegas: energi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan, hanya berubah bentuk. Dalam ekonomi global, ini berarti: jika Timur Tengah stop produksi minyak, energi tidak menghilang—tapi redistribusi dengan harga yang jauh lebih mahal.
Data infografis menunjukkan Indonesia mengimpor 4 juta barel minyak per hari dengan ketergantungan impor 70%. Ketika Selat Hormuz tertutup, supply turun drastis tapi demand tetap. Dalam bahasa ekonomi, ini adalah “supply shock”—dan hukum supply-demand tidak pernah salah: harga akan melonjak.
Perbandingan harga BBM ASEAN saat ini: Singapura Rp 43.600, Filipina Rp 32.000+, Thailand Rp 24.000+, Vietnam Rp 20.000+, Indonesia Rp 12.300. Indonesia termurah kedua setelah Malaysia (Rp 14.140) karena subsidi masif. Tapi subsidi ini sustainable hanya jika harga minyak dunia stabil di bawah USD 80-90 per barel.
Dengan perang Iran-AS, harga minyak diprediksi USD 150-250 per barel. Pada harga USD 150, untuk maintain harga BBM Rp 12.300, subsidi yang dibutuhkan bukan lagi Rp 100-200 triliun per tahun, tapi Rp 500-700 triliun. Ini 35-50% dari total APBN. Mustahil.
Surah Al-Baqarah ayat 155 mengingatkan: “Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” Krisis energi adalah ujian kesabaran dan wisdom dalam mengelola sumber daya terbatas.
*Entropi Ekonomi: Dari Teratur Menuju Chaos*
Hukum kedua termodinamika menyatakan: entropi (ketidakteraturan) selalu meningkat. Sistem bergerak dari keteraturan menuju kekacauan kecuali ada energi eksternal yang mengatur ulang.
Ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi “low entropy”—relatif teratur dengan inflasi 2-3%, pertumbuhan 5%, harga pangan terkontrol (meski mahal). Tapi penutupan Selat Hormuz adalah “energy shock” yang akan meningkatkan entropi dramatis.
Cascade effect yang diprediksi: BBM naik → biaya transportasi naik 400-500% → harga sembako naik (cabai sudah Rp 150.000/kg bisa jadi Rp 300.000+) → inflasi 15-20% → daya beli turun → konsumsi turun → produksi turun → PHK massal → pengangguran naik → kemiskinan naik 20-30 juta orang → social unrest.
Ini bukan prediksi pesimistis—ini adalah aplikasi langsung hukum termodinamika pada sistem ekonomi. Seperti gas dalam tabung tertutup yang dipanaskan, tekanan akan naik hingga tabung meledak atau ada katup pelepas tekanan.
Strategi Indonesia : mandatori biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026, efisiensi konsumsi BBM dengan target hemat Rp 59 triliun, program hemat energi di sektor publik, WFH dan efisiensi transportasi, turunkan BBM dan tekan inflasi, akselerasi kendaraan listrik dan konversi LPG, tambahan subsidi dan edukasi hemat energi. Total target penghematan: Rp 113 triliun.
Tapi ini assuming business as usual. Jika Selat Hormuz benar-benar tertutup 3-6 bulan, Rp 113 triliun tidak cukup. Dibutuhkan Rp 500 triliun+ dan restructuring ekonomi fundamental.
*Fiskal dan Ketahanan: Matematika yang Tidak Berbohong*
Infografis menunjukkan asumsi APBN 2026: harga minyak USD 70/barel, kurs Rp 16.500/USD. Realitas saat ini: minyak bisa USD 150-250, kurs bisa Rp 17.000-18.000 jika foreign investment kabur.
Dengan asumsi konservatif minyak USD 150 dan kurs Rp 17.000, untuk impor 4 juta barel/hari: 4 juta x 365 hari x USD 150 x Rp 17.000 = Rp 3.723 triliun per tahun—naik dari sekitar Rp 1.500 triliun di harga normal. Selisih Rp 2.200+ triliun adalah beban tambahan yang harus di-cover entah lewat subsidi (jebol APBN) atau harga naik (hancurkan rakyat).
Skor ketahanan energi Indonesia saat ini: 6,64 dari 10 (kategori tahan). Tapi ini measured pada kondisi normal. Dalam kondisi extraordinary seperti penutupan Selat Hormuz, skor ini bisa anjlok ke 3-4 (kategori rentan).
Produksi minyak domestik Indonesia hanya ~600 ribu barel/hari, sementara konsumsi 1,6 juta barel/hari. Gap 1 juta barel/hari ini yang harus diimpor. Ketergantungan impor 70% membuat Indonesia extremely vulnerable terhadap supply shock.
