BeritaMuhammadiyahNasionalNews

UMS Integrasikan Manhaj Tarjih dan Nilai Al-Ma’un dalam Baitul Arqam Dosen

12
×

UMS Integrasikan Manhaj Tarjih dan Nilai Al-Ma’un dalam Baitul Arqam Dosen

Sebarkan artikel ini

Surakarta, panjimas – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat integrasi manhaj tarjih dan nilai-nilai ideologi Muhammadiyah dalam dunia akademik melalui rangkaian Baitul Arqam dosen bertempat di Pondok Pesantren Modern Sangen Muhammadiyah, Weru, Sukoharjo, pada Kamis (23/4). Agenda ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dosen yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga ideologis dan sosial.

Kegiatan hari pertama diawali dengan registrasi peserta, pembukaan, serta penyerahan dosen peserta dari Wakil Rektor III Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., kepada Master of Training (MoT) M. Junaidi, S.Ag., M.Ag. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi orientasi, pre-test, dan kontrak belajar sebelum memasuki materi inti yang berfokus pada penguatan ideologi persyarikatan dan manhaj berpikir Muhammadiyah.

Badan Pembina Harian (BPH) UMS, Drs. A. Dahlan Rais, M.Hum., dalam sambutan sekaligus membuka kegiatan menegaskan pentingnya meneladani pemikiran dan perjuangan tokoh Muhammadiyah, khususnya KH Ahmad Dahlan. Ia menekankan bahwa nilai pendidikan dan dakwah Muhammadiyah harus menjadi bagian dari jati diri dosen dalam menjalankan peran akademiknya.

“Manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Kita ditakdirkan hidup bermasyarakat, sehingga nilai kebersamaan, kesetaraan, dan kepedulian harus menjadi dasar dalam kehidupan, termasuk dalam pengabdian kita sebagai dosen,” ujarnya.

Dahlan Rais juga menyoroti pentingnya membangun sikap kepedulian sosial sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an. Ia mengingatkan bahwa konsep ta’awun bukan sekadar menolong, tetapi juga berbagi dan peduli terhadap sesama. “Tidak boleh seseorang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kepedulian sosial itu menjadi bagian penting dari karakter Muhammadiyah,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, ia mengulas pemikiran KH Ahmad Dahlan yang menempatkan manusia sebagai makhluk mulia karena ilmu dan amalnya. Menurutnya, keunggulan manusia terletak pada kemampuannya untuk terus belajar dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan nyata.

“Ilmu itu akan bermakna jika diamalkan. Manusia menjadi mulia karena ilmu dan amalnya. Ini yang harus menjadi ruh dalam pendidikan Muhammadiyah,” jelasnya.

Ia juga menyinggung pentingnya pemahaman terhadap surat Al-‘Alaq dan Al-‘Asr sebagai pondasi gerakan keilmuan dan dakwah Muhammadiyah. Kedua surat tersebut, menurutnya, mengajarkan pentingnya membaca, belajar tanpa batas, serta memanfaatkan waktu untuk amal kebaikan.

Sementara itu, dalam sesi materi manhaj, peserta diajak memahami bahwa sumber utama ajaran Islam tetap Al-Qur’an dan Sunnah, sementara pendapat ulama menjadi instrumen pendukung. Pendekatan tarjih Muhammadiyah juga menekankan penggunaan metode bayani, burhani, dan irfani dalam merespons persoalan kontemporer.

Pendekatan burhani, misalnya, mendorong keterlibatan sains modern dalam pengambilan keputusan keagamaan. Hal ini dinilai penting agar produk pemikiran keislaman tetap relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.

Melalui rangkaian materi, UMS menegaskan komitmennya dalam membangun tradisi akademik yang terintegrasi dengan nilai keislaman dan kemuhammadiyahan. Baitul Arqam diharapkan menjadi ruang transformasi bagi dosen untuk menguatkan ideologi, memperluas wawasan, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *