BeritaInternasionalNews

Sikap Posisi UEA terhadap Situasi Perang dan Agresi Iran secara Sepihak yang Menargetkan UEA serta Sejumlah Negara di Kawasan

60
×

Sikap Posisi UEA terhadap Situasi Perang dan Agresi Iran secara Sepihak yang Menargetkan UEA serta Sejumlah Negara di Kawasan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Kedutaan Besar Uni Emirat Arab di Jakarta merasa bangga atas hubungan yang terjalin dengan antara rekan-rekan media di Indonesia yang berlandaskan rasa saling percaya. Kedubes UEA memandang media bukan sekadar sebagai pengamat, tetapi sebagai mitra strategis dalam menyampaikan narasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.

“Saya juga ingin menyampaikan penghargaan serta salam hangat kepada Yang Mulia para Duta Besar dan Kepala Perwakilan dari negara-negara anggota GCC dan Yordania, serta para mitra terhormat dari organisasi, institusi, dan komunitas keagamaan di Indonesia,” ujar Dubes UEA

Kedubes UEA menyampaikan pembaruan informasi yang jelas dan berbasis fakta mengenai agresi Iran yang sedang berlangsung, yang menargetkan Uni Emirat Arab, negara-negara anggota GCC, serta Yordania. Selain itu, kami juga akan menyampaikan penilaian yang seimbang mengenai implikasi yang lebih luas dari agresi tersebut.

Sejak dimulainya serangan-serangan tersebut, Uni Emirat Arab bersama mitra-mitra GCC dan Yordania telah berhasil mencegat sebagian besar rudal dan drone Iran yang diarahkan ke wilayah mereka.

Per tanggal 7 April 2026, sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab telah berhasil mendeteksi dan mencegat:

 520 rudal balistik

 26 rudal jelajah

 2.221 drone.

Namun demikian, terlepas dari keberhasilan sistem pertahanan ini, puing-puing dari senjata-senjata yang telah dicegat tersebut jatuh di kawasan sipil. Hal ini mengakibatkan 13 warga sipil meninggal dunia, 217 orang luka-luka, serta kerusakan pada infrastruktur vital seperti bandara, pelabuhan, fasilitas energi, dan kawasan permukiman.

Fakta-fakta ini secara jelas menunjukkan bahwa serangan-serangan tersebut tidak terbatas pada target militer.

Dari sudut pandang ini, saya ingin menegaskan bahwa data tersebut membantah klaim Iran bahwa serangannya hanya menargetkan pangkalan dan fasilitas militer.

Apa yang kita saksikan adalah pergeseran berbahaya menuju penargetan infrastruktur sipil dengan tujuan melemahkan stabilitas ekonomi, bukan untuk mencapai tujuan militer yang sah.

“Oleh karena itu, izinkan saya menegaskan satu hal dengan sangat jelas: Ini bukan konflik agama.

Upaya untuk membingkai konflik ini sebagai perang agama adalah menyesatkan dan tidak mencerminkan realitas yang terjadi,” tabdasnya

Ini adalah persoalan keamanan, kedaulatan, dan hukum internasional, bukan agama.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah pola yang terlihat saat ini, yaitu Iran mengarahkan sebagian besar serangannya ke negara-negara tetangganya yang bukan pihak yang memulai eskalasi dan tidak menyerukan perang ini.

Statistik terbaru menunjukkan bahwa sekitar 85% rudal dan drone Iran diluncurkan ke arah negara-negara GCC dan Yordania, sementara hanya sekitar 15% yang menargetkan Israel.

Berdasarkan realitas ini, saya mengajak seluruh negara di dunia Islam, termasuk Republik Indonesia dan rakyatnya yang ramah, untuk menilai situasi di Timur Tengah secara seimbang, tanpa dipengaruhi oleh narasi emosional yang bertentangan dengan fakta.

Saya juga mendorong sikap netral yang disertai solidaritas serta dukungan terhadap negara-negara Arab dan negara-negara Islam lainnya yang terdampak oleh konflik yang sedang berlangsung.

