BeritaKemendikdasmenMendikdasmenNasionalNews

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ungkap Manfaat Deep Learning, 3 Masalah Ini Bisa Teratasi

112

Jakarta, panjimas – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pembelajaran mendalam atau (Deep Learning) bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah dasar pendidikan. Mulai dari penurunan kemampuan siswa (Learning loss), kemiskinan pembelajaran (Learning poverty), hingga fenomena sekolah tapo tanpa belajar atau schooling without learning.

“Pendekatan pembelajaran mendalam berupaya memperbaiki masalah-masalah tersebut dari hulunya,” kata Abdul Mu’ti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (15/5/2026).

“Tentu ini memerlukan proses yang panjang dan kita juga tidak berpendapat bahwa ini bisa menyelesaikan masalah secara cepat. Tapi kita semua harus melihat masalah itu sebagai tantangan untuk kita bekerja lebih baik dan lebih serius lagi,” lanjut dia.

Menurut Mu’ti, tantangan generasi saat ini adalah menghadapi tekanan mental, rendahnya daya fokus, serta kecenderungan berpikir instan akibat budaya digital. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter.

“Sehingga pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi membentuk cara berpikir, nilai, dan kepribadian peserta didik,” ujarnya.

Mu’ti menekankan bahwa peran fasilitator sangat strategis sebagai pionir dalam memastikan implementasi pembelajaran mendalam berjalan efektif di lapangan

Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa hasil asesmen seperti Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak boleh berhenti pada penilaian semata, tetapi harus menjadi dasar perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan.

Maka dari itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) menggelar kegiatan Penguatan TKA melalui Pembelajaran Mendalam bagi Fasilitator Nasional Tahun 2026.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani menyampaikan, kegiatan ini merupakan respons langsung terhadap capaian TKA yang masih perlu ditingkatkan, khususnya matematika dan bahasa Inggris.

“Hal ini menjadi perhatian serius yang harus ditangani bersama, salah satunya melalui penguatan pembelajaran mendalam,” kata Nunuk.

Nunuk mengatakan, pelaksanaan pelatihan pembelajaran mendalam tahun 2025 menunjukkan capaian signifikan, baik dari sisi jangkauan maupun dampaknya terhadap praktik pembelajaran. Program ini melibatkan 186.160 peserta pelatihan yang terdiri atas 52.809 kepala satuan pendidikan dan 133.351 guru dan untuk tahun 2026, Ditjen GTK melakukan penyesuaian strategi berdasarkan evaluasi pelaksanaan sebelumnya melalui penguatan implementasi pembelajaran mendalam dengan pendekatan Teacher Experiential Training (TET).

Pendekatan ini menekankan pembelajaran berbasis praktik, refleksi, dan perbaikan berkelanjutan, sehingga menggeser fokus dari pemahaman konsep menjadi penerapan nyata di kelas.

“Kegiatan ini diselenggarakan secara luring dan daring dengan partisipasi luas dari seluruh Indonesia. Sebanyak 553 peserta hadir secara luring, dan lebih dari 16.000 peserta dari seluruh provinsi hadir secara daring melalui kanal Zoom dan Youtube,” jelas Nunuk.

Exit mobile version