Sampang, panjimas – Hadir dalam acara Silaturahmi Pimpinan dan Warga Muhammadiyah Kabupaten Sampang, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas dorong Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di Pulau Madura lebih maju.
Dorongan itu disampaikan Buya nwar Abbas pada Ahad (3 /5) di Masjid Dakwah, Jl. Durian 4C, Kabupaten Sampang. Dalam perjalannya ke Madura, Anwar Abbas menyaksikan AUM yang potensial untuk digarap lebih maju lagi, sehingga dapat memberi manfaat lebih besar kepada masyarakat.
“Jadikanlah keadaan yang kita hadapi hari ini di Pulau Madura sebagai sumber motivasi kita untuk melecut diri kita agar ke depan Muhammadiyah Madura betul-betul diperhitungkan,” katanya.
Selain memajukan AUM, Buya Anwar Abbas juga mengingatkan, supaya warga Muhammadiyah juga kesejahteraannya meningkat. Jangan sampai situasi sulit juga dihadapi oleh warga Muhammadiyah di Pulau Madura berterus-terusan.
Oleh karena itu, dia berharap lebih banyak lagi warga Muhammadiyah yang terjun menjadi entrepreneur. Sebagai organisasi swasta, tentu Muhammadiyah membutuhkan dukungan untuk berkembang dan dukungan itu didapatkan dari warganya, serta dari pihak eksternal.
Buya Anwar Abbas menegaskan, supaya jangan sampai ada ketimpangan dalam memajukan Muhammadiyah. Termasuk di Madura yang memiliki potensi luar biasa ini. Maka semangat berlomba-lomba dalam kebaikan juga harus diimplementasikan oleh warga Muhammadiyah di Madura.
“Bila di suatu wilayah atau suatu daerah amal usahanya maju, maka Persyarikatannya akan maju. Sebaliknya, mafhum mukhalafah,” katanya.
Mengajak kembali pada sejarah para tokoh awal Muhammadiyah, Buya Anwar mengatakan, wajah awal Muhammadiyah adalah pedagang. Maka dia berpesan supaya wajah itu jangan dihapus sama sekali, melainkan harus dijaga dan dikembangkan untuk saat ini dan nanti.
“Ini fenomena Muhammadiyah secara nasional, tidak hanya di sini. Kalau kita lihat Muhammadiyah periode awal, Muhammadiyah masa-masa KH. Ahmad Dahlan itu sekitar 25 persen lebih itu pengusaha pedagang,” ungkapnya.
Maka demografi warga Muhammadiyah masa depan harus diimbangkan, selain ada ilmuan tapi juga ada para pedagang. Jangan semua pedagang, juga tidak semua ilmuwan, harus berimbang dengan wajah-wajah lainnya seperti organisatoris, dan lain sebagainya