Uni Emirat Arab, negara-negara GCC, dan Yordania telah menunjukkan sikap menahan diri, tanggung jawab, serta disiplin. Kami tidak membalas dengan cara yang sama, meskipun menghadapi serangan berulang.

Kami meyakini bahwa kepemimpinan tidak diukur dari eskalasi, melainkan dari kemampuan untuk mencegah meluasnya konflik.

Respons Uni Emirat Arab merupakan bagian dari upaya terpadu dan terkoordinasi bersama negara-negara GCC dan Yordania. Di bawah kepemimpinan Yang Mulia Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Uni Emirat Arab, telah dilakukan komunikasi aktif dengan para pemimpin dunia, termasuk Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, guna mendorong de-eskalasi dan koordinasi internasional.

Pada saat yang sama, para pemimpin di kawasan GCC, termasuk Yordania, juga melakukan upaya diplomatik serupa yang mencerminkan posisi kawasan Teluk yang bersatu.

Sejalan dengan itu, Yang Mulia Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, memimpin upaya diplomatik intensif dengan para menteri luar negeri di berbagai negara, termasuk Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Bapak Sugiono.

Sebanyak 136 negara dan organisasi internasional telah menyampaikan kecaman terhadap agresi tersebut, yang menegaskan kuatnya solidaritas komunitas internasional terhadap UEA, negara-negara GCC, dan Yordania.

Dukungan tersebut juga tercermin melalui pengesahan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817 yang bersejarah, serta adopsi secara konsensus resolusi Dewan Hak Asasi Manusia PBB mengenai implikasi hak asasi manusia dari serangan Iran, yang didukung oleh lebih dari 100 negara.

Hal ini menunjukkan bahwa Uni Emirat Arab memimpin secara diplomatik, sekaligus bertindak selaras dengan negara-negara GCC dan Yordania dalam menghadirkan suara kawasan Teluk yang bersatu dan bertanggung jawab.

Di tengah berbagai tantangan ini, izinkan saya menegaskan bahwa Uni Emirat Arab tetap aman, stabil, dan sepenuhnya siap:

 Sistem pertahanan kami sangat efektif

 Institusi kami beroperasi secara penuh

 Lebih dari 200 kewarganegaraan asing tetap berada dalam kondisi aman dan harmonis.

Pada saat yang sama, perekonomian Uni Emirat Arab tetap tangguh. Kami memiliki tingkat likuiditas perbankan yang kuat, dengan rasio kecukupan modal sekitar 17% dan rasio cakupan likuiditas melebihi 146,6%, jauh di atas standar internasional.

Sektor perbankan kami memiliki aset lebih dari 5,4 triliun dirham UEA, dengan permodalan dan likuiditas yang solid.

Namun, dampak dari situasi ini tidak terbatas pada kawasan GCC dan Yordania, melainkan bersifat global:

 Sekitar 20% pasokan minyak dunia dan 20% perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz

 Sekitar 80–90% ekspor tersebut menuju Asia.

Gangguan di kawasan ini secara langsung memengaruhi pasar global, termasuk:

 Kenaikan harga energi

 Peningkatan biaya pengiriman dan transportasi

 Tekanan terhadap rantai pasok global.

Dalam konteks ini, Indonesia juga terdampak melalui:

 Kenaikan harga bahan bakar

 Peningkatan harga barang

 Gangguan rantai pasok.

Oleh karena itu, kami menegaskan bahwa ini bukan sekadar isu regional, melainkan isu global.

UEA dan negara-negara GCC dengan tegas mengutuk serangan ini sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Namun demikian, kami tetap berkomitmen pada:

 Diplomasi

 De-eskalasi

 Kerja sama internasional.

Sebagai penutup, UEA bersama negara-negara GCC dan Yordania akan terus memilih:

 Stabilitas dibandingkan eskalasi

 Tanggung jawab dibandingkan reaksi

 Kerja sama dibandingkan konflik.

Kami akan terus bekerja sama dengan para mitra internasional, termasuk Indonesia, untuk mendorong perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *