BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Nomics, Ketika Dakwah Menjadi Kekuatan Ekonomi Umat

7
×

Muhammadiyah Nomics, Ketika Dakwah Menjadi Kekuatan Ekonomi Umat

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, panjimas— Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ayif Fathurrahman, menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada kemampuannya membangun sistem ekonomi yang terstruktur dan berdampak luas bagi masyarakat.

 

Hal itu ia sampaikan dalam ceramah Zuhur di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa (21/04).

 

Menurut Ayif, belakangan ini Muhammadiyah kembali menjadi perbincangan publik, terutama di kalangan generasi muda. Beberapa bulan lalu, istilah “login Muhammadiyah” sempat viral dan mendapat banyak apresiasi dari kalangan milenial serta Gen Z karena dianggap menghadirkan wajah dakwah yang inklusif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

 

Tidak berhenti di situ, dalam sepekan terakhir Muhammadiyah kembali mencuri perhatian publik melalui rencana pembangunan pabrik cairan infus dengan nilai investasi yang besar.

 

Langkah ini membuat banyak masyarakat takjub, khususnya generasi Z dan Alpha, karena melihat Muhammadiyah bukan hanya unggul dalam pendidikan dan kesehatan, tetapi juga semakin serius mengembangkan dakwah di bidang ekonomi.

 

“Banyak yang baru menyadari bahwa Muhammadiyah bukan hanya memiliki sekolah, kampus, dan rumah sakit, tetapi juga mulai berdakwah secara serius di sektor ekonomi sebagaimana amanat Muktamar ke-47 di Makassar,” ujarnya.

 

Ayif menegaskan bahwa DNA utama Muhammadiyah sesungguhnya hanya satu, yakni gerakan dakwah. Namun, dakwah Muhammadiyah tidak terbatas pada ceramah, pengajian, atau dakwah lisan semata. Muhammadiyah juga mengembangkan dakwah bil qalam melalui pemikiran dan tulisan, serta dakwah bil hal melalui aksi nyata dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk ekonomi.

 

Ia menjelaskan bahwa jika dikaji lebih mendalam, Muhammadiyah memiliki model ekonomi yang sangat kuat dan terbukti mampu menyejahterakan bukan hanya anggotanya, tetapi juga masyarakat secara luas.

 

Bahkan, beberapa waktu lalu Muhammadiyah sempat disebut sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan terkaya di Indonesia dengan aset mencapai ratusan triliun rupiah.

 

“Secara ekonomi ini tidak bisa dibantah. Muhammadiyah bukan hanya sukses di pendidikan dan kesehatan, tetapi juga berhasil dalam dakwah ekonominya,” katanya.

 

Ia mengajak jamaah untuk menelaah rahasia keberhasilan Muhammadiyah hingga mampu menjadi organisasi besar dengan banyak amal usaha, aset melimpah, dan pengaruh hingga ke mancanegara.

 

Salah satu kunci utamanya, menurut Ayif, adalah karakter Muhammadiyah sebagai organisasi yang tertib, sistematis, dan masif. Landasan ini tercermin dalam firman Allah Swt. pada Surah Ali Imran ayat 104:

 

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

 

Menurutnya, kata al-muflihūn dalam ayat tersebut sering kali hanya dimaknai sebagai keberuntungan akhirat. Padahal, secara bahasa, al-falāh juga berarti kesejahteraan, keberhasilan, dan keberuntungan, baik secara spiritual maupun material.

 

“Gerakan yang terkonsolidasi, tertib, dan sistematis akan melahirkan al-falah. Bukan hanya keberuntungan akhirat, tetapi juga kesejahteraan dunia,” jelasnya.

 

Dari sinilah, lanjutnya, Muhammadiyah mampu tumbuh menjadi organisasi besar dengan basis kepercayaan masyarakat yang sangat kuat. Ia menilai, modal terbesar Muhammadiyah bukanlah uang atau aset, melainkan trust atau kepercayaan publik.

 

“Modal terbesar Muhammadiyah bukan money, bukan aset, tetapi trust masyarakat kepada organisasi ini,” tegasnya.

 

Kepercayaan itu lahir dari konsistensi Muhammadiyah dalam pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Dengan trust tersebut, Muhammadiyah mampu membangun sinergi dan kolaborasi yang luas, karena dalam dunia bisnis, kolaborasi adalah sebuah keniscayaan.

 

Selain itu, Muhammadiyah juga dinilai memiliki satu visi besar yang sama, meskipun dijalankan melalui misi yang beragam, yakni pemajuan dan kesejahteraan umat.

 

Ayif kemudian membandingkan perkembangan ekonomi Islam di Indonesia dengan Malaysia. Ia menilai perkembangan ekonomi Islam di Indonesia relatif lebih lambat karena sistemnya banyak bergerak dari bawah ke atas (bottom up), yakni dari inisiatif masyarakat yang kemudian diperkuat pemerintah. Sementara di Malaysia, pengembangan ekonomi Islam lebih bersifat top down dan didorong langsung oleh struktur negara.

 

“Muhammadiyah berhasil karena memiliki visi yang sama dan program yang terstruktur. Ini yang membuat infrastruktur ekonominya tumbuh secara tertib dan terkonsolidasi,” jelasnya.

 

Ia menyebut model ini sebagai Muhammadiyah Nomics, yakni pola pembangunan ekonomi yang tidak hanya berfokus pada pasar dan materi, tetapi juga membangun suprastruktur dan ekosistem pendukungnya.

 

Menurutnya, ekonomi tidak cukup hanya berbicara soal produk dan modal, tetapi juga harus membangun sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan, dan kualitas hidup masyarakat. Dalam hal ini, kampus-kampus Muhammadiyah melalui fakultas ekonomi dan bisnis menyiapkan SDM unggul, sementara rumah sakit Muhammadiyah menjaga kualitas kesehatan masyarakat.

 

“Kalau kita bicara indeks pembangunan manusia, Muhammadiyah sudah membangunnya secara terkonsolidasi. Itulah yang kita sebut Muhammadiyah Nomics,” katanya.

 

Di akhir ceramahnya, Ayif menegaskan bahwa Muhammadiyah Nomics dapat menjadi role model bagi pembangunan ekonomi Islam di Indonesia. Selama ini, salah satu kelemahan ekonomi Islam adalah kurangnya konsolidasi visi, strategi, dan gerakan yang sistematis.

 

Karena itu, jika ingin membangun ekonomi Islam yang kuat, umat harus memiliki visi yang sama, strategi yang terarah, dan semangat berjamaah dalam memajukan ekonomi umat.

 

“Visi yang sama maknanya adalah gerakan berjamaah untuk ekonomi umat. Kita butuh kebersamaan agar ekonomi Islam berkembang cepat, tepat, dan berdampak luas,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *