Yogyakarta, panjimas — Diskusi bertajuk “Qurbanmu Membahagiakan Sesama” yang diselenggarakan TVMu pada Selasa (12/05) menghadirkan sejumlah narasumber dari lingkungan Muhammadiyah untuk membahas pengelolaan kurban dan dam haji yang lebih tepat sasaran, profesional, serta berorientasi pada kemaslahatan sosial.
Diskusi tersebut menghadirkan Ahmad Imam Mujadid Rais selaku Ketua Badan Pengurus Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah Pusat, Asep Sholahudin dari Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Direktur Penghimpunan Lazismu Pusat Mochammad Sholeh Farabi, Pemimpin Redaksi Tirto.id Rochmaddin Ismail, serta Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat Fauzan Amar. Acara dipandu oleh Ninik Annisa.
Dalam sesi diskusi, Farabi menjelaskan alasan Lazismu menghadirkan program “Kurbanmu”. Menurutnya, program tersebut lahir dari kegelisahan atas praktik distribusi kurban yang selama ini dinilai belum merata.
Ia menyoroti fenomena penumpukan daging kurban di kawasan perkotaan, khususnya di lingkungan masyarakat menengah ke atas yang mayoritas berkurban di masjid sekitar tempat tinggal mereka. Karena daging segar tidak dapat bertahan lama, distribusi biasanya hanya berputar di lingkungan yang secara ekonomi sebenarnya sudah cukup mampu.
“Nah, kita melihat banyak terjadi penumpukan distribusi daging kurban. Sementara di daerah lain konsumsi dagingnya masih sangat kecil,” ujarnya.
Farabi mencontohkan kondisi di sejumlah daerah seperti Nusa Tenggara Timur yang justru banyak memasok hewan kurban ke Pulau Jawa, tetapi masyarakat setempat masih kekurangan akses terhadap daging kurban. Ia juga mengaku menemukan kampung di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta yang masyarakatnya beternak, namun belum pernah melaksanakan kurban sama sekali.
“Kami berkurban di sana dan masyarakat menyambut dengan riang gembira. Hal-hal seperti itu yang menyentuh kami,” katanya.
Selain aspek pemerataan distribusi, Lazismu juga menaruh perhatian pada isu lingkungan. Farabi menyebut penggunaan plastik sekali pakai dalam distribusi daging kurban menjadi persoalan serius yang selama ini kurang diperhatikan.
Menurutnya, Muhammadiyah sebenarnya telah lama mempraktikkan distribusi daging menggunakan besek bambu yang terinspirasi dari praktik kader-kader Muhammadiyah di daerah.
“Mulai 2022 Lazismu Pusat sudah menggunakan besek untuk distribusi daging kurban. Memang lebih mahal, tetapi ini risiko yang harus kami ambil demi menjaga lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan besek tidak hanya mengurangi sampah plastik, tetapi juga memberdayakan para pengrajin lokal.
Selain layanan kurban reguler, Lazismu juga mengembangkan program kurban kemasan berupa rendang kaleng yang mampu bertahan hingga dua tahun. Produk tersebut diproyeksikan menjadi cadangan pangan sekaligus bantuan bagi wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) dan daerah terdampak bencana.
“Kalau daging segar sulit dikirim ke daerah terpencil karena mudah rusak, maka solusi kemasan seperti rendang ini menjadi alternatif,” jelas Farabi.
Tak hanya itu, Lazismu juga membuka program “Sedekah Daging” bagi masyarakat yang belum mampu berkurban. Melalui program tersebut, masyarakat dapat berpartisipasi mulai dari Rp10 ribu untuk mendukung penyediaan hewan kurban dan distribusi pangan berbasis daging.
Penyembelihan Dam harus Sesuai Syariat
Dalam diskusi tersebut, aspek syariah pengelolaan dam juga menjadi perhatian utama. Asep Sholahudin menegaskan bahwa pelaksanaan dam yang dialihkan ke tanah air tetap harus mengikuti ketentuan syariat sebagaimana kurban pada umumnya.
“Di dalam fatwa ditegaskan bahwa penyembelihan dilakukan pada tanggal 10 sampai 13 Zulhijah. Kalau di luar itu maka menjadi sembelihan biasa,” ujarnya saat menjawab pertanyaan peserta dari Jawa Tengah.
Asep juga menjelaskan bahwa tidak terdapat dalil tegas mengenai pembagian kurban secara mutlak sepertiga-sepertiga. Menurutnya, yang ditekankan Al-Qur’an adalah bahwa sahibul kurban boleh memakan sebagian, sementara distribusi utama tetap diperuntukkan bagi fakir miskin, orang yang meminta, dan mereka yang membutuhkan tetapi menjaga kehormatan diri.
Ia menilai persoalan kurban selama ini sering dipahami sebatas praktik rutin tanpa dibarengi edukasi yang memadai.
“Panitia dan sahibul kurban perlu mendapatkan pencerahan. Jangan hanya iuran, tetapi ilmunya tidak ada,” katanya.
Distribusi Pangan yang Merata
Sementara itu, Rochmaddin Ismail menyoroti pentingnya kurban sebagai instrumen redistribusi pangan nasional. Berdasarkan data yang ia paparkan, konsumsi daging merah di Indonesia masih timpang antarwilayah.
Menurutnya, daerah 3T harus menjadi prioritas distribusi karena kurban bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga memiliki dimensi keadilan sosial dan peningkatan gizi masyarakat.
“Kurban sangat penting dalam redistribusi kebutuhan daging merah. Ada misi sosial besar di situ,” ujarnya.
Adapun Fauzan Amar menekankan pentingnya menjaga loyalitas dan kepercayaan para donatur. Ia menyebut transparansi pelaporan dan kedekatan emosional dengan pekurban menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik.
“Kadang semangat mengajak orang berkurban tidak seimbang dengan semangat merawat donatur setelah kurban selesai,” katanya.
Ia mendorong agar Lazismu terus menghadirkan laporan yang detail dan bahkan menayangkan proses penyembelihan secara langsung agar publik semakin percaya terhadap tata kelola kurban dan dam.
Di akhir diskusi, Farabi menjelaskan bahwa pengelolaan program dam nantinya akan menggunakan pola “sentralisasi kebijakan dan desentralisasi pelaksanaan”. Artinya, regulasi ditetapkan pusat, tetapi pelaksanaan dilakukan oleh kantor-kantor Lazismu di daerah bekerja sama dengan berbagai majelis dan lembaga Muhammadiyah setempat.
“Wilayah dan daerah bisa melakukan penghimpunan dan pengelolaan dam sendiri sesuai kebijakan pusat,” jelasnya.
Diskusi tersebut ditutup dengan ajakan kepada seluruh jaringan Lazismu di Indonesia untuk menjadikan pengelolaan kurban dan dam sebagai sarana pelayanan umat yang profesional, transparan, ramah lingkungan, dan berorientasi pada pemerataan kesejahteraan masyarakat
