BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Ketum PP Muhammadiyah : Reformasi Pendidikan Harus Berakar pada Tradisi Ilmu dan Literasi

21
×

Ketum PP Muhammadiyah : Reformasi Pendidikan Harus Berakar pada Tradisi Ilmu dan Literasi

Sebarkan artikel ini

YOGYAKARTA, panjimas – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan pandangan mendalam mengenai berbagai aspek krusial dalam reformasi pendidikan nasional dalam acara peluncuran buku karya Arif Jamali Muis yang bertajuk “Dari Ruang Kelas Menuju Ruang Kebijakan: Gagasan untuk Reformasi Pendidikan Indonesia”.

 

Haedar menyoroti lima aspek utama. Dimulai dari kemuliaan tradisi menulis hingga terakhir ia menekankan pentingnya trilogi ilmu, iman, dan amal dalam pendidikan dan membentuk peradaban maju.

 

Pertama, dalam fenomena kekinian masyarakat Indonesia, ia melihat rendahnya minat masyarakat dalam kajian buku. Dalam poin ini ia menyebut bahwa tradisi literasi (membaca dan menulis) untuk keilmuan belum sefavorit dan sepopuler kegiatan-kegiatan massal lainnya.

 

“Saya nggak tahu kenapa pada setiap kajian buku itu tidak banyak yang hadir. Boleh jadi itu karena memang tradisi literasi dan keilmuan kita yang memang belum sefavorit orang-orang yang belanja ke mall,” ujar Haedar dalam agenda yang digelar di Ruang Amphiteater A Fakultas Kedokteran, Kampus 4, Universitas Ahmad Dahlan, pada Sabtu (6/6).

 

Dalam agenda yang berkaitan dengan peluncuran buku ini, Haedar kemudian menyebut bahwa menulis buku atau apapun yang menjadi bagian-bagian integral keilmuan adalah cara dalam merawat, membangun, dan mengembangkan tradisi ilmu itu sendiri.

 

Haedar yang hingga saat ini juga masih aktif dalam menulis, memberikan pengajaran penting bahwa proses menulis adalah suatu proses berpikir yang mahal dan tidak mudah.

 

“Kalau ingin banyak membaca, ya menulis. Dan kalau ingin baik menulis, ya membaca. Jadi, membaca dan menulis itu satu mata rantai yang tidak dapat dipisahkan,” tegasnya.

 

Kedua, ia kemudian mengaitkan hal ini kepada wahyu pertama Al-Quran, “Iqra” dan juga ditambah dengan pemikiran Rene Descartes tentang keilmuan sebagai kunci peradaban.

 

“Kita bisa ikuti logikanya Rene Descarters yang menyebut “Aku berpikir, maka aku ada”. Jadi disini, eksistensi seseotsng itu tergantung pada berpikirnya. Allah juga telah memiliki rencana besar dengan turunnya wahyu pertama Iqra yang kemudian dilanjutkan dengan surat Al Mujadilah ayat 11. Maka itu memberikan pengajaran bahwa eksistensi manusia sebagai kolektif, sebagai bangsa, puncak tertingginya adalah peradaban,” jelas Haedar.

 

Fase Peradaban Islam dan Korelasi Antar Zaman

Ketiga, Haedar kemudian mengajak untuk menengok sejarah peradaban Islam, yang ia menjadi kedalam dua fase: pertumbuhan dan perkembangan, hingga kejatuhan Baghdad pada 1258.

 

Jika duraikan dengan singkat zaman ini terjadi di abad ke 8, fase pertumbuhan hingga keemasan terjadi pada tahun 762 hingga 861 M, dan fase kejatuhannya terjadi di tahun 1258 akibat invasi Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan yang saat itu mengepung Baghdad yang dipimpin oleh Khalifah terakhirnya, Al Mu’tasim Billah.

 

Peristiwa ini begitu tragis sekaligus menandai berakhirnya kekhalifahan Abbasiyah serta hancurnya khazanah dan literatur Islam yang tak ternilai harganya.

 

“Dari abad itulah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam yang keilmuannya melintas. Astronomi, matematika, dan seterusnya, jadi pemikir-pemikir besar lahir di era itu,” ungkap Haedar.

 

Kemudian, ia juga menyinggung terkait keilmuan yang melembaga di zaman itu dimana baitul hikmah adalah satu fase di mana dalam perkembangannya memperoleh proses institusionalisasi lewat lembaga ilmu yang kemudian melatarbelakangi lahirnya universitas dan madrasah. Salah satunya adalah Al Azhar yang lahir tahun 900 an Masehi.

 

“Maka di situ kita bisa melihat bahwa ajaran Islam juga mengalami kelembagaan lewat berbagai institusi keilmuan dan tradisi kelimuan, menulis, dan membaca ini luar biasa hingga melahirnya tokoh-tokoh besar yang sebagian besar karyanya, kitab-kitabnya menjadi masterpiece,” ucapnya.

 

Reformasi Pendidikan dan Arah Kebijakan Bangsa

Keempat, dalam konteks reformasi pendidikan kebangsaan, Haedar memulainya dengan satu pertanyaan mengenai hakikat pendidikan nasional di luar definisi formal.

 

“Kalau saya bertanya, apa sih substansi bahkan hakikat dari pendidikan nasional? Kalau secara umum bisa dibaca UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Tapi apa hakikatnya?” Tanya Haedar.

 

Dalam hal ini ia mengkritisi kecenderungan masyarakat yang selalu menuntut dan mengharapkan prestasi akademik optimum dari peserta didik.

 

“Orang boleh banyak mengatakan, kita semua boleh mengatakan bahwa pendidikan itu harus menyeluruh ya. Harus ada kecerdasan, penguasaan ilmu, karakter, ditambah lagi sekarang teknologi. Tapi pada kenyataanya masyarakat itu selalu menuntut hasil akhir di aspek prestasi akademik,” tegasnya.

 

Menyoroti hal ini ia mengatakan “Selalu mengalami hal patahan dalam setiap rezim”. Bagi Haedar, pergantian kebijakan strategis yang tidak berkelanjutan yang disebabkan oleh pergantian rezim adalah salah satu penyebab pengimplementasian kebijakan yang tidak lancar.

 

“Kalau berhentinya masih menjadi patahan-patahan, enggak nyambung. Kalau setiap periode terjadi patahan yang tidak menjadi mata rantai, sampai kapan usaha mencerdaskan bangsa itu bisa terwujud dalam rumusan kebijakan-kebijakan strategis?” tambah Haedar.

 

Menutup paparannya, Haedar Nashir menekankan bahwa ilmu tidak cukup menjadi sebuah arahan. Tapi harus membumi dalam realitas melalui amal sebagai bagian dari trilogi yaitu iman, ilmu, dan amal.

 

“Karena ilmu tidak cukup menjadi arahan, dia harus bisa membumi di realitasnya lewat amal yang menjadi satu kesatuan trilogi yang disebut iman, ilmu, dan amal,” pungkasnya.

 

Acara peluncuran buku karya Arif Jamali Muis (AJM) ini turut mendapatkan apresiasi penuh dari berbagai tokoh nasional. Hadirnya para tokoh tersebut menunjukkan pentingnya gagasan yang diusung dalam buku AJM untuk reformasi pendidikan Indonesia, serta komitmen bersama dalam memajukan kualitas pendidikan di tanah air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *