Uncategorized

Abdul Mu’ti Kupas Makna Halalbihalal: Membuat Sehat, Bahagia, Cerdas

24

Panjimas – Tradisi halalbihalal memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Selain menjadi tradisi khas, halalbihalal juga mampu membentuk hidup yang sehat, bahagia, dan cerdas.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa halalbihalal merupakan tradisi yang hanya ada di Indonesia dan tidak berkaitan langsung dengan syariat agama, melainkan bentuk pengamalan nilai-nilai agama secara kreatif.

“Halalbihalal tidak berkaitan dengan syariat suatu agama, tetapi tradisi yang berangkat dari pengamalan ajaran agama yang nilai dasarnya tidak hanya berkaitan dengan bagaimana agama itu dipahami, tapi juga bagaimana agama diamalkan secara kreatif, sehingga nilai universal agama bisa diterima oleh semua kalangan,” ujar Abdul Mu’ti, dalam Halalbihalal Nasional bertajuk Semangat Syawal Meningkatkan Mutu Pendidikan, yang diikuti jajaran pimpinan dan karyawan di Jakarta serta secara daring se-Indonesia, Selasa (30/3/2026).

Selain halalbihalal, ia menyebut tradisi khas Indonesia lainnya adalah mudik. Tradisi ini7 bahkan tidak hanya dilakukan oleh umat Islam. Abdul Mu’ti mengaku dirinya termasuk “mudiker militan”.

“Saya termasuk mudiker militan, selalu mudik dan sudah harus berada di kampung halaman sebelum adzan magrib berkumandang,” tuturnya.

Ia menjelaskan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik secara harfiah berarti kembali ke udik. Namun secara spiritual, mudik bermakna kembali kepada keaslian fitrah manusia.

Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti menguraikan makna halalbihalal dan mudik melalui rumus 3R, 3O, dan 3S.

Pada konsep 3R, yakni refreshing, reunion, dan recreation, ia menjelaskan bahwa mudik mengandung makna penyegaran spiritual dan sosial.

“Spiritual refreshing penyegaran spiritual setelah selesai berpuasa selama Ramadan kembali kepada fitrahnya yaitu makan dan minum seperti biasa,” jelasnya.

Namun, menurutnya, penyegaran spiritual belum sempurna tanpa diikuti social refreshing, yakni memperbaiki hubungan sosial melalui saling memaafkan.

Pada aspek reunion, ia menegaskan pentingnya bersatu kembali setelah saling memaafkan.

“Reuni menjadikan kuat karena bersatu saling memaafkan, klir semuanya mulai dari yang baru,” tandasnya.

Sementara recreation dimaknai sebagai rekreasi dalam arti luas, termasuk menikmati perjalanan mudik meski dalam kondisi macet.

“Ketika pikiran dan hati segar, gagasan dan semangat baru muncul,” ujarnya.

Selanjutnya, konsep 3O terdiri dari open mind, open heart, dan open house. Ia menekankan pentingnya keterbukaan pikiran dalam menerima perbedaan.

Ia juga mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib, “Unzhur maa qaala walaa tanzhur man qaala,” yang berarti memperhatikan apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan.

“Saya kalau turun ke lapangan, banyak ide bagus saya peroleh dari mereka, yang tidak pernah kita kenal sebelumnya,” tutur Mu’ti.

Untuk open heart, ia menekankan pentingnya kelapangan hati dalam memaafkan.

“Dalam bahasa Jawa jembar manah. Kalau hatinya sempit tidak salah pun disalahkan,” ujarnya, seraya mengutip ungkapan Arab bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Sedangkan open house dimaknai sebagai tradisi membuka rumah dan menjalin relasi sosial yang lebih baik.

Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menjelaskan konsep 3S, yakni sejahtera, sehat, dan smart (cerdas). Ia mengutip buku The Village Effect karya Susan Pinker yang menjelaskan pentingnya interaksi sosial tatap muka.

Menurutnya, masyarakat yang terbuka, ramah, dan menjunjung gotong royong cenderung memiliki tingkat kebahagiaan dan harapan hidup yang lebih tinggi.

Ia juga mengutip hadis riwayat Muhammad, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahim.”

“Insya Allah dengan mengamalkan 3R kemudian 3O itu kita mencapai 3S. Inilah yang perlu kita bangun di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah rumah kita bersama,” imbaunya.

“Mari kita bangun relasi dengan memperkuat budaya ramah, memperkuat budaya, dan tata kelola yang santun. Karena dengan itu insya Allah kita bisa mencapai keberhasilan dan kesuksesan bersama-sama,” pungkas Abdul Mu’ti.

Exit mobile version