Surah Yusuf ayat 47-49 mengajarkan wisdom manajemen krisis: tujuh tahun panen baik, simpan sebagai cadangan untuk tujuh tahun paceklik. Indonesia gagal menerapkan prinsip ini—saat harga minyak rendah (2015-2020), kita tidak build strategic petroleum reserve yang cukup. Sekarang krisis datang, kita tidak punya buffer.
*Roadmap Transisi: Terlambat tapi Masih Bisa*
Roadmap transisi energi Indonesia: B40→B50 (kurangi impor solar, hemat Rp 48 triliun), kendaraan listrik (insentif dan SPKLU di kota besar), konversi LPG ke biogas/jargas dari limbah sawit, bioetanol E5+ (tekan impor bensin, target efisiensi 60.000 KL).
Target EBT (Energi Baru Terbarukan): 100 GW dari surya, geothermal, dan hidro. Tapi ini target jangka panjang (2030-2045), sementara krisis adalah sekarang (2026).
Surah Ar-Ra’d ayat 11: “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.” Indonesia harus proaktif adaptasi, bukan reaktif mengeluh.
Tapi realitasnya: transisi energi butuh waktu 10-20 tahun dan investasi ratusan triliun. Kita tidak punya 10-20 tahun. Krisis adalah sekarang. Yang bisa dilakukan dalam 6-12 bulan ke depan:
Pertama, rationing BBM—kuota 50 liter/bulan per kendaraan. Ini unpopular tapi necessary. Kedua, akselerasi WFH 50% untuk sektor formal, kurangi konsumsi BBM transportasi. Ketiga, subsidi targeted—hanya untuk transportasi publik dan sektor esensial, tidak untuk kendaraan pribadi. Keempat, emergency import dari sources alternatif (Venezuela, Rusia) meski dengan political cost. Kelima, activate barter system—tukar komoditas (CPO, batu bara) dengan minyak untuk bypass USD dependency.
*Prediksi Dampak: Three Scenarios*
Skenario optimis (probabilitas 20%): Perang berakhir cepat dalam 1-2 bulan, Selat Hormuz tidak tertutup total, harga minyak spike ke USD 120-140 lalu turun ke USD 90-100. Indonesia bisa survive dengan subsidi tambahan Rp 200-300 triliun, ketat fiscal policy, dan akselerasi efisiensi. Inflasi 8-10%, pertumbuhan turun ke 3-3,5%, manageable dengan political will kuat.
Skenario moderat (probabilitas 50%): Perang berlangsung 3-6 bulan, Selat Hormuz tertutup parsial (30-50% kapasitas), harga minyak USD 150-180. Indonesia terpaksa naikkan BBM jadi Rp 20.000-25.000/liter, subsidi Rp 400-500 triliun, rationing ketat, inflasi 12-15%, pertumbuhan 1-2%, PHK 5-10 juta orang, kemiskinan naik 15-20 juta orang. Severe recession tapi recoverable dalam 2-3 tahun jika handled well.
Skenario pesimis (probabilitas 30%): Perang eskalasi regional atau nuklir, Selat Hormuz tertutup total 6+ bulan, harga minyak USD 200-300. Indonesia mengalami perfect storm: BBM Rp 35.000-50.000/liter (jika tersedia), listrik padam bergilir, industri kolaps, pengangguran 15-20 juta, kemiskinan 30-40% populasi, food shortage, social unrest massal, risiko regime change. Recovery 5-10 tahun.
*Pelajaran Al-Quran: Sabar, Syukur, dan Strategi*
Surah Al-Baqarah ayat 249 menceritakan pasukan Thalut menghadapi Jalut: “Berapa banyak pasukan kecil yang mengalahkan pasukan besar dengan izin Allah.” Tapi ayat ini tidak mengajarkan pasif menunggu mukjizat—Thalut tetap bersiap, berlatih, dan berperang dengan strategi terbaik. Mukjizat datang untuk yang berusaha maksimal.
Indonesia harus kombinasi: doa spiritual untuk diplomatic solution perang cepat selesai, dan preparasi material maksimal untuk worst case scenario. Build strategic reserve, diversifikasi energy sources, akselerasi transisi ke renewable, dan yang terpenting: edukasi publik tentang conservation.
Kita tidak bisa kontrol angin geopolitik, tapi kita bisa adjust layar ekonomi kita. Rp 113 triliun yang dianggarkan untuk penghematan energi adalah langkah awal. Tapi jika badai datang lebih besar dari prediksi, kita butuh layar lebih besar, perahu lebih kuat, dan awak kapal yang lebih tangguh.
Sejarah mencatat: peradaban yang survive bukan yang terkuat atau terkaya, melainkan yang paling adaptif terhadap perubahan. Indonesia di ujian adaptasi terbesarnya sejak krisis 1998. Apakah kita lulus atau gagal, tergantung keputusan hari ini.
Wallahu a’lam bissawab.
